BRIN Kembangkan Sistem Transportasi Cerdas Berbasis AI dan Sensor

BRIN Kembangkan Sistem Transportasi Cerdas Berbasis AI dan Sensor
Gambar: Ilustrasi AI. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Ringkasan Berita:

  • Peneliti BRIN mengintegrasikan AI dan sensor canggih untuk membangun ekosistem lalu lintas pintar.
  • Inovasi teknologi ini bertujuan mengurai kemacetan parah dan menekan angka kecelakaan darat.
  • Sinergi komputasi awan dan alat deteksi modern menciptakan mobilitas masyarakat yang lebih aman.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat oleh Artificial Intelligence (AI)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengembangkan sistem transportasi cerdas berbasis kecerdasan buatan. Galih Nugraha Nurkahfi, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi BRIN memimpin proyek inovatif ini. Mereka memperkenalkan teknologi tersebut kepada mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika pada Rabu (17/6).

Oleh karena itu, inovasi ini mengintegrasikan komunikasi dan teknologi sensor ke dalam kendaraan. Sistem pintar ini hadir menjawab berbagai tantangan transportasi konvensional. Berikut adalah beberapa masalah utama yang sistem ini atasi:

  • Mengurai tingkat kemacetan lalu lintas jalan raya.
  • Menurunkan angka kecelakaan berkendara masyarakat.
  • Mengurangi emisi gas rumah kaca harian.

Latar Belakang Pengembangan Kendaraan Pintar

Selanjutnya, Galih menjelaskan berbagai alasan mendasar pengembangan sistem mutakhir ini. Ia menyampaikan fakta penting ini saat mengisi acara kampus tersebut.

“Beberapa faktor yang melatarbelakangi pengembangan ITS antara lain adanya kemacetan dan mobilitas, keselamatan jalan, efisiensi energi dan lingkungan, keterbatasan infrastruktur, teknologi Push, market demand dan perkembangan kendaraan otonom,” ujar Galih pada acara kunjungan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika, Rabu (17/6).

Fungsi Sensor dan Infrastruktur Modern

Selain itu, implementasi sistem ini memanfaatkan alat deteksi pada infrastruktur transportasi darat. Alat canggih ini memantau kondisi jalan raya secara langsung. Peneliti menganalisis informasi tersebut guna mengambil tindakan cepat.

Lebih lanjut, Galih merinci jenis perangkat pantau pada fasilitas publik tersebut.

“Sensor tersebut antara lain sensor deteksi kendaraan, kamera pengawas (CCTV), sensor kecepatan, sensor kepadatan lalu lintas, sensor kualitas udara, sensor cuaca, sensor parkir, hingga sensor kebisingan. Data yang dikumpulkan kemudian diolah untuk memberikan gambaran kondisi lalu lintas secara menyeluruh sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat,” jelas Galih.

Sementara itu, kendaraan modern membutuhkan komponen tambahan seperti LiDAR dan radar. Berbagai alat ini membantu mobil mengenali lingkungan secara otomatis.

“Integrasi berbagai sensor tersebut menjadi pondasi utama dalam pengembangan kendaraan tanpa pengemudi yang aman dan andal,” lanjut Galih.

Dukungan Teknologi Kecerdasan Buatan

Kemudian, pemrosesan informasi ini menggunakan teknologi Mobile Edge Computing (MEC). Sistem komputasi ini memproses data dekat sumber secara kilat. Sebagai dampaknya, pengelola lalu lintas merespons kondisi darurat seketika.

Bahkan, kecerdasan buatan AI turut mengambil peran vital untuk memproses informasi.

“Sementara itu, Cloud Computing menyediakan kemampuan penyimpanan dan analisis data dalam skala besar untuk mendukung perencanaan transportasi jangka panjang serta pengembangan model kecerdasan buatan,” terangnya.

Akhirnya, sinergi teknologi mutakhir ini menciptakan mobilitas masyarakat yang sangat aman. Inovasi ini juga menjaga kelestarian ekosistem hidup secara berkelanjutan.

“Sinergi antara teknologi sensor, komputasi, kecerdasan buatan, dan data science menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem transportasi masa depan yang cerdas, terhubung, dan adaptif terhadap berbagai tantangan global,” pungkas Galih.

Lokasi Berita: JakartaDKI Jakarta
18 Kali Dilihat
Redaksi

Infonesiaku

Jurnalis/Redaktur di infonesiaku.id yang berdedikasi menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya untuk masyarakat Indonesia.

Lihat semua artikel →