Mahasiswa ITB Guncang Dunia, Pakai Sarung Tangan Kontrol Drone

Mahasiswa ITB Guncang Dunia, Pakai Sarung Tangan Kontrol Drone
Mahasiswa ITB Guncang Dunia, Pakai Sarung Tangan Kontrol Drone. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mencatatkan prestasi gemilang di panggung internasional. Jeffrey Sirait (Teknik Dirgantara) dan Manggora Zerah Kristina Simanjuntak (Teknik Material), yang tergabung dalam Tim BUCINPRO, sukses meraih penghargaan dalam Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC), sebuah kompetisi teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) bergengsi.

Keunikan mereka bukan hanya terletak pada status sebagai tim mandiri tanpa dana eksternal, tetapi pada inovasi yang mereka usung: sebuah kontrol drone sarung tangan yang mengubah cara interaksi manusia dengan mesin terbang.

Inovasi Intuitif Berbasis Gerakan Tangan

Ide brilian ini lahir dari proyek tugas akhir Jeffrey yang bertajuk “Pengembangan Controller Berbasis Drone Wearable”. Ia berhasil menciptakan sebuah sarung tangan ramping yang memungkinkan pilot mengendalikan drone hanya dengan gestur dan gerakan tangan alami, sebuah lompatan dari sistem remot konvensional yang mengandalkan joystick dan tombol.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Teknologi di balik sarung tangan ini mengandalkan beberapa komponen kunci yang bekerja secara sinergis:

  • Sensor IMU (Inertial Measurement Unit): Ditanamkan di sarung tangan untuk mendeteksi secara presisi setiap gerakan dan orientasi telapak tangan pilot.
  • Mikrokontroler: Berfungsi sebagai otak sistem, memproses data mentah dari sensor IMU dan input dari tombol-tombol fungsional tambahan.
  • Transmitter: Modul pemancar yang terpasang langsung pada sarung tangan, bertugas mengirimkan perintah yang sudah diproses ke unit drone secara nirkabel.

“Tangan adalah anggota tubuh yang paling sering kita gunakan sehari-hari, sehingga lebih mudah beradaptasi saat digunakan untuk hal baru,” jelas Jeffrey, menyoroti aspek intuitif dari inovasinya.

Perjuangan Melawan Keterbatasan

Perjalanan Tim BUCINPRO menuju podium bukanlah hal yang mudah. Mereka menjadi satu-satunya tim yang menggunakan sarung tangan sebagai pengendali utama di tengah puluhan pesaing yang datang dengan tim besar dan peralatan canggih. Persiapan bahkan dilakukan secara LDR (Long-Distance Relationship), di mana Jeffrey merancang sistem dari Tokyo saat menjalani program pertukaran pelajar, sementara Manggora melakukan perakitan komponen di Bandung.

Pengalaman Jeffrey yang sebelumnya pernah meraih medali di ajang yang sama menjadi bekal berharga. Namun, keraguan tetap muncul. “Apakah dua orang mampu menyaingi mereka (tim besar)? Jawaban kami waktu itu ialah coba saja dulu. Kalau tidak menang pun, sudah puas,” kenang Manggora.

Kemenangan dan Pesan untuk Inovator Muda

Pada hari kompetisi, sistem kontrol drone sarung tangan mereka bekerja tanpa cela. Kemenangan ini terasa lebih manis ketika salah satu tim unggulan justru mengalami kendala teknis dan terdiskualifikasi. Bagi Jeffrey dan Manggora, medali adalah bonus, kepuasan terbesar datang dari pembuktian bahwa ide mereka valid dan sistemnya berfungsi dengan baik di arena kompetitif.

Kisah mereka mengirimkan pesan kuat bagi para mahasiswa dan inovator di Indonesia. “Potensi kita di kancah internasional sangat besar karena ide tidak kalah unggul. Tantangannya ada pada keberanian mencoba,” tutup Jeffrey, mendorong generasi muda untuk tidak takut mewujudkan ide paling unik sekalipun.

Lokasi Berita: BandungJawa Barat
10 Kali Dilihat
Redaksi

Infonesiaku

Jurnalis/Redaktur di infonesiaku.id yang berdedikasi menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya untuk masyarakat Kalimantan Timur.

Lihat semua artikel →