Ringkasan Berita:
- Harga Bitcoin (BTC) merosot ke level $59.000, titik terendah dalam dua tahun, akibat likuidasi posisi long senilai lebih dari $444 juta.
- Data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan dan arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot selama 14 hari beruntun menjadi tekanan jual utama.
- Analis menyoroti adanya rotasi modal dari pasar kripto ke sektor AI sebagai faktor tambahan yang memperlemah sentimen investor.
Pasar aset kripto terguncang hebat setelah harga Bitcoin anjlok secara signifikan, menyentuh level terendah dalam dua tahun di sekitar $59.000 pada Jumat, 5 Juni. Penurunan drastis ini, yang mencatatkan koreksi 6,84% dalam 24 jam menjadi $59.517,46, dipicu oleh kombinasi likuidasi besar-besaran di pasar derivatif, rilis data ekonomi Amerika Serikat yang kuat, serta tekanan jual berkelanjutan dari produk ETF Bitcoin spot.
Analisis Penyebab Harga Bitcoin Turun Drastis
Sejumlah faktor saling terkait menjadi pendorong utama di balik kejatuhan pasar kali ini. Analis menunjuk pada tekanan dari pasar derivatif, arus keluar dana institusional, dan perubahan sentimen akibat data makroekonomi.
Likuidasi Massal dan Arus Keluar ETF
Salah satu penyebab harga Bitcoin turun yang paling langsung adalah likuidasi paksa di pasar berjangka. Data dari CoinGlass mengungkapkan fakta-fakta kunci berikut:
- Total likuidasi di pasar kripto mencapai $549,80 juta dalam satu hari.
- Dari jumlah tersebut, $444,27 juta berasal dari likuidasi posisi long (posisi beli), yang secara otomatis memicu penjualan lebih lanjut dan mempercepat penurunan harga.
- Produk ETF Bitcoin spot mencatatkan 14 sesi arus keluar (outflow) berturut-turut, dengan total aliran dana negatif mendekati $5 miliar, menambah tekanan jual yang signifikan.
CEO Bitget, Gracy Chen, menegaskan bahwa arus keluar dari ETF ini merupakan “faktor krusial dalam pertumpahan darah pasar kripto terbaru”.
Pengaruh Data Ekonomi AS
Kondisi makroekonomi juga memainkan peran penting. Pengaruh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan memberikan sinyal negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data Non-Farm Payrolls bulan Mei 2026 yang melonjak ke 172.000, jauh melampaui estimasi Wall Street sebesar 85.000. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%. Data ini mendorong harga Bitcoin jatuh dari $62.500 ke level $59.000.
BNP Paribas bahkan memprediksi bahwa data pekerjaan yang solid ini membuka peluang bagi The Federal Reserve untuk melakukan sekitar tiga kali kenaikan suku bunga, sebuah kebijakan yang cenderung memperlemah pasar kripto.
Faktor Rotasi Modal ke Sektor AI
Di tengah spekulasi pasar, muncul narasi baru mengenai pergeseran modal. Michael Saylor membantah tuduhan bahwa perusahaannya menjadi penyebab kejatuhan harga. Sebaliknya, ia menyoroti faktor lain dalam analisis pasar kripto saat ini. “Pasar modal sedang mendanai pembangunan AI dalam skala historis: ~$400 miliar selama 6 bulan. ETF Bitcoin telah melihat ~$4 miliar arus keluar sejak 14 Mei, menekan $BTC,” tulis Saylor. Ia menambahkan, “Ini adalah rotasi modal, bukan penurunan nilai Bitcoin. Volatilitas menciptakan peluang.”
Pandangan ini didukung oleh Yoshitaka Kitao, Pimpinan SBI Holdings, yang mencatat bahwa tiga IPO perusahaan AI raksasa (SpaceX, Anthropic, dan OpenAI) kemungkinan besar telah memicu perputaran modal dari aset lain, termasuk kripto.