Sebuah temuan signifikan oleh tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mengungkap keberadaan populasi mangrove langka, Camptostemon philippinensis, di Teluk Balikpapan. Spesies yang masuk dalam daftar terancam punah IUCN ini ditemukan di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Penajam Paser Utara, sebuah area yang berdekatan dengan pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Total sebanyak 527 individu berhasil didata, dengan mayoritas berupa anakan muda. Fakta ini menunjukkan adanya kemampuan regenerasi alami, namun populasinya yang sangat terlokalisasi membuatnya rentan terhadap kerusakan sekecil apa pun.
Lebih dari sekadar penemuan botani, keberadaan mangrove langka Teluk Balikpapan ini memiliki kaitan ekologis yang sangat penting dengan Bekantan (Nasalis larvatus). Peneliti menemukan indikasi kuat bahwa primata berhidung panjang ini menjadikan daun mangrove tersebut sebagai sumber pakan. Jejak gigitan pada daun dan laporan dari nelayan setempat menguatkan dugaan bahwa kelestarian mangrove ini secara langsung berpengaruh pada kelangsungan hidup populasi Bekantan di sekitarnya.
Ancaman Serius di Depan Mata
Sayangnya, masa depan ekosistem unik ini dibayangi oleh berbagai ancaman serius. Menurut peneliti BRIN, Istiana Prihatini, risiko terbesar datang dari aktivitas manusia. Beberapa ancaman utama yang telah teridentifikasi meliputi:
- Alih Fungsi Lahan: Konversi kawasan mangrove untuk pembangunan, termasuk proyek strategis nasional, menjadi ancaman paling langsung.
- Pencemaran Lingkungan: Limbah dari aktivitas industri dan domestik di sekitar teluk dapat merusak kualitas air dan tanah yang vital bagi mangrove.
- Pembalakan Liar: Pengambilan kayu secara ilegal masih menjadi ancaman laten yang dapat merusak struktur hutan mangrove.
Kondisi ini membuat populasi C. philippinensis, yang merupakan benteng pertahanan pesisir dan habitat satwa, berada di ujung tanduk.
Langkah Konservasi Mendesak yang Harus Diambil
Para peneliti menekankan perlunya tindakan konservasi yang cepat dan terintegrasi untuk menyelamatkan ekosistem berharga ini. Beberapa strategi yang direkomendasikan adalah:
- Perlindungan Habitat: Menetapkan status kawasan lindung lokal untuk melindungi area inti dari alih fungsi lahan.
- Restorasi & Rehabilitasi: Memulihkan area mangrove yang terdegradasi untuk memperluas habitat dan meningkatkan jumlah individu.
- Edukasi & Pemberdayaan: Meningkatkan kesadaran masyarakat dan para pemangku kepentingan tentang nilai penting mangrove langka Teluk Balikpapan.
- Konservasi Ex-situ: Mengembangkan perbanyakan tanaman di luar habitat aslinya untuk menjaga keanekaragaman genetik sebagai benteng terakhir melawan kepunahan.
Upaya kolaboratif menjadi kunci untuk menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian biodiversitas yang tak ternilai harganya di gerbang Ibu Kota Nusantara.