Pemandangan ramai motor dan kereta kelinci yang hilir mudik di jalanan Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan, kini menjadi pemandangan biasa setiap akhir pekan. Aktivitas tersebut terpusat di area pujasera sentra makanan dan minuman yang dibangun di sekitar Waduk Sonorejo. Objek wisata yang digadang sebagai ikon baru pariwisata desa ini telah sukses menarik perhatian tidak hanya warga Bojonegoro, Blora, dan Ngawi, tetapi juga pengunjung dari daerah lebih jauh seperti Yogyakarta. Keberadaannya menjadikannya jujugan favorit, mengubah suasana pedesaan menjadi lebih hidup dan dinamis.
Salah satu pengunjung, Eka Mellinia dari Kecamatan Sumberrejo, membagikan kesan pertamanya saat mengunjungi Waduk Sonorejo. “Secara keseluruhan bagus, meski masih ada sedikit sampah. Tapi, tidak sebanyak di tempat wisata lain. Yang paling penting, pilihan makanan dan minumannya sangat ekonomis, sangat terjangkau. Area dekat waduknya juga masih tergolong bersih,” ujar Eka. Ia menambahkan bahwa lokasi ini sangat direkomendasikan sebagai destinasi wisata lokal di Bojonegoro, meskipun ia menyarankan perlunya inovasi lebih lanjut, seperti penambahan wahana air, misalnya sepeda kayuh air, di samping perahu atau bebek pancal yang sudah ada. “Pasti akan lebih ramai lagi, apalagi saat akhir pekan,” harapnya.
Kepala Desa Sonorejo, Sundoko, menjelaskan bahwa visi pengembangan desa wisata ini telah direncanakan sejak tahun 2020 dengan proposal yang masuk ke desa, dan mulai digarap serius sejak 2023 setelah ia menjabat pada akhir 2019. Sundoko menuturkan, awal mula Waduk Sonorejo menjadi viral adalah berkat unggahan media sosial tentang kelezatan “Pecel Pincuk Waduk Sonorejo”. Fenomena ini lantas memicu pembangunan awal seperti Taman Waduk Sonorejo (TWS) dan Angkringan Waduk Sonorejo (AWS), yang kini menjadi daya tarik utama.
Lebih lanjut, desa berencana menciptakan identitas baru dengan tema “Pesona Sonorejo”. Namun, Sundoko mengakui adanya tantangan, terutama karena lokasi waduk berada di lahan Solo Valley, yang mengharuskan bangunan seperti kafe dan warung masih bersifat semi-permanen. Hal ini dikarenakan adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Meski demikian, PKS ini tidak menghalangi upaya maksimalisasi potensi yang ada. Waduk Sonorejo tetap dibuka untuk kegiatan perkemahan (camping) dan outbound, menambah ragam aktivitas yang bisa dinikmati pengunjung.
Daya tarik Wisata Waduk Sonorejo memang tidak main-main. Sundoko mengungkapkan bahwa setiap Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang. “Banyak yang datang dari Cepu dan Blora, karena jaraknya hanya sekitar 4 kilometer dari sana. Ada juga yang datang jauh-jauh dari Ngawi, bahkan Yogyakarta,” jelasnya. Fenomena ini menunjukkan betapa strategis dan menariknya lokasi waduk ini bagi wisatawan regional.
Untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar, Sundoko menambahkan bahwa biaya sewa tempat usaha di sini sangat ekonomis. Bangunan permanen dipatok sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan, sementara untuk pedagang kaki lima seperti penjual pentol atau siomay, mereka hanya ditarik retribusi sekitar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per hari, tanpa biaya sewa lahan. Kebijakan ini tidak hanya meringankan beban pelaku usaha mikro, tetapi juga memastikan geliat ekonomi lokal terus berputar dan berkembang pesat berkat keberadaan Waduk Sonorejo.