Otoritas Prancis pada Senin (1/6/2026) mengonfirmasi telah menangkap 890 orang menyusul kerusuhan suporter PSG yang meluas di Paris dan kota-kota lainnya. Kericuhan massal ini pecah setelah Paris Saint-Germain (PSG) menjuarai final Liga Champions 2026 pada Sabtu (30/5/2026), memicu bentrokan hebat antara pendukung dan aparat keamanan yang mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan properti yang signifikan.
Detail Operasi Penegakan Hukum
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, memaparkan skala operasi dalam wawancara dengan stasiun televisi France Inter. “Kami telah melakukan lebih dari 890 penangkapan. Secara total, itu mencapai 45 persen lebih banyak daripada tahun lalu,” ungkap Nunez, menyoroti skala penangkapan massa di Prancis yang masif. Operasi ini dilancarkan setelah perayaan kemenangan berubah menjadi anarkis.
Nunez juga menambahkan bahwa kekerasan tersebut memakan korban dari pihak aparat. Tercatat, hampir 180 personel penegak hukum mengalami luka-luka saat bertugas, menjadi bukti tingginya tensi bentrokan polisi Prancis dengan para perusuh. Menurut laporan AFP, kericuhan tidak hanya terpusat di Paris, tetapi juga menyebar ke beberapa wilayah lain.
Kronologi Kemenangan Berujung Anarki
Euforia kemenangan PSG di Budapest, Hungaria, dengan cepat berubah menjadi tragedi di negara asal mereka. Perayaan yang seharusnya menjadi momen kebanggaan justru menunjukkan dampak kemenangan PSG yang destruktif dan tak terkendali, menandai tahun kedua klub tersebut menjuarai Liga Champions dengan insiden kelam.
Daftar Insiden Tragis
Berdasarkan laporan resmi otoritas, beberapa insiden paling memilukan selama kerusuhan meliputi:
- Seorang pria tewas ketika mengendarai sepeda motornya di jalan lingkar Paris untuk merayakan kemenangan timnya.
- Adanya laporan serangkaian insiden penusukan dan serangan fisik lainnya di tengah kekacauan massa.
- Puluhan kendaraan pribadi dibakar dan banyak toko di sepanjang jalan dijarah secara masif oleh massa.
Kecaman Keras Presiden Emmanuel Macron
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyampaikan respons ganda. Saat menjamu tim PSG di Istana Elysee pada Minggu (31/5) malam, ia menyebut klub tersebut sebagai “kebanggaan yang luar biasa” bagi Prancis. Namun, ia juga mengecam keras kekerasan yang terjadi.
“Cukup sudah. Kita sudah muak,” tegas Macron dalam pernyataan resminya, menyebut kekerasan tersebut “tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata”.
“Ini bukan sepak bola, ini bukan olahraga, ini bukanlah hal yang kita cintai,” pungkasnya, menggarisbawahi bahwa tindakan anarkistis tersebut telah mencoreng citra olahraga dan tidak dapat ditoleransi.