Empat Inovator Pariwisata Malang Tembus Daftar 50 Pahlawan Lokal Nasional

Empat Inovator Pariwisata Malang Tembus Daftar 50 Pahlawan Lokal Nasional
Empat Inovator Pariwisata Malang Tembus Daftar 50 Pahlawan Lokal Nasional. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Empat inovator pariwisata asal Kabupaten Malang sukses menembus daftar 50 besar nasional dalam ajang Local Hero in Tourism 2026. Penetapan oleh Kementerian Pariwisata pada pekan pertama Juli ini mengapresiasi model pemberdayaan masyarakat yang terbukti efektif menggerakkan ekonomi lokal melalui empat pilar utama: konservasi pesisir, pelestarian budaya, promosi digital, dan agrowisata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando H. Matondang, mengonfirmasi pencapaian tersebut. Ia menyatakan bahwa pemerintah daerah segera memberikan dukungan penuh kepada para delegasi. Menurutnya, metodologi kerja keempat pahlawan lokal ini akan dibedah untuk dijadikan model standar dalam pengembangan desa wisata baru di berbagai wilayah potensial lainnya.

Dari Konservasi Laut hingga Panggung Budaya

Dominasi Malang paling menonjol lewat pencapaian Lia Putrinda Anggawa Mukti, yang berhasil mengamankan posisi lima besar kandidat Wonderful Indonesia Awards 2026. Sebagai inisiator Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Desa Tambakrejo, ia merombak total pesisir yang rusak akibat pembalakan liar menjadi destinasi ekowisata percontohan. Model rehabilitasi mandiri ini sejalan dengan cetak biru pelestarian lingkungan Blue Marine Tourism yang digagas pemerintah pusat.

“Mereka bukan sekadar membangun destinasi fisik, melainkan merakit ulang harapan dan ekonomi masyarakat melalui pariwisata berkelanjutan,” puji Firmando. Keberhasilan CMC Tiga Warna tidak hanya menciptakan sabuk hijau pelindung abrasi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi keluarga nelayan tradisional di pesisir selatan.

Di sisi lain, perjuangan mempertahankan identitas kultural mengantarkan Moch Soleh Adi Pramono ke jajaran pahlawan lokal. Pemimpin Padhepokan Seni Mangun Dharma di Tumpang yang akrab disapa Ki Soleh ini menolak komersialisasi dangkal. Ia justru merevitalisasi pertunjukan Wayang Topeng Malangan dan tari tradisional menjadi paket edukasi sejarah yang menarik bagi wisatawan, memastikan warisan leluhur tetap hidup sekaligus mendanai pembinaan seniman muda.

Manuver Digital dan Agrowisata Terpadu

Keberhasilan di lapangan juga ditopang oleh manuver cerdas di ranah siber oleh Andi Afriansyah. Sebagai eksekutif komunitas Instanusantara Indonesia, ia mengonsolidasikan jaringan fotografer independen untuk melancarkan kampanye visual masif. Ribuan foto lanskap berkualitas tinggi yang disebar melalui platform seperti Instagram terbukti efektif ‘meretas’ algoritma mesin pencari, mengarahkan arus wisatawan ke destinasi alam yang sebelumnya kurang dikenal.

Persaingan ketat dalam seleksi nasional ini turut dimenangkan melalui inovasi tata kelola. Model pengembangan milik Heri Mujiono sukses memikat juri yang menekankan transparansi keuangan dan serapan tenaga kerja lokal. Ia merestrukturisasi Desa Wisata Ampelgading di Tirtoyudo menjadi pusat agrowisata terpadu dari hulu ke hilir.

Konsepnya mengawinkan langsung aktivitas panen di kebun dengan pengalaman gastronomi autentik di dapur warga. Turis, termasuk dari mancanegara, rela membayar lebih untuk merasakan pengalaman memasak dan mengolah pangan tradisional. Siklus bisnis ini secara otomatis mendongkrak pendapatan puluhan pemilik homestay dan UMKM di rantai pasok lokal.

Panitia seleksi sejak awal memprioritaskan program yang memiliki kajian mitigasi risiko ekologi dan daya dukung lingkungan yang terukur. Proposal yang hanya mengejar viralitas media sosial tanpa fundamental kuat langsung ditolak. Daftar 50 besar kandidat unggulan tersebut kini telah diumumkan secara resmi melalui publikasi digital pada saluran media sosial X milik Kementerian Pariwisata.

27 Kali Dilihat