Wastra Nusantara Jadi Gaya Harian Gen Z, Tak Lagi Kaku dan Formal

Wastra Nusantara Jadi Gaya Harian Gen Z, Tak Lagi Kaku dan Formal
Wastra Nusantara Jadi Gaya Harian Gen Z, Tak Lagi Kaku dan Formal. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Wastra Nusantara seperti batik, tenun, dan songket kini tak lagi identik dengan acara formal atau adat. Di tangan Gen Z, kain tradisional ini bertransformasi menjadi pakaian kasual sehari-hari yang mudah dipadukan dengan gaya personal. Tren ini dikonfirmasi oleh Kementerian Perindustrian pada Juli 2026 yang menyebut minat generasi muda terhadap fesyen berbasis wastra terus meningkat.

Perubahan ini bukan datang dari motif baru, melainkan cara padu padan yang lebih kreatif. Outer tenun bisa dipakai bersama kaus polos dan celana jeans, sementara rok batik cocok dipadukan dengan sneakers. Hasilnya, wastra tetap menonjol tanpa terasa kaku seperti kostum acara resmi.

Desain Kasual dan Padu Padan Modern

Generasi Z lebih tertarik pada pakaian yang fleksibel dan bisa diubah sesuai karakter. Mereka cenderung memilih satu bagian wastra, seperti kemeja, outer, atau rok, untuk dijadikan pusat perhatian tanpa harus memakai satu set busana tradisional lengkap. Cara ini memberi ruang lebih besar untuk bereksperimen dengan berbagai gaya, mulai dari streetwear, modest fashion, hingga tampilan minimalis.

Potongan yang sederhana dan kasual, seperti kemeja berukuran longgar (oversized), membuat wastra lebih mudah dipakai untuk berbagai kegiatan, mulai dari ke kampus, kantor, hingga konser. Tren ini juga terlihat dalam acara Modest Style Runway 2026 di Yogyakarta, yang menampilkan 15 desainer dan brand dengan koleksi yang menggabungkan gaya urban, sporty, dan modest fashion dengan batik tulis, ecoprint, hingga tenun.

Media Sosial dan Tantangan Harga

Media sosial memegang peran penting dalam mendorong tren ini. Gen Z banyak menemukan inspirasi dan berbelanja produk wastra melalui video pendek, live shopping, dan marketplace. Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pun meminta para perajin untuk aktif mengelola akun media sosial dan membuat konten yang menarik agar bisa menjangkau pasar anak muda.

Meski begitu, harga masih menjadi tantangan. Wastra buatan tangan yang melalui proses panjang seperti batik tulis atau cap memiliki harga yang sulit bersaing dengan kain printing bermotif batik produksi massal. Edukasi menjadi kunci agar konsumen muda paham perbedaan nilai budaya dan proses di balik setiap produk. Label yang jelas dan cerita tentang proses pembuatan dapat membantu mereka membuat pilihan.

Bukan Sekadar Gaya, tapi Punya Cerita

Selain gaya, Gen Z juga peduli pada cerita di balik produk. Sejumlah anak muda di Batam mengingatkan pentingnya memahami makna di balik setiap motif, karena beberapa kain memiliki kaitan erat dengan acara adat tertentu seperti pernikahan atau kedukaan.

Isu lingkungan juga menjadi nilai tambah. Penggunaan pewarna alami, pemanfaatan kain sisa (patchwork), dan proses kerja perajin yang diceritakan secara jujur dapat menarik minat pembeli. Mereka tidak hanya melihat produk jadi, tetapi juga ingin tahu siapa pembuatnya dan bagaimana proses produksinya.

Minat yang besar ini membuka peluang bagi perajin dan UMKM di daerah. Menurut Dekranasda Kalimantan Barat, penggunaan wastra sebagai gaya hidup dapat memperluas pasar serta mendorong peningkatan kualitas dan produksi lokal. Secara nasional, nilai ekspor produk batik Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 30,62 juta dolar AS, naik 13,03 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 26,63 juta dolar AS.

24 Kali Dilihat