Cara Jalur Khusus Lansia Amankan Jamaah Haji di Terminal Ajyad

Cara Jalur Khusus Lansia Amankan Jamaah Haji di Terminal Ajyad
Cara Jalur Khusus Lansia Amankan Jamaah Haji di Terminal Ajyad. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Manajemen kerumunan atau crowd control menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji, terutama setelah selesainya waktu shalat berjamaah di Masjidil Haram. Lonjakan pergerakan jamaah haji sering kali memicu penumpukan masif, seperti yang terjadi di Terminal Ajyad Makkah. Untuk merespons situasi ini dan menjamin keselamatan, otoritas transportasi menerapkan jalur khusus lansia dan pengguna kursi roda.

Strategi Cerdas Mengurai Kepadatan Pasca Shalat

Volume jamaah haji, khususnya asal Indonesia yang bermukim di kawasan Misfalah, mengalami puncaknya pada rentang pukul 20.50 hingga 21.50 Waktu Arab Saudi (WAS). Ribuan jamaah antre untuk menaiki bus shalawat rute 16 hingga 21. Dalam situasi berdesakan, risiko kelelahan fisik dan kecelakaan sangat tinggi bagi kelompok rentan.

Merespons dinamika tersebut, petugas transportasi di lapangan bertindak proaktif dengan memisahkan arus pergerakan. Penerapan jalur khusus lansia terbukti efektif meminimalisasi risiko terinjak atau terjatuh akibat dorongan dari kerumunan jamaah yang lebih muda dan bertenaga.

Sistem Keamanan Terpadu di Terminal Ajyad

Muhammad Rif’at Sitorus selaku Kepala Pos (Kapos) Terminal Ajyad menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas pejalan kaki mutlak diperlukan. Terminal ini memiliki karakteristik unik, yakni luas area yang lebih sempit dibandingkan Terminal Syib Amir atau Jabal Ka’bah, serta hanya memiliki satu akses utama untuk keluar-masuk kendaraan dan manusia.

Untuk menyiasati keterbatasan ruang tersebut, pengelola memberlakukan skema pintu buka-tutup. Pintu 3A secara definitif dialokasikan sebagai gerbang prioritas bagi jamaah lanjut usia serta mereka yang berisiko tinggi (risti) secara medis.

Langkah Preventif dan Peningkatan Layanan Transportasi

Berdasarkan evaluasi penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya, ketiadaan pagar pembatas koridor kerap memicu insiden fatal. Oleh karena itu, pengadaan fasilitas prioritas dan penambahan armada dilakukan secara terukur. Berikut adalah beberapa langkah krusial yang diimplementasikan:

  • Penambahan Armada Bus: Kapasitas transportasi ditingkatkan secara bertahap dari 109 unit menjadi total 140 bus untuk melayani enam rute keberangkatan menuju pemondokan Misfalah.
  • Penebalan Personel Pengamanan: Jumlah petugas lapangan ditambah dari 17 menjadi 25 orang yang bersiaga dalam tiga shift kerja, terutama saat jam sibuk.
  • Penerapan Sistem Buka-Tutup: Mencegah penumpukan tak terkendali di area tunggu bus yang berpotensi membahayakan sirkulasi pernapasan jamaah.

Dengan adanya evaluasi berkelanjutan serta optimalisasi jalur khusus lansia, diharapkan jamaah haji Indonesia dapat beribadah dengan tenang, aman, dan nyaman tanpa perlu mengkhawatirkan akses transportasi saat kembali ke hotel.

Lokasi Berita: DKI Jakarta
18 Kali Dilihat
Redaksi

Infonesiaku

Jurnalis/Redaktur di infonesiaku.id yang berdedikasi menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya untuk masyarakat Kalimantan Timur.

Lihat semua artikel →