Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Dari Rutinitas Sehari-hari

Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Dari Rutinitas Sehari-hari
Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak Dari Rutinitas Sehari-hari. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Cara menjaga kesehatan mental anak tidak selalu dimulai dari pembicaraan yang berat. Perhatian sederhana, rasa aman di rumah, waktu bermain, tidur yang cukup, dan kesempatan untuk menyampaikan perasaan dapat membantu anak menghadapi tekanan sehari-hari.

Kesehatan mental memengaruhi cara anak merasakan sesuatu, mengatur emosi, belajar, bermain, berbicara, dan berhubungan dengan orang lain. Rasa takut, sedih, marah, atau kecewa sesekali masih menjadi bagian normal dari tumbuh kembang. Perhatian lebih dibutuhkan ketika perubahan tersebut berlangsung lama, semakin berat, atau mulai mengganggu kegiatan di rumah, sekolah, dan lingkungan bermain.

WHO menyebut masa kanak-kanak dan remaja sebagai tahap penting dalam perkembangan mental karena kemampuan berpikir, bersosialisasi, dan mengelola emosi sedang tumbuh dengan cepat. Lingkungan keluarga, sekolah, dan pergaulan dapat ikut membentuk cara anak menghadapi masalah pada masa berikutnya.

Biasakan Anak Bercerita Tanpa Takut Diadili

Anak tidak selalu mampu menjelaskan perasaannya dengan kata yang jelas. Rasa cemas bisa terlihat sebagai marah, sulit tidur, menangis, menghindari sekolah, sakit perut, atau menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Orang tua dapat membuka percakapan melalui kegiatan sehari-hari, seperti saat makan, dalam perjalanan, atau ketika melakukan pekerjaan rumah bersama. Pertanyaan sederhana seperti “Hari ini ada yang membuat kamu senang atau tidak nyaman?” biasanya terasa lebih ringan daripada langsung menanyakan apakah anak sedang memiliki masalah mental.

Saat anak mulai bercerita, dengarkan sampai selesai sebelum memberi nasihat. Hindari langsung membantah, menyalahkan, membandingkan dengan anak lain, atau mengatakan bahwa masalahnya sepele. UNICEF menyarankan orang tua mendengarkan secara aktif, menghargai pendapat anak, dan menunjukkan bahwa perasaannya dipahami.

Orang tua tidak harus selalu memiliki jawaban. Kalimat seperti “Ayah dan Ibu belum tahu solusinya, tapi kita bisa mencari jalan bersama” dapat membuat anak merasa tidak menghadapi masalah sendirian.

Ciptakan Rutinitas yang Memberi Rasa Aman

Rutinitas membantu anak memahami apa yang akan terjadi dalam kesehariannya. Jadwal tidur, waktu makan, belajar, bermain, dan istirahat yang cukup teratur dapat memberi rasa aman, terutama ketika anak sedang menghadapi perubahan di sekolah atau rumah.

Rutinitas tidak perlu dibuat terlalu ketat. Beri ruang untuk perubahan saat anak sedang sakit, lelah, mengikuti kegiatan sekolah, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan sesuatu.

Tidur memiliki peran penting dalam kesehatan mental. WHO memasukkan pola tidur yang sehat, olahraga rutin, kemampuan menyelesaikan masalah, dan keterampilan mengatur emosi sebagai kebiasaan yang mendukung kesehatan mental remaja.

Orang tua juga dapat memperhatikan penggunaan handphone dan media sosial, terutama menjelang tidur. Buat aturan yang berlaku untuk seluruh keluarga, bukan hanya anak. Anak akan sulit menerima larangan bermain handphone saat orang dewasa di rumah terus melihat layar ketika makan atau mengobrol.

Berikan Waktu Bermain dan Bergerak

Bermain bukan sekadar pengisi waktu. Melalui permainan, anak belajar bekerja sama, mengatasi rasa kecewa, menggunakan imajinasi, menyelesaikan masalah, dan menyampaikan emosi dengan cara yang sesuai usianya.

UNICEF menyebut bermain bersama orang tua dapat memperkuat hubungan dan mendukung kesehatan mental anak. Kegiatannya tidak harus mahal. Menggambar, memasak, bermain bola, menyusun balok, membaca cerita, atau berjalan di sekitar rumah dapat menjadi kesempatan untuk terhubung.

Anak juga membutuhkan waktu tanpa target prestasi. Tidak semua kegiatan harus menghasilkan nilai, sertifikat, atau pencapaian. Waktu santai membantu anak beristirahat dari tuntutan sekolah dan kegiatan tambahan.

Bantu Anak Mengenali dan Mengelola Emosi

Anak perlu mengetahui bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan. Marah boleh, memukul orang lain tidak. Kecewa boleh, merusak barang bukan cara yang aman untuk meluapkannya.

Orang tua dapat membantu memberi nama pada emosi yang sedang muncul. Misalnya, “Kamu terlihat kecewa karena tidak terpilih” atau “Kamu mungkin gugup menghadapi ujian besok.” Anak yang mampu mengenali perasaan biasanya lebih mudah belajar cara menanganinya.

Ajarkan pilihan sederhana sesuai usia, seperti menarik napas perlahan, minum air, menulis perasaan, menggambar, berjalan sebentar, mendengarkan musik, atau meminta waktu untuk menenangkan diri. Jangan menunggu anak sedang marah besar untuk mengenalkan cara tersebut.

Orang tua juga menjadi contoh. Mengakui kesalahan, meminta maaf, beristirahat saat lelah, dan menyampaikan emosi tanpa berteriak menunjukkan bahwa mengelola perasaan adalah hal yang bisa dipelajari.

Jangan Membandingkan Anak

Perbandingan dengan saudara, teman sekolah, atau anak lain dapat membuat anak merasa dirinya hanya dihargai ketika mampu memenuhi standar tertentu. Kalimat yang dimaksudkan sebagai motivasi kadang justru membuat anak malu, takut gagal, atau memilih menyembunyikan kesulitannya.

Fokuskan perhatian pada usaha dan perkembangan anak. Daripada mengatakan “Kenapa nilaimu tidak seperti temanmu?”, orang tua bisa bertanya bagian mana yang terasa sulit dan bantuan apa yang dibutuhkan.

Pujian juga sebaiknya tidak hanya diberikan untuk hasil akhir. Keberanian mencoba, kemampuan mengakui kesalahan, sikap baik kepada orang lain, dan usaha menyelesaikan tugas layak mendapat perhatian.

Perhatikan Perubahan yang Berlangsung Lama

Perubahan suasana hati selama beberapa hari belum tentu menunjukkan gangguan kesehatan mental. Anak dapat menjadi lebih sensitif ketika kurang tidur, bertengkar dengan teman, menghadapi ujian, atau mengalami perubahan di rumah.

Namun, orang tua perlu memberi perhatian jika perubahan berlangsung terus, semakin berat, atau mengganggu kegiatan sehari-hari. Tanda yang dapat terlihat antara lain:

  • menarik diri dari keluarga dan teman;
  • tidak lagi tertarik pada kegiatan yang biasanya disukai;
  • perubahan besar pada pola tidur atau makan;
  • sering mengeluh sakit kepala atau sakit perut tanpa penyebab yang jelas;
  • nilai sekolah atau kemampuan belajar turun secara tiba-tiba;
  • terlihat sangat cemas, mudah marah, atau sedih dalam waktu lama;
  • sering merasa tidak berharga atau menyalahkan diri sendiri;
  • melukai diri atau membicarakan keinginan untuk mati.

NHS mencantumkan perubahan perilaku yang besar, kesulitan tidur berkepanjangan, menjauh dari lingkungan sosial, kehilangan minat, serta tindakan menyakiti diri sebagai tanda anak mungkin sedang mengalami kesulitan.

Gejala juga dapat berbeda berdasarkan usia. Anak kecil yang cemas mungkin menjadi lebih lengket kepada orang tua, mudah menangis, mengalami mimpi buruk, atau kembali mengompol. Anak yang lebih besar dapat sulit berkonsentrasi, menghindari kegiatan, atau sering merasa khawatir.

Cari Bantuan Saat Anak Membutuhkannya

Orang tua tidak perlu menunggu sampai masalah menjadi berat untuk berkonsultasi. Guru, konselor sekolah, dokter anak, psikolog, atau psikiater dapat membantu menilai perubahan yang dialami anak dan menentukan langkah berikutnya.

Beritahu anak bahwa mencari bantuan bukan hukuman dan bukan berarti dirinya bermasalah. Jelaskan bahwa tenaga profesional membantu orang memahami pikiran, perasaan, dan kesulitan yang sedang dihadapi.

Jika anak mengatakan ingin menyakiti diri, ingin mati, atau tidak ingin hidup lagi, tanggapi dengan serius. Jangan meninggalkannya sendirian, jauhkan benda yang dapat digunakan untuk melukai diri, dan segera cari pertolongan melalui layanan darurat atau fasilitas kesehatan terdekat.

Hubungan yang hangat dan suportif dengan orang tua atau pengasuh menjadi salah satu faktor penting yang membantu menjaga kesehatan mental anak dan remaja.

16 Kali Dilihat