Banyak yang mengira anak bertubuh pendek pasti karena faktor keturunan atau kekurangan gizi. Meski kedua hal itu bisa berpengaruh, penyebabnya sering kali lebih kompleks dan tidak bisa dinilai hanya dengan membandingkan tinggi badan anak dengan teman sebayanya.
Faktanya, gangguan hormon, penyakit kronis, kelainan tulang, hingga kondisi bawaan juga dapat membuat pertumbuhan tinggi badan melambat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendefinisikan perawakan pendek sebagai kondisi tinggi badan di bawah persentil ketiga pada kurva pertumbuhan. Namun, angka ini hanyalah titik awal untuk pemeriksaan lebih lanjut. (sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia)
Beda Anak Pendek dengan Stunting
Penting untuk dipahami, tidak semua anak pendek berarti mengalami stunting. IDAI menekankan pembedaan ini agar anak tidak mendapat diagnosis atau penanganan yang keliru. (sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia)
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial. (sumber: WHO)
Di sisi lain, ada anak yang tubuhnya pendek tetapi sepenuhnya sehat. Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain:
- Perawakan pendek dalam keluarga: Anak memiliki tinggi di bawah rata-rata karena orang tuanya juga tidak tinggi, tetapi laju pertumbuhannya tetap normal dan stabil di kurva pertumbuhan.
- Keterlambatan pertumbuhan dan pubertas: Anak terlihat lebih pendek dari teman-temannya di masa sekolah karena lonjakan pertumbuhannya datang lebih lambat. Namun, mereka biasanya akan mengejar ketertinggalan saat pubertas dimulai.
Waspadai Gangguan Hormon dan Penyakit
Pertumbuhan tinggi badan sangat dipengaruhi oleh kerja hormon dan kesehatan organ. Anak bisa saja mendapat asupan gizi yang cukup, tetapi pertumbuhannya terhambat jika tubuhnya sedang melawan penyakit tertentu.
Beberapa kondisi medis yang dapat menghambat pertumbuhan menurut Pediatric Endocrine Society antara lain:
- Gangguan hormon: Kekurangan hormon pertumbuhan, gangguan kelenjar tiroid, atau produksi hormon kortisol yang berlebihan. Penggunaan obat steroid dosis tinggi dalam waktu lama juga bisa berpengaruh.
- Penyakit kronis: Penyakit jantung, ginjal, anemia, penyakit celiac, dan radang usus.
- Kondisi genetik: Sindrom Turner, sindrom Noonan, dan sindrom Silver-Russell.
- Faktor lain: Riwayat lahir kecil untuk usia kehamilan yang tidak mengalami pertumbuhan kejar, serta efek samping pengobatan seperti kemoterapi. (sumber: Pediatric Endocrine Society)
Jika anak mengonsumsi obat tertentu, orang tua tidak disarankan menghentikannya sendiri. Selalu diskusikan manfaat, dosis, dan kemungkinan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dengan dokter yang merawat.
Pola Pertumbuhan Lebih Penting dari Satu Pengukuran
Satu kali pengukuran tinggi badan tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi anak. Tinggi badan perlu diukur secara berkala dan dicatat pada kurva pertumbuhan yang sesuai dengan usia dan jenis kelamin, seperti yang disediakan oleh WHO. (sumber: WHO)
Kurva ini membantu dokter melihat pola pertumbuhan dari waktu ke waktu. Anak yang laju pertumbuhannya melambat atau turun dari jalur persentilnya mungkin memerlukan perhatian lebih.
Orang tua perlu waspada jika pertumbuhan anak jauh lebih lambat dari sebelumnya, tinggi badannya makin jauh dari potensi tinggi keluarga, atau pubertas tidak kunjung datang. Keluhan seperti diare berulang, sakit perut, mudah lelah, sesak, atau sering sakit juga perlu disampaikan ke dokter.
Saat konsultasi, dokter akan menilai riwayat pertumbuhan, tinggi orang tua, pola makan, dan tanda-tanda lain. Oleh karena itu, catatan tinggi badan dari posyandu, sekolah, atau buku kesehatan anak sebaiknya dibawa. Rangkaian data ini jauh lebih berguna bagi dokter daripada satu angka tinggi badan yang baru diukur pada hari pemeriksaan.