Sering Boros? Ini 4 Kesalahan Belanja Online yang Bikin Anggaran Jebol

Sering Boros? Ini 4 Kesalahan Belanja Online yang Bikin Anggaran Jebol
Sering Boros? Ini 4 Kesalahan Belanja Online yang Bikin Anggaran Jebol. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Belanja online memang praktis, tapi kemudahannya sering membuat pengeluaran membengkak tanpa disadari. Jarak antara keinginan dan pembelian semakin pendek berkat aplikasi yang mudah diakses dan pembayaran sekali klik. Akibatnya, barang bisa langsung dibayar sebelum kita sempat berpikir apakah produk itu benar-benar dibutuhkan.

Masalah baru terasa ketika banyak transaksi kecil terkumpul di akhir bulan dan jumlahnya jauh melewati anggaran. Menurut Consumer Financial Protection Bureau, banyak orang sebenarnya ingin mengatur pengeluaran, tetapi tetap belanja lebih banyak dari rencana karena anggaran jarang diperiksa saat akan checkout. Informasi pengeluaran yang terlihat langsung dinilai dapat membantu menahan belanja impulsif.

1. Tergoda Promo, Belanja Jadi Lebih Banyak

Diskon memang bisa menghemat uang jika barang yang dibeli sudah masuk dalam rencana. Namun, promo justru sering menambah pengeluaran saat kita mulai memasukkan produk lain hanya demi mendapat gratis ongkir, cashback, atau potongan harga dengan syarat belanja minimum.

Misalnya, seseorang yang awalnya hanya ingin membeli barang seharga Rp70 ribu bisa saja menambah isi keranjang hingga Rp150 ribu demi mengejar voucher Rp20 ribu. Meskipun ada potongan, total uang yang keluar tetap lebih besar dari rencana awal.

Selain itu, jangan mudah tergiur label diskon besar tanpa memeriksa harga aslinya. Bandingkan harga dengan toko lain dan lihat riwayat harga jika fiturnya tersedia. Promo seperti flash sale dengan hitungan mundur juga dirancang agar keputusan terasa mendesak. Sebelum checkout, coba tanyakan pada diri sendiri: “Apakah barang ini tetap akan saya beli jika tidak ada diskon?” Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar Anda hanya terbujuk promo.

2. Biaya Tersembunyi dan Jebakan “Dark Pattern”

Harga yang tertera di halaman produk belum tentu menjadi biaya akhir. Ongkos kirim, biaya layanan, asuransi, dan pilihan tambahan lainnya sering kali baru muncul di halaman pembayaran. Taktik menyembunyikan atau menunda informasi penting ini disebut dark pattern oleh Federal Trade Commission (FTC).

Pola ini juga bisa berupa pilihan tambahan yang sudah dicentang otomatis atau informasi yang dibuat kurang terlihat untuk mendorong pengguna mengambil keputusan yang lebih menguntungkan penjual. Dalam pemeriksaan terhadap 642 website dan aplikasi pada 2024, FTC menemukan hampir 76 persen di antaranya memiliki setidaknya satu pola yang berpotensi termasuk dark pattern.

Karena itu, selalu periksa total biaya yang akan dipotong dari rekening atau e-wallet, bukan hanya subtotal barang. Hapus pilihan tambahan yang tidak perlu dan pastikan tidak ada langganan otomatis yang ikut aktif.

3. Ilusi Murah dari Cicilan Paylater

Layanan paylater atau buy now, pay later (BNPL) dapat membuat produk mahal terasa lebih terjangkau karena aplikasi lebih menonjolkan nilai cicilan per bulan daripada total harga. Barang seharga Rp1,2 juta terasa ringan saat dipecah menjadi cicilan Rp200 ribu, padahal kewajiban utang tetap ada sampai lunas.

Masalah biasanya muncul ketika beberapa cicilan berjalan bersamaan. Total tagihan bulanan bisa membengkak dan mengambil porsi besar dari pendapatan. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BNPL adalah pembiayaan untuk pembelian barang atau jasa secara nontunai. Aturan yang akan diterbitkan pada Desember 2025 mewajibkan penyelenggara memberi informasi yang jelas soal jumlah dan frekuensi cicilan agar konsumen sadar akan keputusannya.

Sebelum memakai paylater, perhatikan total pembayaran sampai lunas, bukan hanya cicilan pertama. Periksa juga bunga, biaya layanan, dan total tagihan lain yang sudah berjalan.

4. Mengabaikan Transaksi Kecil yang Menumpuk

Pengeluaran besar biasanya mudah diingat, tetapi pesanan kecil seperti aksesori, makanan, skincare, atau item game sering dianggap sepele dan jarang dicatat. Padahal, jika dijumlahkan, transaksi-transaksi inilah yang sering membuat anggaran bocor.

Melihat riwayat transaksi hanya saat saldo menipis membuat koreksi datang terlambat. Sebaiknya, catat setiap pengeluaran saat pesanan dibuat, baik yang dibayar dengan e-wallet, kartu kredit, maupun paylater.

Gunakan fitur wishlist atau keranjang sebagai tempat menunda keputusan, bukan daftar belanja yang harus segera dibayar. Simpan produk di sana setidaknya selama 24 jam, lalu tinjau kembali saat keinginan impulsif sudah mereda. Sebelum menekan tombol bayar, bandingkan total checkout dengan sisa anggaran yang tersedia untuk bulan ini.

15 Kali Dilihat