Sungai Mahakam Surut, Harga Gas Elpiji di Pedalaman Kaltim Tembus Rp90 Ribu

Debit Sungai Mahakam Surut Drastis, Pasokan Logistik Terputus dan Sembako di Hulu Meroket
Sungai Mahakam Surut, Harga Gas Elpiji di Pedalaman Kaltim Tembus Rp90 Ribu. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Surutnya debit air Sungai Mahakam akibat kemarau panjang dalam tiga pekan terakhir melumpuhkan jalur transportasi utama menuju wilayah pedalaman Kalimantan Timur. Kondisi ini memutus rantai pasok logistik dan memicu kelangkaan bahan kebutuhan pokok di kawasan hulu, khususnya Kabupaten Mahakam Ulu dan sebagian Kutai Barat, dengan lonjakan harga komoditas mencapai lebih dari dua kali lipat.

Sungai Mahakam yang membentang sepanjang 920 kilometer merupakan jalur urat nadi pengiriman barang bagi masyarakat pedalaman. Saat ini, puluhan kapal motor pengangkut logistik berkapasitas 50 hingga 100 ton dari Samarinda tertahan di hilir karena ketinggian muka air di kawasan riam berbatu menyusut hingga di bawah batas aman pelayaran.

Daftar Lonjakan Harga Sembako di Kawasan Hulu Mahakam

Berdasarkan hasil pantauan di sejumlah pasar tradisional kawasan Ujoh Bilang dan Long Bagun, stok komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, gula, dan gas elpiji 3 kg mulai menipis drastis. Pedagang terpaksa mengalihkan pengangkutan menggunakan perahu kecil bermesin tempel (ketinting) dengan biaya operasional tinggi, yang berdampak langsung pada kenaikan harga jual eceran.

Komoditas Harga Normal Harga Saat Debit Surut Kenaikan
Beras Medium (per kg) Rp16.000 Rp25.000 +56%
Gas LPG 3 Kg (per tabung) Rp35.000 Rp85.000 – Rp90.000 +142%
Minyak Goreng Kemasan (per liter) Rp18.000 Rp28.000 +55%
Telur Ayam Ras (per piring/30 butir) Rp65.000 Rp100.000 – Rp110.000 +61%
Gula Pasir (per kg) Rp18.000 Rp26.000 +44%

Kesaksian Nahkoda: Riam Udang dan Riam Haloq Tak Bisa Dilintasi

Kondisi paling kritis berada di perlintasan riam berbatu hulu Mahakam. Hendra (44), nahkoda kapal barang rute Samarinda–Long Bagun, menuturkan bahwa kapalnya terpaksa bersandar darurat di dermaga transit Kecamatan Tering, Kutai Barat, karena elevasi air di Riam Udang dan Riam Haloq menyisakan tonjolan batu cadas yang berbahaya bagi lambung kapal.

“Kalau dipaksakan lewat riam saat air dangkal seperti sekarang, risiko lambung kapal pecah sangat tinggi. Satu-satunya solusi adalah melansir muatan sedikit demi sedikit pakai perahu ketinting kecil, tetapi kapasitasnya terbatas dan biaya bahan bakarnya sangat mahal,” ujar Hendra.

Pemerintah Daerah Siapkan Skema Subsidi Ongkos Angkut Darurat

Menanggapi potensi krisis pangan yang meluas, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) bersama Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur mulai mengkaji skema darurat distribusi logistik melalui jalur darat perintis dan penerbangan kargo bersubsidi.

Pemerintah daerah mengupayakan penyaluran beras cadangan pemerintah dan kebutuhan pokok melalui program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) guna menekan lonjakan harga di tingkat konsumen.

“Kami berkoordinasi intensif dengan Bulog dan Pemkab Mahakam Ulu untuk menyalurkan logistik pangan melalui jalur darat koridor Kutai Barat–Mahakam Ulu menggunakan armada kendaraan 4×4. Intervensi pasar dan bantuan ongkos angkut ini disiapkan agar disparitas harga tidak semakin membebani masyarakat,” jelas perwakilan Disperindagkop Kaltim dalam keterangan resminya.

Prakiraan BMKG dan Urgensi Jalur Logistik Permanen

Stasiun Meteorologi BMKG Kalimantan Timur memprakirakan bahwa wilayah hulu masih berada dalam fase puncak musim kemarau dengan intensitas curah hujan rendah di area tangkapan air hulu sungai. Kondisi debit air rendah ini diprediksi masih bertahan dalam beberapa pekan ke depan.

Peristiwa musiman ini kembali menegaskan pentingnya percepatan penyelesaian pembangunan infrastruktur jalan darat poros penghubung antar-kabupaten di pedalaman Kalimantan Timur. Akses darat yang memadai dinilai menjadi solusi jangka panjang agar ketergantungan pasokan sembako masyarakat hulu tidak rentan lumpuh saat terjadi fluktuasi debit air sungai.

Sumber Data: Laporan Pemantauan Disperindagkop Kaltim, Stasiun Meteorologi BMKG, dan Wawancara Pelaku Transportasi Sungai.

53 Kali Dilihat