Ilmuwan Kembangkan Proyek Pencerahan Awan Laut untuk Redam Super El Nino 2026

Ilmuwan Kembangkan Proyek Pencerahan Awan Laut untuk Redam Super El Nino 2026
Ilmuwan Kembangkan Proyek Pencerahan Awan Laut untuk Redam Super El Nino 2026. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Tim peneliti iklim internasional tengah merancang intervensi rekayasa cuaca skala besar untuk meredam potensi Super El Nino pada 2026. Proyek yang disebut pencerahan awan laut ini bertujuan menyemprotkan partikel garam ke atmosfer Pasifik untuk memantulkan radiasi matahari, mencegah lonjakan suhu ekstrem yang mengancam ketahanan pangan dan memicu kekeringan parah di Asia Tenggara.

Langkah radikal ini didorong oleh trauma kerugian ekonomi akibat siklus El Nino ekstrem sebelumnya. Peristiwa pada 1997 dan 2015 tercatat memicu gagal panen massal dan melumpuhkan logistik pelayaran, mengakibatkan kerugian finansial yang menembus belasan triliun Rupiah di Indonesia saja. Ancaman terulangnya skenario serupa memaksa para ilmuwan mencari jalan pintas untuk mendinginkan lautan tanpa harus menunggu efektivitas program penurunan emisi karbon global.

Secara teknis, metode pencerahan awan laut ini terinspirasi dari fenomena alam yang tidak terduga. Kebakaran hutan masif di Australia beberapa tahun lalu melepaskan hampir satu juta metrik ton asap ke atmosfer. Partikel sisa pembakaran ini menyebar hingga lapisan stratosfer dan bertindak sebagai pemantul sinar matahari. “Partikel reflektif dalam kepulan asap tersebut terbukti secara empiris berkontribusi memicu fenomena langka triple-dip La Nina di sistem iklim global,” beber tim riset dalam rilisnya.

Meniru mekanisme tersebut, proyek ini akan mengerahkan armada kapal nirawak bertenaga surya. Kapal-kapal ini akan berlayar ke titik kumpul awan stratokumulus di lautan bebas, kemudian menyemprotkan partikel mikroskopis garam laut ke udara. Partikel garam ini berfungsi sebagai inti kondensasi, memaksa uap air berkumpul dan membentuk awan yang jauh lebih padat dan tebal. Kepadatan tetesan air yang meningkat drastis ini akan mendongkrak tingkat albedo atau daya pantul awan, memblokir radiasi panas matahari sebelum mencapai permukaan laut.

Ancaman Kekeringan dan Peringatan BRIN

Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memetakan dampak serius dari anomali suhu Pasifik. Pemanasan ini menggeser pusat pembentukan awan hujan dari wilayah maritim Indonesia ke Pasifik Tengah. Fenomena tersebut secara drastis menguras volume curah hujan domestik dan merusak siklus hidrologi nasional.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, mendokumentasikan bahwa peluang terjadinya musim kemarau yang jauh lebih panjang kini menembus probabilitas 81 persen. Sejumlah wilayah agrikultur vital seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, hingga pusat ekonomi Kota Bandung telah masuk dalam daftar zona merah potensi kekeringan ekstrem. Puncak krisis air diprediksi terjadi pada Agustus, memaksa pemerintah daerah merombak skema irigasi untuk menyelamatkan panen padi.

Meski menjanjikan, eksekusi rekayasa cuaca ini penuh risiko. Keberhasilannya bergantung pada kalibrasi waktu yang sangat presisi. Injeksi aerosol harus dilakukan tepat saat anomali suhu di Pasifik baru mulai terbentuk. Penundaan intervensi lebih dari dua minggu justru berisiko merusak sirkulasi angin pasat global secara permanen atau bahkan memerangkap panas di bawah atmosfer.

Keandalan metode ini pun masih diuji melalui simulasi superkomputer. Model iklim digital saat ini belum mampu memetakan seluruh efek domino dari modifikasi cuaca artifisial terhadap ekosistem di benua lain. Validasi lapangan masih menjadi tantangan terbesar. Total peluang pembentukan kejadian El Nino tingkat moderat pada perairan ekuator menjelang penutupan tahun bertengger konstan di angka 27 persen.

30 Kali Dilihat