Gelombang kecerdasan buatan (AI) secara masif menggantikan peran aktor di industri hiburan China, memicu krisis pengangguran sepanjang kuartal pertama 2026. Dominasi teknologi generatif ini memangkas drastis biaya dan waktu produksi, khususnya pada segmen micro-drama, memaksa ratusan seniman peran beralih profesi menjadi pekerja kasar demi menyambung hidup.
Pukulan terberat dirasakan oleh Hengdian World Studios, fasilitas studio raksasa yang dijuluki sebagai Hollywood-nya Asia. Data industri menunjukkan pemesanan aktor latar di sana anjlok hingga 37 persen. Seiring dengan itu, standar honor untuk talenta pendatang baru juga dipotong tajam sebesar 40 persen. Mayoritas rumah produksi, terutama skala menengah ke bawah, kini secara terbuka mendepak aktor manusia dan beralih ke pangkalan data wajah digital untuk menekan biaya operasional harian.
Pergeseran ini paling kentara pada segmen micro-drama atau drama vertikal yang merajai platform digital Tiongkok. Buku putih industri audiovisual nasional mengungkap fakta mengejutkan. Lebih dari 95 persen dari total 128.000 judul micro-drama yang rilis pada awal tahun ini digarap sepenuhnya menggunakan sistem otomasi AI. “Proyek serial pendek yang biasanya membutuhkan waktu syuting dua bulan kini bisa dirender dan diselesaikan kurang dari dua pekan,” terang CEO Kemeng Intelligence Technology, Xiong Binghui. Efisiensi tersebut membuat biaya produksi menyusut drastis di kisaran 70 hingga 80 persen.
Kecepatan dan biaya rendah sistem AI menelan korban para pekerja di garda depan industri. Zhang Xiaolei, aktor berusia 28 tahun asal Qinghai, harus pulang kampung untuk bertani setelah rentetan proyek syuting fisiknya dibatalkan mendadak oleh studio. Padahal, sebelumnya ia bisa nyaman mengantongi pendapatan 30.000 yuan per bulan. Nasib serupa dialami Xu Peng, aktor yang wajahnya dulu rutin menghiasi layar handphone jutaan penonton drama vertikal. Kini, ia banting setir berjualan sayuran segar setelah posisinya digusur pemeran artifisial. Mereka tersingkir oleh algoritma.
Komersialisasi Wajah dan Kloning Identitas Digital
Disrupsi teknologi generatif tidak berhenti pada eliminasi peran fisik di lokasi syuting. Tren ini berekspansi ke ranah yang lebih personal, yakni komodifikasi identitas biologis. Platform streaming raksasa iQIYI, misalnya, menginisiasi peluncuran Nadou Pro. Ini adalah sebuah sistem pangkalan data yang secara agresif mengumpulkan lisensi wajah dan suara dari lebih dari seratus seniman peran papan atas.
Skema korporasi ini memungkinkan studio film merancang “aktor ganda digital” untuk serial fantasi atau fiksi ilmiah tanpa mengharuskan pemilik wajah asli menginjakkan kaki di lokasi syuting. Fenomena lisensi genetik ini langsung memantik perdebatan sengit terkait batas perlindungan hak cipta biologis dan masa depan profesi pemeran di tengah cengkeraman korporasi teknologi.
Invasi serupa juga menyapu bersih ladang pekerjaan di sektor pengisi suara komersial dan produksi buku audio. Pengisi suara veteran Shen Anyu mengaku harus menghabiskan sebagian besar waktunya melacak pelanggaran hukum setelah sampel suaranya dikloning. Suaranya dijual bebas sebagai paket data dan disisipkan ke beragam aplikasi penyuntingan video oleh pihak ketiga tanpa kompensasi sepeser pun.
Transisi mekanis ini secara sistematis memindahkan hierarki kekuasaan di industri hiburan. Posisi sutradara kreatif kini bergeser ke pundak para insinyur perangkat lunak. Penyesuaian tarif turut memperparah krisis ketika rumah produksi hanya menawarkan honor tiga digit yuan untuk pemeran manusia, dari yang sebelumnya selalu bernilai ribuan yuan. Media The Paper di Shanghai melaporkan bahwa kru casting yang dahulu rutin mencari talenta manusia, kini justru menerbitkan iklan lowongan khusus untuk mencari model AI guna mengisi departemen tata cahaya, penata busana, hingga divisi sinematografi lapangan.