Menentukan harga jual makanan adalah langkah krusial yang menentukan untung-rugi sebuah bisnis kuliner. Banyak pengusaha hanya menghitung biaya bahan utama, padahal ada banyak biaya tersembunyi seperti bumbu, gas, kemasan, hingga tenaga kerja yang bisa menggerus laba jika tidak diperhitungkan.
Secara sederhana, Harga Pokok Produksi (HPP) makanan adalah total biaya yang dikeluarkan untuk membuat satu menu hingga siap dijual. Dengan mengetahui HPP, pemilik usaha bisa menentukan harga jual yang tepat, memperkirakan keuntungan, dan mengantisipasi kenaikan harga bahan baku.
Komponen dan Rumus Dasar HPP Makanan
Untuk usaha kuliner skala kecil yang memproduksi dan menjual makanan pada hari yang sama, fokus utamanya adalah menghitung biaya produksi per porsi. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), biaya produksi mencakup biaya langsung dan tidak langsung.
Rumus dasar yang bisa digunakan adalah:
Total Biaya Produksi = Bahan Baku + Kemasan + Tenaga Kerja Langsung + Biaya Produksi Tidak Langsung
Setelah itu, hitung biaya per porsinya:
HPP per Porsi = Total Biaya Produksi ÷ Jumlah Porsi Layak Jual
Penting untuk menggunakan jumlah porsi yang benar-benar bisa dijual, bukan sekadar target. Jika resep diperkirakan menghasilkan 20 porsi tapi kenyataannya hanya jadi 18 porsi, maka pembaginya adalah 18.
Biaya yang Harus Dimasukkan ke HPP
1. Bahan Baku Utama dan Pendukung
Bahan baku utama adalah komponen terbesar seperti beras, ayam, daging, atau tepung. Catat sesuai harga beli yang sebenarnya. Namun, jangan lupakan bahan pendukung yang sering dianggap sepele. Biaya garam, gula, lada, bawang, rempah, minyak goreng, saus, hingga es batu jika dijumlahkan bisa signifikan.
Untuk bahan yang tidak habis sekali pakai, seperti sebotol minyak, alokasikan biayanya. Misalnya, jika satu liter minyak seharga Rp20.000 bisa untuk empat kali produksi, maka biaya minyak per produksi adalah Rp5.000.
2. Kemasan Produk
Semua yang melekat pada produk saat diserahkan ke pelanggan adalah bagian dari biaya. Ini mencakup kotak makanan, gelas, tutup, sendok, sedotan, tisu, stiker, hingga kantong plastik. Jika 100 buah kotak dibeli seharga Rp150.000, maka biaya kemasan per porsi adalah Rp1.500.
3. Tenaga Kerja Langsung
Ini adalah biaya untuk orang yang terlibat langsung dalam proses memasak. Bahkan jika pemilik usaha memasak sendiri, alokasikan upah untuk waktu yang dihabiskan. Tanpa ini, keuntungan usaha bisa terlihat besar secara keliru hanya karena tenaga kerja pemilik dianggap gratis.
Contoh: Seorang pekerja dibayar Rp100.000 untuk 8 jam kerja. Jika proses produksi butuh 2 jam, maka biaya tenaga kerja yang dialokasikan adalah (Rp100.000 ÷ 8 jam) × 2 jam = Rp25.000.
4. Biaya Overhead Produksi
Overhead adalah biaya pendukung yang sulit dilacak per porsi, tetapi tetap harus dihitung. Contohnya meliputi gas untuk memasak, listrik dan air dapur, sabun cuci, sewa tempat, serta penyusutan peralatan seperti kompor, kulkas, dan blender.
Biaya bulanan ini bisa dialokasikan per hari produksi atau per jumlah porsi yang dihasilkan agar perhitungannya konsisten.
Contoh Praktis Menghitung HPP Nasi Ayam
Sebuah usaha membuat 20 porsi nasi ayam dengan rincian biaya satu kali produksi sebagai berikut:
| Komponen Biaya | Perhitungan | Total |
|---|---|---|
| Beras | 2 kg × Rp16.000 | Rp32.000 |
| Ayam | 2,5 kg × Rp40.000 | Rp100.000 |
| Bumbu, sayur, dan sambal | Alokasi satu produksi | Rp35.000 |
| Minyak goreng | Alokasi pemakaian | Rp18.000 |
| Kemasan | 20 × Rp1.500 | Rp30.000 |
| Tenaga kerja langsung | Alokasi satu produksi | Rp40.000 |
| Gas, listrik, dan air | Alokasi satu produksi | Rp20.000 |
| Sewa dan penyusutan alat | Alokasi satu produksi | Rp25.000 |
| Total Biaya Produksi | Rp300.000 | |
Dengan total biaya Rp300.000 dan hasil 20 porsi, maka HPP per porsi adalah:
Rp300.000 ÷ 20 = Rp15.000 per porsi
Namun, jika dari proses produksi yang sama ternyata hanya menghasilkan 18 porsi yang layak jual (karena penyusutan, porsi tidak standar, atau produk rusak), perhitungannya menjadi:
Rp300.000 ÷ 18 = Rp16.667 per porsi
Perbedaan ini menunjukkan pentingnya menghitung hasil produksi yang nyata, bukan sekadar target.
Menentukan Harga Jual dari HPP
Setelah HPP didapat, bagaimana cara menentukan harga jual? Ada dua metode umum: markup dan margin. Keduanya berbeda dan sering tertukar.
- Markup: Keuntungan dihitung dari HPP. Jika HPP Rp15.000 dan ingin markup 40%, maka harga jualnya adalah Rp15.000 + (40% x Rp15.000) = Rp21.000.
- Margin: Keuntungan dihitung dari harga jual. Jika menargetkan margin laba 35%, rumusnya adalah HPP ÷ (1 – target margin). Maka, Rp15.000 ÷ (1 – 0,35) = Rp23.077. Harga ini bisa dibulatkan menjadi Rp23.500 atau Rp24.000.
Salah membedakan markup dan margin bisa membuat keuntungan aktual lebih kecil dari yang diharapkan.
Jangan Lupakan Biaya Lain di Luar HPP
Biaya seperti komisi aplikasi pesan antar, subsidi promosi, atau diskon yang ditanggung penjual bukanlah bagian dari HPP, tapi wajib diperhitungkan saat menentukan harga jual di setiap platform. Inilah sebabnya harga di aplikasi online sering lebih tinggi daripada harga beli langsung di toko.
Selain itu, HPP tidak bisa dihitung sekali untuk selamanya. Harga bahan baku seperti cabai, telur, dan minyak goreng bisa berubah cepat. Selalu perbarui perhitungan HPP saat ada kenaikan harga bahan, perubahan resep, atau pergantian pemasok. Untuk memantau harga, pelaku usaha bisa merujuk pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional dari Bank Indonesia.
Kesalahan Umum yang Bikin Perhitungan HPP Meleset
| Kesalahan | Dampak | Solusi |
|---|---|---|
| Hanya menghitung bahan utama | HPP terlihat terlalu rendah, laba palsu | Masukkan semua biaya: bumbu, kemasan, tenaga kerja, overhead |
| Menganggap tenaga pemilik gratis | Keuntungan terlihat lebih besar dari kenyataan | Alokasikan nilai upah untuk waktu produksi yang dihabiskan |
| Membagi biaya dengan target porsi | Biaya per porsi tidak akurat jika hasil kurang | Gunakan jumlah porsi nyata yang layak jual |
| Tidak mencatat bahan terbuang | Kerugian akibat penyusutan atau kerusakan tidak terlacak | Catat hasil produksi aktual dan bahan sisa |
| Menyamakan markup dengan margin | Target keuntungan tidak tercapai | Pahami dan gunakan rumus yang sesuai tujuan (markup atau margin) |
| Tidak memperbarui harga bahan | Harga jual tidak sebanding dengan biaya terbaru | Periksa dan perbarui HPP secara berkala, terutama saat harga naik |