Pipa Minyak Timur-Barat Saudi Arabia Kembali Beroperasi Terbatas Usai Serangan Drone

Pipa Minyak Timur-Barat Saudi Arabia Kembali Beroperasi Terbatas Usai Serangan Drone
Ilustrasi jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang menghubungkan kawasan produksi di bagian timur dengan Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Pipa minyak Timur-Barat Saudi Arabia kembali dioperasikan secara terbatas setelah sempat dihentikan akibat serangan drone yang merusak sejumlah stasiun pemompaan. Pemulihan jalur strategis tersebut memberikan alternatif bagi pengiriman minyak menuju Laut Merah ketika pelayaran melalui Selat Hormuz masih menghadapi ketidakpastian.

Tiga sumber industri yang mengetahui perkembangan tersebut mengatakan kepada Reuters pada Selasa, 22 September 2026, bahwa pengoperasian kembali pipa telah dimulai. Namun, aliran minyak masih berada pada tingkat rendah dan belum menunjukkan pemulihan kapasitas secara penuh.

Saudi Aramco sebagai perusahaan yang mengoperasikan pipa tersebut belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai konfirmasi mengenai tingkat pemompaan dan jadwal pemulihan keseluruhan fasilitas. Karena itu, perkembangan ini lebih tepat disebut sebagai pengoperasian kembali secara terbatas, bukan pemulihan penuh.

Jalur Alternatif untuk Menghindari Selat Hormuz

Pipa East-West atau Petroline membentang sekitar 1.200 kilometer dari kawasan penghasil minyak di bagian timur Arab Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Jalur ini memungkinkan minyak Saudi dikirim ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Dalam kondisi normal, selat tersebut merupakan salah satu jalur terpenting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan pelayaran di kawasan itu dapat memengaruhi pasokan, biaya pengangkutan, premi asuransi kapal, dan harga minyak internasional.

Pipa minyak Timur-Barat Saudi Arabia memiliki kapasitas maksimal sekitar tujuh juta barel per hari. Sekitar dua juta barel dapat digunakan untuk memasok fasilitas pengolahan di pesisir barat, sedangkan kapasitas lainnya tersedia untuk mendukung ekspor melalui Yanbu.

Peran jalur tersebut semakin penting sejak ketegangan di kawasan Teluk mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Dengan memindahkan aliran minyak dari wilayah timur menuju Laut Merah, Arab Saudi memperoleh pilihan lain untuk mempertahankan sebagian ekspornya.

Tiga Stasiun Pemompaan Dilaporkan Rusak

Serangan drone pada 11 September 2026 dilaporkan merusak tiga stasiun pemompaan di sepanjang jalur pipa. Citra satelit dan keterangan sumber industri menunjukkan kerusakan lebih luas dibandingkan perkiraan awal.

Serangan itu disebut berasal dari wilayah Irak berdasarkan keterangan kantor perdana menteri negara tersebut. Namun, hingga laporan diterbitkan, belum ada kelompok yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab. Otoritas terkait juga belum mengumumkan identitas pelakunya secara pasti.

Pengiriman minyak mentah dari Yanbu kemudian terhenti. Pengoperasian kembali dimulai pada 22 September 2026 dengan tingkat pemompaan rendah, sedangkan pemulihan menuju kapasitas maksimal diperkirakan dapat membutuhkan enam hingga delapan pekan.

Saudi Aramco juga dilaporkan mempersiapkan kembali pengapalan minyak dari Yanbu. Sedikitnya satu muatan tujuan China disebut tengah dipersiapkan, tetapi jumlah dan jadwal pengiriman berikutnya masih bergantung pada kestabilan operasi pipa.

Harga Minyak Turun Merespons Peluang Tambahan Pasokan

Kabar pengoperasian kembali jalur pipa langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah Brent sempat turun hampir tiga persen hingga menyentuh sekitar 97,43 dolar AS per barel sebelum kembali bergerak mendekati 100 dolar AS.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate juga mengalami penurunan. Pasar menilai dimulainya kembali aliran melalui Yanbu dapat membantu mengurangi tekanan pasokan dari Timur Tengah, meskipun volume aktualnya belum kembali normal.

Penurunan harga tidak hanya dipengaruhi perkembangan pipa Saudi. Pernyataan Iran mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz turut menambah harapan bahwa aliran energi dari kawasan tersebut dapat meningkat.

Namun, respons pasar masih dapat berubah. Pengoperasian pipa dengan kapasitas rendah belum tentu langsung menghasilkan tambahan ekspor dalam jumlah besar. Sebagian minyak yang dialirkan menuju wilayah barat juga dibutuhkan oleh fasilitas pengolahan domestik Arab Saudi.

Pemulihan Terbatas Belum Menghapus Risiko Pasokan

Beroperasinya kembali pipa minyak Timur-Barat Saudi Arabia menjadi perkembangan penting bagi keamanan energi global. Jalur tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz sekaligus memberi Arab Saudi pilihan distribusi melalui Laut Merah.

Meski demikian, pemulihan terbatas belum sepenuhnya menghilangkan risiko. Perbaikan tiga stasiun pemompaan masih berlangsung, kapasitas pengiriman melalui Yanbu memiliki batas operasional, dan ketegangan keamanan di Timur Tengah tetap dapat mengganggu infrastruktur maupun pelayaran.

Perkembangan pada 22 September 2026 menunjukkan bahwa Arab Saudi mulai memulihkan salah satu jalur minyak terpentingnya. Akan tetapi, besarnya pengaruh terhadap pasokan dunia baru dapat dinilai setelah volume pemompaan dan ekspor melalui Yanbu meningkat secara konsisten.

16 Kali Dilihat