Kualitas udara di Nabire, Papua Tengah, berada di kategori sangat tidak sehat setelah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 258 pada Senin, 14 September 2026, pukul 10.00 WIT. Kondisi ini dipicu oleh kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah tersebut, bersamaan dengan lonjakan 268 hotspot yang terdeteksi pada 13 September 2026. Akibatnya, jarak pandang menurun drastis dan sempat mengganggu operasional penerbangan di Bandara Douw Aturure.
Kualitas Udara Nabire Sangat Tidak Sehat
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire mencatat nilai ISPU 258 ini melalui alat pemantau yang bekerja secara waktu nyata. Kepala DLH Kabupaten Nabire, Arfan Natan Palumpun, juga menyebut perangkat tersebut merekam kelembapan udara sebesar 52,35 persen dan suhu mencapai 34 derajat Celsius.
Dengan kondisi udara yang sangat tidak sehat, masyarakat di Nabire disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan apabila warga harus beraktivitas di tengah paparan kabut asap. DLH meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran hutan, lahan, maupun sampah secara terbuka karena berpotensi menambah konsentrasi pencemar dan semakin menurunkan kualitas udara.
Masyarakat dapat memantau perkembangan nilai ISPU melalui aplikasi ISPU Net serta informasi resmi pemerintah daerah, karena nilai tersebut dapat berubah mengikuti keadaan cuaca, kondisi lingkungan, dan besarnya sumber pencemar.
Ratusan Hotspot Terdeteksi, BMKG Imbau Waspada
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah hotspot di Nabire meningkat tajam dalam kurun empat hari. Pada 10 September terdeteksi 12 titik, kemudian melonjak menjadi 25 titik pada 11 September, dan 122 titik pada 12 September. Jumlahnya kembali bertambah menjadi 268 hotspot pada 13 September 2026.
Dari keseluruhan deteksi tersebut, sebanyak 25 titik masuk kategori tingkat kepercayaan rendah, 238 titik kategori sedang, dan lima titik kategori tinggi. Secara keseluruhan, BMKG mendeteksi 376 hotspot di Papua Tengah pada 13 September, dengan Kabupaten Nabire menjadi wilayah deteksi paling tinggi.
BMKG menjelaskan bahwa hotspot merupakan anomali suhu panas yang terdeteksi melalui citra satelit dan tidak dapat langsung diartikan sebagai kebakaran aktif. Pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan apakah setiap titik benar-benar menunjukkan kebakaran hutan atau lahan. BMKG memprakirakan tingkat kemudahan terjadinya kebakaran, penyebaran api, dan intensitas kebakaran di Papua Tengah masih berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi dalam beberapa hari ke depan. Cuaca Nabire juga diperkirakan tetap panas dan kering selama sepekan dengan peluang hujan yang tidak signifikan.
Penerbangan Dialihkan Akibat Jarak Pandang Minim
Kabut asap yang menyelimuti Nabire sejak Minggu sore, 13 September, dan berlanjut hingga Senin pagi, menurunkan jarak pandang di Bandara Douw Aturure menjadi sekitar satu kilometer. Padahal, jarak pandang minimal yang dibutuhkan untuk operasional penerbangan adalah lima kilometer.
Kondisi tersebut menyebabkan penerbangan Sriwijaya Air dari Makassar menuju Nabire tidak dapat langsung mendarat. Pesawat yang dijadwalkan tiba sekitar pukul 07.45 WIT dialihkan sementara ke Bandara Frans Kaisiepo di Biak demi keselamatan penerbangan. Jarak pandang kemudian berangsur membaik hingga mencapai sekitar lima kilometer, sehingga penerbangan tersebut akhirnya dapat mendarat di Nabire sekitar pukul 09.20 WIT sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jayapura. Operasional Bandara Douw Aturure kembali berjalan normal setelah kondisi memungkinkan.
Pemerintah Daerah dan BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah di ruang terbuka, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan riwayat penyakit pernapasan perlu membatasi paparan udara luar. Apabila mengalami sesak napas, batuk berat, nyeri dada, atau kondisi kesehatan memburuk, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis.