Suhu udara dingin yang melanda sebagian besar Pulau Jawa selama Juli hingga Agustus 2026 merupakan dampak langsung dari fenomena bediding. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena musiman ini dipicu oleh pergerakan massa udara kering dan dingin dari benua Australia, menyebabkan temperatur anjlok drastis terutama pada malam hingga pagi hari.
Kondisi paling ekstrem terpantau di dataran tinggi. Stasiun cuaca otomatis di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, mencatat suhu minimum menyentuh rekor 5,1 derajat Celsius. Penurunan drastis ini tidak hanya terjadi di puncak gunung, tetapi juga merambat ke wilayah penyangga. Sebagai contoh, pos pemantauan di Tretes, Pasuruan, mendokumentasikan suhu dini hari yang stabil di angka 14 derajat Celsius. BMKG mencatat tren penurunan suhu ini bersifat konstan, yaitu sekitar 0,5 derajat Celsius untuk setiap kenaikan 100 meter elevasi.
Pemicu Utama: Angin Monsun dan Langit Cerah
Penyebab utama dari fenomena bediding adalah pergerakan angin monsun Australia. Selama periode musim dingin di belahan bumi selatan, terbentuk pusat tekanan udara tinggi di Australia. Massa udara yang bersifat dingin dan kering ini kemudian bergerak menuju pusat tekanan rendah di benua Asia, melintasi wilayah Indonesia. Karakteristik udara yang kering ini memiliki kandungan uap air yang sangat rendah.
Kondisi tersebut diperparah oleh cuaca cerah tanpa tutupan awan selama puncak musim kemarau. Tanpa adanya awan yang berfungsi sebagai ‘selimut’ atmosfer, radiasi panas yang diserap permukaan bumi sepanjang siang hari dilepaskan kembali ke angkasa dengan sangat cepat setelah matahari terbenam. Interaksi inilah yang menjelaskan mengapa cuaca siang hari bisa terasa sangat terik, namun berubah menjadi sangat dingin dan menusuk tulang begitu malam tiba.
Dampak pada Pertanian dan Upaya Mitigasi
Prakirawan BMKG Juanda Surabaya, Trya Chandra, membantah spekulasi yang mengaitkan hawa dingin ini dengan anomali perubahan iklim. Ia menegaskan bahwa siklus ini adalah kejadian normal. “Fenomena bediding ini normal terjadi dan bukan merupakan peristiwa anomali,” tegas Trya. Namun, dampak nyatanya tetap signifikan, terutama bagi sektor agrikultur.
Di area seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kewaspadaan ditingkatkan untuk memantau potensi kemunculan embun es kristal atau frost, yang oleh masyarakat lokal sering disebut ‘embun upas’. Lapisan es tipis ini dapat menutupi padang sabana dan, yang lebih krusial, mematikan tanaman sayuran komersial seperti kentang dan kubis yang menjadi andalan ekonomi penduduk. Otoritas terkait kini fokus melakukan sinkronisasi data iklim harian untuk memitigasi risiko gagal panen.
Distribusi hawa dingin ini tidak merata di seluruh Pulau Jawa, sangat bergantung pada profil topografi dan ketinggian suatu wilayah. BMKG memproyeksikan terjangan angin kering musiman ini baru akan mereda secara bertahap saat memasuki minggu pertama September 2026, seiring melemahnya pusaran monsun timur. Sementara itu, pemantauan intensif terus dilakukan di berbagai stasiun otomatis, di mana suhu terendah di stasiun AWS Bondowoso mencatatkan angka 15,9 derajat Celsius pada pukul tiga dini hari waktu setempat.