Daya mampu pembangkit hidro di sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) anjlok sekitar 70 persen. Kondisi ini membuat Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa daya mampu agregat pembangkit hidro turun drastis dari sekitar 850 megawatt (MW) menjadi 250 MW, atau selisih 600 MW. Penurunan produksi ini, yang mencapai sekitar 70,6 persen, disebabkan oleh kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Pembangkit yang mengalami penurunan produksi meliputi PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Berkurangnya pasokan dari pembangkit hidro ini menjadi tekanan besar terhadap keseimbangan antara listrik yang tersedia dan kebutuhan di sistem Sulbagsel.
Modifikasi Cuaca Terkendala, PLN Genjot Solusi Lain
Untuk mengatasi krisis ini, PLN berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Upaya ini bertujuan meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro. Namun, PLN menyebut kondisi atmosfer yang sangat kering membuat awan yang bisa disemai masih terbatas.
Di tengah kendala modifikasi cuaca, PLN juga mengoptimalkan pembangkit yang sudah ada dan mempercepat pemulihan unit yang mengalami gangguan teknis. Salah satu fokus utama adalah PLTU Jeneponto milik swasta berkapasitas 2 x 100 MW. Darmawan meninjau langsung proses perbaikan PLTU ini di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, pada Senin, 14 September 2026. PLN turut mendukung percepatan pekerjaan agar pembangkit tersebut bisa kembali memasok listrik ke sistem Sulbagsel.
Selain perbaikan, PLN juga menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit hingga 627 MW. Angka ini merupakan kapasitas yang sedang disiapkan untuk membantu pemulihan pasokan listrik.
Target Pemulihan dan Rencana Jangka Panjang
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga menyampaikan langkah pemerintah untuk mencari sumber pasokan lain. Seusai rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Rabu, 16 September 2026, Bahlil mengatakan pemerintah mencari pembangkit pengganti sementara untuk PLTA di Sulawesi Selatan yang terdampak berkurangnya kekuatan air.
PLN menargetkan pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali pada akhir September 2026. Darmawan menyatakan proses pemulihan dikawal dan dievaluasi dari hari ke hari, meskipun target ini berkaitan dengan keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik, bukan tanggal pasti berakhirnya seluruh gangguan layanan di setiap wilayah.
Untuk jangka panjang, PLN menyiapkan penguatan sistem melalui sekitar 5,2 gigawatt peak (GWp) Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan 8,2 gigawatt hour (GWh) sistem penyimpanan energi baterai atau BESS. Rencana ini merupakan bagian dari penguatan Sulbagsel melalui program PLTS 100 GW. Menurut Darmawan, PLTS akan menambah pasokan dari sumber yang tidak bergantung pada air, sedangkan baterai menjadi penyangga ketika produksi hidro turun. Pengembangan ini masih berupa rencana penguatan jangka panjang, terpisah dari perbaikan pembangkit dan penambahan kapasitas yang sedang disiapkan untuk pemulihan pasokan.