Cegah Kebakaran, Taman Nasional Berbak Sembilang Pulihkan Gambut dengan Sekat Kanal

Cegah Kebakaran, Taman Nasional Berbak Sembilang Pulihkan Gambut dengan Sekat Kanal
Cegah Kebakaran, Taman Nasional Berbak Sembilang Pulihkan Gambut dengan Sekat Kanal. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) mengumumkan rencana aksi pemulihan ekosistem gambut untuk mencegah kebakaran. Menurut rilis resmi pada Selasa (1/9/2026), program ini berfokus pada perbaikan sekat kanal dan penanaman kembali ribuan bibit pohon jelutung rawa.

Kepala Balai TNBS menjelaskan, tujuan utamanya adalah menaikkan tinggi muka air tanah gambut di atas ambang batas aman 0,4 meter. Upaya ini krusial untuk mencegah kebakaran bara di bawah permukaan tanah (*subsurface fire*) yang sering terjadi saat puncak musim kemarau.

Menjaga Gambut Tetap Basah

Untuk memulihkan kondisi hidrologi, petugas bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) membangun sekat kanal permanen di saluran-saluran drainase. Konstruksi ini menggunakan bahan kayu komposit dan terpal geomembran untuk menahan air agar tidak mengalir keluar dari kubah gambut.

Di sisi lain, program revegetasi dilakukan dengan menanam pohon endemik yang mampu beradaptasi di lahan basah, seperti jelutung rawa (*Dyera lowii*) dan belangeran (*Shorea balangeran*). Selain memulihkan tutupan lahan, pohon-pohon ini juga menghasilkan getah yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Taman Nasional Berbak dan Sembilang adalah bentang lahan basah terluas di Asia Tenggara. Melalui pemulihan sekat kanal dan revegetasi pohon jelutung, kami mengembalikan kelembapan alami gambut agar terhindar dari kebakaran,” jelas pejabat Balai TNBS di Jambi.

Pengawasan Digital dan Peran Masyarakat

Untuk memastikan keberhasilan program, Balai TNBS mengintensifkan patroli perlindungan habitat harimau dan burung air. Pengawasan ini berbasis aplikasi SMART (*Spatial Monitoring and Reporting Tool*) untuk mendeteksi potensi perambahan liar dan memantau tinggi muka air tanah setiap hari.

Program ini juga melibatkan partisipasi aktif warga. Kelompok tani hutan di desa penyangga, seperti di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi, diberdayakan dalam pembibitan tanaman lokal secara swadaya serta pengembangan ekowisata susur sungai.

Kawasan gambut di Berbak dan Sembilang sendiri merupakan penyimpan cadangan karbon raksasa yang berperan penting sebagai benteng iklim global. Sinergi antara pemerintah, pengelola taman nasional, dan masyarakat menjadi kunci untuk melestarikan ekosistem lahan basah yang vital ini.

Lokasi Berita:
33 Kali Dilihat