Senin, 26 Oktober 2026
Teknologi

Starfront Observatories, Peternakan Teleskop di Tengah Texas

Starfront Observatories, Peternakan Teleskop di Tengah Texas
Starfront Observatories, Peternakan Teleskop di Tengah Texas. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Di Rockwood, sebuah permukiman kecil di Texas, Amerika Serikat, deretan bangunan logam sederhana menyimpan ratusan teleskop milik orang dari berbagai negara. Tempat itu bernama Starfront Observatories, sebuah “peternakan teleskop” yang bisa dikendalikan pemiliknya dari rumah masing-masing.

Konsepnya sederhana. Pemilik teleskop mengirim peralatannya ke Texas, lalu memotret galaksi dan nebula lewat internet dari mana pun mereka berada. Bagi banyak penghobi astronomi, cara ini menjadi jalan keluar dari langit kota yang kian terang oleh lampu.

Dari gudang biasa menjadi observatorium

Rockwood terletak sekitar 40 kilometer di utara Brady, kota kecil yang dikenal sebagai titik tengah geografis Texas. Permukiman di Coleman County bagian selatan itu tidak berstatus kota dan berpenduduk sangat sedikit.

Pada siang hari, bangunan-bangunan di sana tampak seperti gudang penyimpanan alat pertanian dan pakan ternak. Menjelang malam, atapnya bergeser terbuka secara bersamaan. Dari dalamnya tampak barisan teleskop yang siap mengarah ke langit.

Starfront Observatories didirikan astrofotografer Bray Falls bersama Dustin Gibson dan mulai beroperasi pada 2024. Menurut Falls, lokasi itu dipilih karena memadukan pasokan listrik yang andal, internet serat optik, dan langit yang termasuk paling gelap di Amerika Serikat.

Liputan pada pertengahan 2026 menyebut fasilitas di lahan sekitar 16 hektare itu menampung lebih dari 550 teleskop. Perusahaan sendiri kini mengklaim melayani lebih dari 1.000 teleskop milik pelanggan di 18 gedung, menjadikannya observatorium jarak jauh terbesar di dunia menurut jumlah teleskop.

Kirim teleskop, kendalikan dari rumah

Prosesnya dimulai saat pelanggan mengirim teleskop, dudukan, dan kamera ke Rockwood. Teknisi di lokasi lalu merakit dan memasang peralatan itu di dalam gedung yang terhubung internet cepat.

Setelah terpasang, pemilik mengendalikan teleskopnya dari komputer di rumah. Mereka bisa mengatur arah bidikan, mengambil gambar, dan mengunduh hasilnya tanpa harus berada di Texas. Menurut Falls, lokasi itu juga dijaga staf setiap saat agar peralatan pelanggan tetap aman.

Pelanggannya datang dari Amerika Serikat hingga Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Salah satunya Chuck Ayoub dari pinggiran Detroit. Ia punya garasi penuh teleskop, tetapi kini jarang memakainya sejak mengirim satu unit ke Texas.

Tarif dihitung dari ruang

Sewa tempat di Starfront dimulai dari 99 dolar AS per bulan. Besarnya biaya ditentukan oleh ruang yang dibutuhkan dudukan teleskop saat berputar, dengan kisaran sekitar 99 hingga 400 dolar AS per bulan.

Teleskop refraktor kecil memakan ruang lebih sedikit sehingga tarifnya lebih murah. Peralatan yang lebih besar membutuhkan radius putar lebih lebar dan dikenai biaya lebih tinggi. Dengan cara ini, banyak teleskop bisa ditempatkan rapat dalam satu gedung.

Falls menyebut observatorium jarak jauh sebelumnya lebih banyak dinikmati lembaga atau orang berduit. Bagi yang tidak punya teleskop, Starfront juga menyewakan teleskop pintar dengan tarif bulanan tetap.

Lari dari polusi cahaya

Daya tarik utama Starfront Observatories adalah langitnya. Kawasan Rockwood berada di kelas 1 skala Bortle, tingkat paling gelap dalam ukuran kecerahan langit malam. Perusahaan mengklaim lokasi itu rata-rata menikmati lebih dari 220 malam cerah per tahun.

Kondisi seperti ini makin langka. Sebuah studi di jurnal Science pada 2023 mencatat polusi cahaya meningkat sekitar 10 persen per tahun selama satu dekade terakhir. Langit di kota besar pun semakin sulit dipakai untuk memotret objek redup seperti nebula dan galaksi.

Falls menilai polusi cahaya merenggut kesempatan orang untuk takjub pada langit di atas mereka. Lewat observatorium jarak jauh, pengalaman itu bisa dirasakan kembali, meski dari layar komputer.

Teleskop patungan dan rencana ke Australia

Berkumpulnya ratusan teleskop di satu lokasi juga membuka cara kerja baru. Sebanyak 25 pengguna pernah mengarahkan teleskop mereka bersamaan ke Galaksi Triangulum dan mengumpulkan total lebih dari 1.000 jam pencahayaan. Falls menyebut gabungan itu bekerja layaknya satu teleskop raksasa virtual.

Dari lokasi yang sama, Falls dan pengguna lain juga memotret objek langit yang belum pernah terlihat sebelumnya. Salah satunya nebula yang ia namai Crown of Thorns.

Ke depan, Starfront Observatories berencana membuka lokasi di belahan bumi selatan, tepatnya di New South Wales, Australia. Alasannya, sekitar 90 persen penduduk dunia tinggal di belahan bumi utara, sehingga langit selatan masih jarang terjangkau observatorium jarak jauh. Hingga kini, rencana itu belum diumumkan secara rinci.

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya