Tanggul pasir darurat di Kelurahan Bonalumban, Kecamatan Tukka, terkikis lagi pada Minggu, 25 Oktober 2026, saat banjir Tapanuli Tengah kembali masuk permukiman warga. Banjir ini menjadi yang kedua dalam tiga hari. Sepanjang 2026, tanggul di kelurahan tersebut sudah jebol atau terkikis sedikitnya empat kali, yaitu pada Mei, Juli, September, dan Oktober.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah menyiagakan empat kecamatan, yaitu Pandan, Tukka, Badiri, dan Sarudik. Personel ditempatkan di titik-titik rawan. Dapur umum dan lokasi evakuasi juga sudah disiapkan.
Air Masuk Bonalumban Sejak Dini Hari
Menurut laporan BPBD Tapteng, debit sungai mulai naik dan air masuk ke permukiman Bonalumban sejak dini hari. Pada pukul 12.31 WIB, genangan belum surut. Tanggul pasir yang dipasang sebagai penahan darurat di kelurahan itu pun mulai tergerus.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Tapteng, Agus Harianto, mengatakan hujan diperkirakan turun sampai malam. “Potensi hujan diprediksi sampai malam hari dan personel sudah diposisikan di tempat-tempat rawan bencana banjir,” ujarnya.
Agus tidak merinci lokasi dapur umum dan titik evakuasi. Ia menyebut warga Bonalumban mengungsi sendiri ke rumah keluarga terdekat. “Untuk saat ini, warga sudah mengungsi secara mandiri ke rumah saudara terdekat,” katanya. BPBD belum mengumumkan jumlah rumah terendam dan jumlah pengungsi.
Banjir 23 Oktober di Empat Kecamatan
Banjir ini datang dua hari setelah hujan deras pada Jumat, 23 Oktober 2026. Saat itu banjir Tapanuli Tengah merendam permukiman di Tukka, Badiri, Sarudik, dan Pandan. Jembatan darurat yang menghubungkan Lingkungan Pasir Bidang dan Lingkungan Borotan putus.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tapteng, Erianto Tambunan, menyebut air di Bonalumban saat itu setinggi dada orang dewasa. Di Sigotom, Tukka, air setinggi pinggang. Di Sibuluan Nalambok, Sarudik, air setinggi paha. “Arus lalu lintas sempat terputus karena jalan lintas tertutup genangan air,” kata Erianto pada Jumat pukul 21.10 WIB.
Kecamatan Pandan juga terdampak. Genangan masuk ke rumah-rumah di Kelurahan Sibuluan Indah dan Sibuluan Raya, dan sebagian warga Sibuluan Raya memilih pindah ke rumah kerabat atau ke lokasi yang lebih aman. Di Badiri, Sungai Lopian meluap ke jalan raya. Ketinggian air di dekat Simpang Gereja GPDI Lopian sekitar 10 sentimeter.
Tanggul Bonalumban Jebol Berulang Sepanjang 2026
Pada Rabu, 20 Mei 2026 sekitar pukul 18.30 WIB, tanggul jebol di sejumlah titik setelah hujan deras disertai badai. Pada 17-18 Juli 2026, BPBD mencatat tanggul Sungai Aek Siaili di Bonalumban jebol. Pada Sabtu, 26 September 2026 petang, tanggul Sungai Bonalumban kembali jebol.
Berikut kronologi kejadian di Bonalumban menurut keterangan BPBD Tapteng, Polres Tapanuli Tengah, dan warga.
| Tanggal | Kejadian | Ketinggian air | Keterangan dari |
|---|---|---|---|
| Rabu, 20 Mei 2026 | Tanggul jebol di sejumlah titik | Seleher orang dewasa di sekitar Masjid Jami | Warga |
| 17-18 Juli 2026 | Tanggul Sungai Aek Siaili jebol | Setinggi pinggang | BPBD Tapteng |
| Sabtu, 26 September 2026 | Tanggul Sungai Bonalumban jebol, jembatan gantung Lingkungan III putus | 30-50 cm di Lingkungan I-IV | Polres Tapanuli Tengah |
| Jumat, 23 Oktober 2026 | Banjir di empat kecamatan | Setinggi dada orang dewasa | BPBD Tapteng |
| Minggu, 25 Oktober 2026 | Tanggul pasir darurat terkikis | Genangan masih ada pukul 12.31 WIB | BPBD Tapteng |
Saat banjir 26 September, arus sungai merobohkan jembatan gantung (rambing) di Lingkungan III sehingga warga Lingkungan I tidak bisa lagi menyeberang ke Lingkungan III. Kepolisian memastikan tidak ada korban jiwa. “Kami menyiagakan personel untuk mengantisipasi potensi bahaya susulan,” kata Kapolres Tapanuli Tengah AKBP Muhammad Alan Haikel kala itu.
Geobag Mei dan Tuntutan Tanggul Beton
Pada akhir Mei 2026, Dinas PUPR Tapteng menormalisasi alur Sungai Bonalumban. Dinas juga memasang geobag, yaitu karung pasir berukuran besar, sebagai tanggul sementara di Lingkungan 1. Biaya BBM ditanggung BPBD Tapteng dan Balai Wilayah Sungai Sumatera Utara. “Kami upayakan dapat selesai dalam kurun waktu sekitar 10 hari ke depan,” kata pelaksana pekerjaan saat itu.
Warga Bonalumban menuntut tanggul permanen dari beton karena banjir datang setiap tahun. Mereka menduga tanggul jebol karena hanya memakai pasir. Warga setempat, David Sinaga, menilai proyek tanggul pasir hanya menghabiskan anggaran. “Kalau setiap banjir tanggul selalu jebol, untuk apa terus dibangun dengan cara yang sama? Rakyat butuh solusi permanen, bukan proyek tambal sulam yang akhirnya hancur lagi,” katanya pada Mei 2026.
Tulis Komentar