Keputusan Kontroversial Juri LCC MPR Kalbar Gemparkan Publik

Keputusan Kontroversial Juri LCC MPR Kalbar Gemparkan Publik
Keputusan Kontroversial Juri LCC MPR Kalbar Gemparkan Publik. (Foto: Istimewa/Infonesia)

Dunia maya kembali dihebohkan oleh sebuah insiden yang terjadi dalam ajang pendidikan bergengsi, Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Sebuah video yang menampilkan kontroversi juri LCC ini menjadi viral, memicu gelombang kritik dari warganet yang menilai keputusan juri sangat janggal dan tidak adil. Akibatnya, berbagai platform media sosial milik MPR RI pun diserbu dengan komentar pedas dan pertanyaan tentang transparansi penilaian.

Kejadian yang menggemparkan publik ini terekam dalam siaran langsung YouTube MPRGOID pada 9 Mei 2026. Momen puncak ketegangan bermula saat sesi tanya jawab “rebutan”, di mana kecepatan dan ketepatan menjadi kunci. Pembawa acara melontarkan pertanyaan kompleks terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sebuah lembaga vital dalam tata negara Indonesia. Pertanyaannya berbunyi, “Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi anggota BPK, keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?”

Regu C, yang merupakan perwakilan dari SMAN 1 Pontianak, menjadi tim pertama yang menekan bel. Dengan sigap, salah satu perwakilan mereka memberikan jawaban, “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.” Namun, tanggapan mereka menuai respons tak terduga. Dyastasita Widya Budi, Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Setjen MPR RI yang bertindak sebagai juri, langsung memberikan pengurangan skor sebesar lima poin, menilai jawaban Regu C “salah”.

Kesempatan menjawab kemudian berpindah ke Regu B, perwakilan dari SMAN 1 Sambas. Secara mengejutkan, mereka melontarkan jawaban yang terdengar identik dengan apa yang disampaikan oleh Regu C sebelumnya. “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” ujar perwakilan Regu B. Kali ini, Dyastasita dengan cepat memberikan nilai sempurna, 10 poin, seraya menyatakan bahwa “inti jawabannya sudah benar.”

Perbedaan perlakuan ini sontak memicu keberatan dari Regu C. Siswa dari SMAN 1 Pontianak tersebut segera melayangkan interupsi, mengungkapkan kebingungan dan protes mereka. “Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti Regu B. Sama,” tegas mereka, menuntut penjelasan atas ketidakadilan yang dirasakan.

Menanggapi protes tersebut, Dyastasita bersikukuh pada keputusannya. Ia mengklaim bahwa Regu C telah melewatkan elemen penting dalam jawaban mereka, yaitu frasa “pertimbangan dari DPD-nya”. “Tadi disebutkan Regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi. Jadi Dewan Juri tadi berpendapat nggak ada itu Dewan Perwakilan Daerah,” jelasnya, meski warganet yang menyaksikan siaran langsung merasa keberatan juri tidak berdasar.

Situasi semakin memanas ketika juri lain, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR Indri Wahyuni, turut angkat bicara. Pernyataannya justru semakin memantik kemarahan publik. Alih-alih mengklarifikasi perbedaan penilaian substansi, Indri justru mengalihkan fokus pada aspek artikulasi peserta. “Begini ya, kan sudah diperingatkan dari awal ya, artikulasi itu penting ya. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Kalau menurut kalian sudah, tapi Dewan Juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya Dewan Juri berhak memberikan nilai -5. Jadi sekali lagi kami peringatkan artikulasi diperhatikan ya,” tegas Indri, yang dianggap banyak pihak sebagai alasan yang tidak relevan dan mengada-ada untuk membenarkan penilaian yang tidak konsisten.

Insiden kontroversi juri LCC ini segera menyebar luas di media sosial. Akun-akun resmi MPR RI, mulai dari Instagram hingga YouTube, langsung dibanjiri komentar dan kritikan pedas dari warganet. Banyak yang menyuarakan kekecewaan dan menuntut penjelasan resmi dari pihak MPR terkait standar penilaian yang dianggap bias dan tidak profesional. Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan atau klarifikasi resmi dari pihak MPR RI mengenai insiden yang telah mencoreng citra lomba cerdas cermat tersebut.

Lokasi Berita: PontianakKalimantan Barat
14 Kali Dilihat
Foto Profil Jurnalis

Infonesiaku

Jurnalis/Redaktur di infonesiaku.id yang berdedikasi menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya untuk masyarakat Kalimantan Timur.

Lihat semua artikel →