Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Luh Puspa, baru-baru ini menyerukan kepada seluruh anggota Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi yang erat dengan pemerintah. Seruan ini bertujuan krusial dalam upaya bersama untuk secara masif memajukan pariwisata Indonesia, agar mampu mencapai standar kualitas yang lebih tinggi, meningkatkan daya saing global, serta memastikan keberlanjutan sektor ini dalam jangka panjang.
Dalam pernyataannya yang dikonfirmasi di Jakarta pada Jumat, Wamenparekraf Ni Luh Puspa secara tegas menyampaikan pesan penting dari pimpinan, menekankan perlunya dukungan penuh terhadap ASITA. “Kita harus dukung ASITA, kita harus berjalan bersama ASITA. Itu pesan beliau kepada saya,” ungkap Ni Luh Puspa. Ia menambahkan bahwa ASITA tidak hanya sekadar asosiasi, melainkan merupakan mitra strategis yang tak terpisahkan bagi pemerintah dalam mengembangkan dan mengoptimalkan potensi sektor pariwisata nasional.
Saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II ASITA 2026 yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Kamis (7/5) lalu, Wamenparekraf Ni Luh Puspa menyoroti peran vital ASITA. Asosiasi ini diharapkan mampu mengemas berbagai paket wisata yang tidak hanya menarik minat wisatawan tetapi juga memiliki daya saing yang tinggi di pasar global. Selain itu, anggota ASITA juga didorong untuk secara optimal memanfaatkan beragam stimulus dan insentif yang telah disediakan pemerintah guna mengakselerasi pertumbuhan signifikan pada sektor pariwisata nasional dan ekonomi kreatif.
Sebagai asosiasi biro perjalanan wisata tertua dan salah satu yang paling berpengaruh di Tanah Air, ASITA memegang posisi kunci dalam ekosistem pariwisata Indonesia. Perannya tidak hanya terbatas pada promosi destinasi dan penjualan paket wisata ke seluruh pelosok negeri, tetapi juga sebagai jembatan penting bagi pemerintah. ASITA berfungsi sebagai wadah untuk menyalurkan masukan konstruktif serta kritik yang membangun terhadap berbagai kebijakan pariwisata nasional, memastikan kebijakan tersebut relevan, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan industri.
Menyadari dinamika pasar global yang terus berubah dan kompleksitas tantangan yang dihadapi, Ni Luh Puspa menjelaskan sejumlah langkah strategis yang telah dan akan terus diimplementasikan pemerintah untuk menghadapi berbagai kendala. Salah satu tantangan signifikan yang menjadi fokus utama adalah masalah tingginya harga tiket pesawat, sebuah isu yang secara langsung berdampak pada mobilitas wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta memengaruhi keputusan perjalanan mereka.
Untuk mengatasi kendala tersebut dan menjaga daya tarik destinasi pariwisata Indonesia, pemerintah, atas arahan langsung dari Presiden, telah merancang dan mengimplementasikan serangkaian stimulus ekonomi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meringankan beban pelaku usaha dan konsumen. Stimulus tersebut meliputi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah sebesar 100 persen untuk pembelian paket wisata tertentu, penetapan surcharge sebesar 38 persen untuk harga tiket pesawat, hingga pembebasan bea masuk onderdil pesawat sebesar 0 persen. Kebijakan ini merupakan upaya komprehensif untuk membantu menekan harga tiket penerbangan agar lebih terjangkau, sehingga mendorong minat bepergian masyarakat dan wisatawan, serta menjaga momentum pertumbuhan pariwisata.
Selain insentif fiskal, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga melakukan penyesuaian fundamental dalam strategi pasar. Fokus promosi kini lebih banyak dialihkan ke kawasan Asia dan Asia Pasifik. Langkah ini diperkuat dengan upaya untuk memperkuat pasar medium haul dan short haul, yang melibatkan destinasi-destinasi yang lebih dekat dan mudah dijangkau dari negara-negara tetangga. Pergeseran ini merupakan respons adaptif terhadap tren global yang menunjukkan bahwa wisatawan saat ini cenderung memilih tujuan yang lebih dekat, lebih efisien dari sisi biaya, dan memerlukan waktu tempuh yang lebih singkat, sesuai dengan preferensi perjalanan modern.
Wamenparekraf juga memberikan peringatan tegas kepada seluruh pelaku usaha pariwisata, khususnya biro perjalanan wisata, mengenai pentingnya integritas. Ia menekankan mutlaknya memastikan bahwa setiap produk wisata yang dipasarkan harus berasal dari usaha yang telah memiliki izin resmi. Langkah proaktif ini tidak hanya krusial untuk menjaga standar kualitas layanan yang tinggi dan melindungi hak-hak wisatawan dari praktik-praktik tidak bertanggung jawab, tetapi juga fundamental untuk memperkuat kredibilitas dan reputasi industri pariwisata Indonesia di mata dunia, membangun kepercayaan yang berkelanjutan.
Sebagai implementasi dari komitmen tersebut, pada tahun 2025 telah diterbitkan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025. Regulasi baru ini secara spesifik mengatur terkait standar kegiatan usaha yang wajib dipenuhi, prosedur tata cara pengawasan yang ketat, serta sanksi administratif yang akan dikenakan bagi pelanggaran. Kebijakan ini dirancang dengan tujuan ganda: pertama, secara efektif melindungi wisatawan dari penipuan atau layanan di bawah standar, dan kedua, menjaga integritas serta kredibilitas industri pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Ini adalah langkah maju dalam menjamin lingkungan pariwisata yang aman, terpercaya, dan profesional.
Kementerian juga aktif mendorong terciptanya sebuah ekosistem pariwisata yang terintegrasi dan saling terhubung erat. Inisiatif ini mencakup harmonisasi antara industri event, sektor tourism and travel, serta perhotelan. Dengan terciptanya sinergi yang kuat dan kolaborasi yang berkelanjutan di antara ketiga pilar utama ini, diharapkan mereka mampu tumbuh secara bersamaan, saling mendukung, dan memperkuat satu sama lain, menciptakan fondasi yang kokoh dan dinamis bagi pariwisata nasional di masa depan.
Menanggapi berbagai kebijakan dan arahan tersebut, Ketua Umum DPP ASITA, Rusmiati, mengungkapkan harapan besar. Ia berharap bahwa segala ide dan gagasan inovatif yang muncul serta disepakati dalam forum Rakernas tersebut akan mampu berkontribusi secara signifikan untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan mancanegara ke Indonesia, serta memperkaya pengalaman mereka di destinasi lokal. Lebih lanjut, Rusmiati menekankan pentingnya komunikasi dan sinergi yang berkelanjutan dengan pemerintah. “Harapan kami komunikasi yang baik dengan pemerintah dapat terus terjalin untuk mencapai cita-cita bersama dalam memajukan pariwisata Indonesia,” pungkasnya, menegaskan kembali komitmen ASITA dalam kemitraan strategis yang vital ini demi kemajuan pariwisata bangsa.