Senin, 26 Oktober 2026
Hukum

Letda Jihad Kopassus Tewas di Gudang Senjata, Siapa yang Lalai?

Letda Jihad Kopassus meninggal di gudang senjata. Kopassus menyebut pistol meledak karena kelalaian, tetapi belum merinci siapa pemegangnya saat itu.

Ilustrasi gudang senjata markas militer dengan rak senjata dan kamera pengawas
Ilustrasi gudang senjata. Kopassus menyebut kematian Letda Jihad terekam kamera pengawas. Ilustrasi dibuat dengan AI. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Kematian Letda Jihad Kopassus disebut satuannya murni akibat kelalaian dan ketidaksengajaan. Namun, Kopassus belum menjelaskan siapa yang lalai ketika pistol meledak di gudang senjata. Kasus itu, menurut Kepala Penerangan Kopassus, rencananya dilimpahkan ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) Surakarta pada Selasa, 27 Oktober 2026 bersama rekaman CCTV.

Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasyid meninggal karena luka tembak di gudang senjata Grup 2 Kopassus, Jawa Tengah, pada Sabtu (24/10/2026). Waktu kejadian disebut sekitar pukul 11.30 WIB, sementara keterangan lain menyebut pukul 12.00 WIB. Kepala Penerangan Kopassus, Kolonel Indra Mardianto, membantah kabar di media sosial yang menyebut Jihad tewas ditembak sesama anggota TNI.

Versi Kopassus, pistol meledak

“Itu kejadiannya di gudang senjata karena pistol meledak. Murni unsur kelalaian dan ketidaksengajaan,” kata Indra, Senin (26/10/2026). Ia menyebut seluruh rangkaian kejadian terekam kamera pengawas di lokasi.

Indra juga keberatan dengan pemakaian kata penembakan. “Tidak ada istilah penembakan ya, kalau penembakan jadi kesannya sengaja gitu,” ujarnya. Kabar bahwa Jihad ditembak rekannya beredar di media sosial, salah satunya lewat akun Instagram @srikandi_indonesiaid.

“Mengenai kejadian tersebut memang terjadi korban meninggal dunia, namun secara kronologis tidak demikian seperti yang disebutkan dalam berita tewas ditembak,” kata Indra.

Pihak yang terlibat belum dirinci

Hingga Senin malam, Kopassus belum membuka identitas orang lain yang terkait kejadian itu. Pemegang pistol saat senjata meledak juga tidak disebutkan Indra. Ia hanya mengatakan pihak yang terkait kasus ini rencananya diserahkan ke Denpom Surakarta pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Kabar yang sampai ke keluarga di Sorong, Papua Barat Daya, berbeda. Lantoga Sapua, yang mewakili keluarga, mengatakan informasi yang diterima keluarga sejauh ini baru sebatas penanganan internal kesatuan terhadap terduga pelaku. Bagaimana kejadiannya dan apa status hukum terduga pelaku, menurut dia, belum terang.

Perbandingan keterangan Kopassus dan keluarga hingga Senin, 26 Oktober 2026 tersaji dalam tabel berikut.

Hal Kopassus (Kolonel Indra Mardianto) Keluarga (Lantoga Sapua)
Penyebab Pistol meledak, murni kelalaian dan ketidaksengajaan Kronologi belum jelas
Pihak lain dalam kasus Belum dirinci; pihak terkait rencananya diserahkan ke Denpom Surakarta Selasa, 27 Oktober 2026 Terduga pelaku sudah ditangani secara internal kesatuan (informasi awal)
Penanganan Kasus dan rekaman CCTV rencananya dilimpahkan ke Denpom Surakarta Status hukum terduga pelaku belum jelas
Sikap Membantah korban ditembak sesama anggota TNI Meminta kepastian dan keterbukaan

“Kami butuh kepastian dan keterbukaan. Keluarga hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana proses hukum terhadap pelaku,” kata Lantoga, Senin (26/10/2026). Ia berharap Mabes TNI dan Mako Kopassus membuka seluruh rangkaian peristiwa kepada keluarga.

Rencana pelimpahan ke Denpom Surakarta

Menurut Indra, pelimpahan perkara akan dilakukan oleh atasan yang berhak menghukum (Ankum). “Rencana dari Ankum besok diserahkan kepada Denpom Surakarta,” katanya pada Senin, 26 Oktober 2026.

Indra menyebut rekaman CCTV akan menjadi bahan bagi penyidik polisi militer. “Kami serahkan rekaman sehingga nanti akan di perjelas oleh penyidik Pom kelanjutan kasusnya,” ujarnya. Ia juga menjanjikan proses hukum yang “terang benderang”.

Sampai Senin, 26 Oktober 2026, belum ada hasil penyidikan yang diumumkan atas kematian Letda Jihad. Hartono, anggota DPD yang melayat ke rumah duka, menyatakan akan mengawal kasus ini sampai ke tingkat pusat. Ia mengaku sudah menghubungi Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, Letjen TNI Rafael Granada Baay, dan berencana mengangkat persoalan ini dalam rapat DPD.

Desakan juga datang dari tokoh pemuda Papua Barat Daya, Syarifuddin Sabonama, yang meminta negara memberi keadilan. “Kopassus mungkin hanya kehilangan satu prajurit terbaiknya, tetapi keluarga kehilangan almarhum untuk selama-lamanya,” katanya.

Dimakamkan secara militer di Sorong

Jenazah Letda Jihad tiba di Kota Sorong pada Minggu (25/10/2026) dengan diantar Komandan Grup 2 Kopassus, Brigjen TNI Edwin Apria Candra. Setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Kanal Victory, almarhum dimakamkan secara militer di Taman Makam Bahagia Sorong.

Ayah Jihad, Mayor Inf Triyana, menjabat Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 181/PVT Sorong. Ibunya, Zainab Jelfoom, adalah Sekretaris Dinas PM-PTSP Kota Sorong, dan Jihad merupakan anak kedua mereka. Komandan Korem 181/PVT Brigjen TNI Slamet Riadi dan Komandan Grup 6 Kopassus Brigjen TNI Richard Arnold Y. Sangari hadir saat persemayaman.

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya