Rabu, 28 Oktober 2026
Pelayanan

Longsor Tabanan, Pengembang Perumahan Puskopad II Akan Dipanggil

Longsor Tabanan merusak tiga rumah di Perumahan Puskopad II Banjar Anyar. Wabup Dirga minta pengembang bertanggung jawab, dana bencana BPBD sudah habis.

Rumah warga yang rusak tertimpa material tebing longsor di sebuah perumahan di Kediri, Tabanan
Ilustrasi rumah di bawah tebing yang rusak akibat longsor di Perumahan Puskopad II, Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan. Ilustrasi dibuat dengan AI. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Pemerintah Kabupaten Tabanan akan memanggil pengembang Perumahan Puskopad II setelah longsor Tabanan merusak tiga rumah di kompleks itu. Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga menilai perumahan tersebut rawan karena berdiri tepat di bawah tebing dan di atas aliran sungai.

Menurut Pemkab Tabanan, pemanggilan itu untuk memastikan kelayakan tata ruang dan keselamatan warga. Dirga menyampaikannya saat meninjau lokasi pada Rabu, 28 Oktober 2026 sore, di Banjar Jadi Anyar, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri.

Longsor Tabanan itu terjadi pada Selasa, 27 Oktober 2026, sekitar pukul 20.00 WITA, saat hujan deras. Tebing tanah kosong di atas perumahan yang juga dikenal sebagai BTN Sanggulan itu ambrol dan material longsorannya menimpa tiga rumah. Tidak ada korban jiwa.

Wabup Dirga Minta Evaluasi Menyeluruh

Dirga menyebut penataan drainase harus menjadi prioritas. Ia juga meminta pengembang, pemerintah wilayah, desa dinas, dan pemerintah daerah berkoordinasi untuk mencegah bencana serupa.

“Banyak hal yang perlu dievaluasi, termasuk kemungkinan pelanggaran yang memicu bencana. Pengembang harus dipanggil dan dimintai pertanggungjawaban. Jika persoalan tidak bisa diselesaikan sendiri, harus dikoordinasikan dengan pemerintah agar segera ditemukan solusi,” kata Dirga.

Ia juga mengingatkan agar perumahan tidak dijual murah dengan mengorbankan keselamatan penghuninya. “Jangan sampai menawarkan murah, tetapi mengancam keselamatan. Kita segera berkoordinasi mengenai hal ini,” ujarnya.

Hingga Rabu sore, Pemkab Tabanan belum menyebut nama pengembang maupun jadwal pemanggilan. Penyebab pasti longsor juga belum diumumkan pihak berwenang.

Warga Minta Senderan di Atas Perumahan

Salah satu pemilik rumah, Ferdinano Vitson Pura (56), sudah 16 tahun tinggal di perumahan itu. Ia mengaku baru kali ini mengalami longsor. Ia menduga air deras dari lahan kosong di atas rumahnya memicu tebing ambrol setelah kemarau panjang.

Ferdinano meminta pemerintah dan pihak terkait membangun senderan, atau tembok penahan tanah, yang kuat di bagian atas perumahan. Menurut dia, penahan itu diperlukan supaya limpasan air dari kawasan atas tidak mengalir lurus ke rumah-rumah di bawah tebing.

Pemilik rumah lain, I Nengah Wardana Putra, menyebut air dari tebing sebenarnya rutin merembes. “Rembesan air dari tebing sebenarnya sudah biasa terjadi, tetapi kali ini aliran air membesar setelah hujan deras sehingga longsor terjadi dalam waktu singkat,” katanya. Gudang dan kamar suci di rumahnya rusak.

Dapur, kamar mandi, dan ruang tamu di rumah Ferdinano rusak. Ia memperkirakan kerugiannya sekitar Rp50 juta. Rumah I Made Fika Aryawan rusak di bagian dapur, kamar mandi, dan tempat jemuran.

Meski rumahnya rusak, Ferdinano memilih bertahan. “Kami tetap akan tinggal di sini. Mau pindah ke mana? Untuk sementara, kami tinggal di rumah tetangga,” ujarnya. Dirga bersama PMI Tabanan menyerahkan paket sembako kepada keluarga korban.

Pembersihan Manual dan Anggaran BPBD yang Habis

BPBD Tabanan menurunkan Tim Reaksi Cepat untuk membersihkan puing dan lumpur bersama pemilik rumah. Kepala BPBD Tabanan I Nyoman Sri Nadha Giri mengatakan pekerjaan dilakukan secara manual karena gang menuju lokasi terlalu sempit untuk alat berat. Ia memperkirakan pembersihan rampung pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Menurut Sri Nadha Giri, bencana ini juga berdampak di Perumahan Panorama, Banjar Anyar. Tembok garasi rumah warga di sana rusak karena saluran air subak jebol.

Sri Nadha Giri mengatakan dana bencana dalam anggaran induk BPBD tahun ini, sebesar Rp2,6 miliar, sudah terpakai seluruhnya sejak awal tahun. Karena itu, BPBD meminta tambahan Rp2 miliar untuk penanganan pascabencana lewat APBD Perubahan 2026. “Kami ajukan penambahan di perubahan 2 miliar untuk memperkuat penanganan dampak bencana serta membantu masyarakat terdampak,” kata Sri Nadha Giri.

Ia meminta warga segera melapor bila menemukan retakan tanah, pergerakan tebing, atau aliran air yang tidak biasa di sekitar rumah.

Kejadian Selasa Malam

Ketika tebing runtuh, Ferdinano tengah menambal genteng bocor dengan bertumpu pada sebuah kursi. Tanah lalu menjebol tembok belakang rumahnya. “Saya taunya sudah tergencet. Sudah merasa melayang,” tuturnya.

Putrinya, Veronica Sulastri Putri Pura, ikut tertimpa reruntuhan tembok. Tetangga yang mendengar teriakan minta tolong datang mengevakuasi keduanya. Veronica dibawa ke RSUD Tabanan. Ferdinano mengaku tangannya terluka.

Kapolsek Kediri Kompol Putu Budiawan membenarkan kejadian itu pada Rabu, 28 Oktober 2026. “Satu orang mengalami luka ringan dan tidak ada korban jiwa,” katanya.

Lokasi Berita:

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya