Ringkasan Berita:
- Ratusan warga menggelar aksi protes menuntut kejelasan penanganan bencana di Kantor Gubernur Aceh pada Jumat, 3 Juli 2026.
- Massa aksi menggambar bendera Bintang Bulan di dinding gedung sebagai bentuk kekecewaan mendalam terhadap pemerintah.
- Demonstran menuntut perbaikan bantuan hunian sementara dan transparansi anggaran penanganan bencana senilai ratusan triliun.
Ratusan massa menggelar demo korban bencana Aceh di depan Kantor Gubernur Aceh pada Jumat, 3 Juli 2026. Mereka memprotes lambatnya respons pemerintah daerah terkait nasib para penyintas bencana. Selain itu, massa turut mencoret dinding gedung menggunakan cat semprot.
Sebagai bentuk protes keras, demonstran menggambar lambang bendera Bintang Bulan di area depan gedung pemerintahan tersebut. Langkah ini mereka ambil karena merasa pemerintah bersikap abai. Bahkan, masyarakat terdampak bencana harus hidup tanpa kepastian selama berbulan-bulan.
Kekecewaan Terhadap Lambannya Penanganan Bencana
Seorang peserta aksi bernama Darris menyampaikan kritik tajam dalam orasinya. Ia menilai para penyintas sudah terlalu lama menanggung derita. Oleh karena itu, ia mempertanyakan empati para pemangku kebijakan.
“Sudah delapan bulan mereka (penyintas bencana) menderita, belum bisa tidur dengan nyenyak. Sudah delapan bulan pemerintah berbohong kepada rakyatnya. Di mana nurani pemerintah hari ini?” kata Darris dengan lantang.
Darris menegaskan bahwa masyarakat masih terus berjuang memulihkan keadaan. Namun, pemerintah justru tidak memberikan langkah penyelesaian yang pasti dan serius. Akibatnya, penderitaan rakyat terdampak bencana menjadi semakin panjang.
Sorotan Terhadap Transparansi Anggaran Ratusan Triliun
Sementara itu, koordinator lapangan aksi, Rivaldi, menyoroti masalah distribusi bantuan. Ia secara khusus mempertanyakan kualitas bantuan rumah hunian sementara (huntara). Selain itu, penyaluran jaminan hidup bagi korban juga dinilai tidak berjalan lancar.
Lebih lanjut, Rivaldi menuntut kejelasan anggaran penanganan bencana yang kabarnya mencapai angka raksasa. Ia menyebut dana tersebut seharusnya bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil.
“Jadup tidak jelas, huntara kena angin sedikit langsung hancur. Prabowo mengatakan ada anggaran 100 triliun, transparansinya tidak jelas. Apa mau memperkaya diri sendiri?” ujar Rivaldi di hadapan massa.
Identitas Rakyat dan Ultimatum Keras
Rivaldi memastikan bahwa aksi unjuk rasa ini sama sekali tidak berniat anarkis. Massa murni hadir untuk menyampaikan keluh kesah mereka secara langsung. Ia juga memberikan penjelasan mengenai simbol bendera yang mereka gambar.
“Kami tidak anarkis, kami datang baik-baik. Biarkan kami masuk ke dalam. (Bendera Bintang Bulan) ini adalah identitas rakyat Aceh, bukan bentuk separatis,” katanya menjelaskan.
Selanjutnya, ia menyuarakan rasa frustrasi para korban bencana yang sudah tak tertahankan. Jika pemerintah tetap gagal mengurus warganya, ia bahkan menyinggung kemerdekaan wilayah tersebut.
“Kalau hari ini pemerintah tidak becus mengurus rakyatnya sendiri, izinkan Aceh untuk merdeka. Kami datang murni untuk menyuarakan kemarahan masyarakat terdampak bencana,” ujarnya tegas.
Sebagai penutup, Rivaldi melontarkan kritik yang sangat tajam menyasar janji-janji politik masa lalu. Ia merasa rezim saat ini telah mengkhianati rakyat miskin.
“Lebih kurang kami menyebut rezim ini rezim binatang. Kami benci dengan rezim ini, seperti janji-janji kosong saat kampanye,” kata Rivaldi menutup orasinya.
Rangkuman Tuntutan Massa Aksi
Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi tuntutan para demonstran dalam aksi unjuk rasa ini:
- Meminta kejelasan nasib penyintas bencana setelah delapan bulan berlalu.
- Menuntut perbaikan kualitas bantuan rumah hunian sementara yang dianggap mudah hancur.
- Mendesak transparansi anggaran penanganan bencana yang diklaim mencapai seratus triliun rupiah.
- Menagih realisasi janji-janji kampanye pemerintah secara nyata kepada rakyat.