Ringkasan Berita:
- Kepala Pos Pantau memastikan video erupsi dahsyat Anak Krakatau pada malam hari yang beredar luas adalah hoaks.
- Aktivitas gunung saat ini terpantau fluktuatif dengan erupsi skala kecil yang hanya terjadi pada siang hari.
- Warga diimbau tetap tenang dan mematuhi batas larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah utama.
Keresahan sempat melanda masyarakat dan nelayan di pesisir Selat Sunda menyusul beredarnya sebuah rekaman visual yang mencekam di media sosial. Rekaman tersebut menampilkan letusan dahsyat yang disertai semburan lava pijar dan sambaran kilat pada malam hari. Menanggapi potensi kepanikan publik, otoritas pemantauan bergerak cepat meluruskan informasi dan memastikan bahwa tayangan video erupsi anak krakatau yang menyebar luas tersebut murni kabar bohong alias hoaks.
Dalam tayangan berdurasi singkat yang menjadi sorotan itu, narasi yang dibangun sengaja memperlihatkan seolah-olah terjadi lonjakan aktivitas vulkanik yang sangat ekstrem. Sang pembuat konten bahkan menyisipkan peringatan palsu tentang adanya larangan bagi kapal-kapal untuk melintas dalam radius 5 mil laut. Penampakan petir vulkanik selat sunda buatan di dalam tayangan tersebut sukses mengecoh banyak pengguna internet yang tidak sempat memverifikasi keabsahannya.
Klarifikasi Resmi Otoritas Pemantauan
Guna meredam kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Andi Suwardi, turun tangan memberikan penjelasan resmi. Ia membantah dengan tegas narasi yang menyebutkan gunung berapi itu mengalami letusan hebat pada malam hari seperti yang tergambar dalam rekaman yang viral.
“Mengenai video itu hoaks. Letusan Krakatau saat ini tidak seperti itu,โ kata dia, Sabtu (4/7/2026).
Lebih lanjut, Andi memaparkan fakta sebenarnya mengenai erupsi gunung anak krakatau pasca-letusan bersejarah 1883 tersebut. Menurut catatan instrumen, aktivitas alam ini memang terpantau, namun skalanya sangat berbeda dari klaim yang diviralkan. Kondisi letusan maupun hembusan gas masih berada dalam batas wajar meski terus menunjukkan dinamika secara berkala.
“Kegiatannya masih fluktuatif. Erupsi hanya terjadi satu kali pada hari Kamis dan satu kali hari Jumat, dan kejadiannya siang, bukan malam seperti di video,โ jelasnya.
Status Terkini dan Imbauan Batas Aman
Hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menetapkan status anak krakatau siaga atau tertahan di Level III. Mengingat tingkat aktivitas tersebut, masyarakat amat disarankan untuk selalu merujuk pada pedoman resmi instansi terkait dan mengabaikan unggahan di jejaring sosial yang tidak jelas rekam jejak sumbernya.
“Masyarakat harap tenang dan tidak cepat mempercayai isu-isu yang beredar. Nelayan dan wisatawan juga diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah,โ pungkasnya.