Rachmat Rizal Gozali, petarung yang dikenal dengan nama ring Kkcal, resmi melangkah ke BYON World Grand Prix 2026. Tiket itu ia rebut di BYON Madness 5, Bandung Arena, Sabtu (3/10/2026). Kkcal menundukkan Rendi Singgih lewat keputusan mutlak juri setelah tiga ronde. Kemenangan ini menutup perjalanan panjang yang berawal dari sebuah misi balas dendam.
Kisah itu tidak dimulai dari laga Kkcal sendiri. Kisahnya dimulai dari kekalahan seorang sahabat, dua tahun lalu, di ring yang sama-sama berlabel BYON.
Awal Cerita Kkcal: Kekalahan Kkungke di BYON 4
Akhir November 2024, BYON Combat Showbiz Vol. 4 digelar di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Ajang ini mengusung tema Indonesia melawan Malaysia. Salah satu laga utamanya mempertemukan Kkungke dengan petarung muda Malaysia, Putra Abdullah.
Hasilnya pahit bagi kubu Indonesia. Putra menang TKO atas Kkungke. Kemenangan itu tercatat sebagai kemenangan pertama Malaysia di ajang tersebut. Menpora saat itu, Dito Ariotedjo, menyaksikan langsung laga tersebut dari pinggir ring.
Kekalahan Kkungke inilah yang kelak menjadi bahan bakar Kkcal.
Misi Balas Dendam Kkcal di BYON Combat Showbiz 5
Tujuh bulan kemudian, nama Kkcal masuk kartu pertarungan BYON Combat Showbiz Vol. 5. Laga digelar 28 Juni 2025, kembali di Tennis Indoor Senayan. Lawannya tak lain adalah Putra Abdullah.
Duel itu dipromosikan sebagai laga balas dendam. Kkcal datang membawa misi menebus kekalahan sahabatnya, Kkungke.
Bobot laga itu makin terasa jika melihat karier Putra sesudahnya. Putra bermain imbang dengan Ronal Siahaan di BYON 6. Di pertemuan kedua, ia menang angka mutlak. Kemenangan itu mengantarnya menjadi juara perdana BYON Kickstriking Asia di Kuala Lumpur, April 2026.
Putra juga bukan petarung sembarangan. Harian Malaysia The Star menyebut ia berasal dari keluarga petarung. Kakaknya, Jordan Boy, berlaga di ONE Championship. Lawan seperti inilah yang menjadi batu uji Kkcal di awal kariernya di BYON.
Bangkit di Bandung, Kkcal Rebut Tiket Kelas 61 Kg
BYON Madness 5 menjadi edisi pertama ajang tersebut di Bandung. Byon madnes 5 merupakan panggung terakhir sebelum era World Grand Prix. Laga Kkcal melawan Rendi Singgih memperebutkan tiket terakhir wakil Indonesia di kelas 61 kg.
Kkcal datang dengan beban berbeda. Ia baru saja menelan hasil buruk pada penampilan sebelumnya.
Di atas ring, ia tampil menekan sejak ronde pertama. Laporan Infonesiaku mencatat Kkcal bertarung dengan kuda-kuda southpaw. Ia memainkan variasi serangan yang tidak biasa, mulai dari spinning backfist hingga superman punch. Di ronde ketiga, ia mengandalkan tendangan ke tubuh dan kerja kaki untuk menjaga jarak. Ketiga juri akhirnya memenangkan Kkcal.
Seusai laga, Kkcal bicara soal janji yang ia tepati. Ia juga bicara soal beratnya bangkit dari kekalahan.
“Sesuai janji saya, saya comeback di Bandung,” ujar Kkcal di atas ring, seperti dilaporkan Infonesiaku.
Menurutnya, perjuangan untuk bangkit terasa berlipat ganda. Yang paling berat bukan melawan lawan, melainkan melawan diri sendiri. Ia juga mengakui masih banyak kekurangan dan berjanji tampil lebih baik untuk Merah Putih.
Menuju BYON World Grand Prix 12 Desember
Kemenangan di Bandung membuat Kkcal menyusul Nelson Julianto, yang lebih dulu lolos di kelas 61 kg. Keduanya kini menjadi tumpuan Indonesia di kelas tersebut.
BYON World Grand Prix 2026 digelar di Indonesia Arena, Jakarta, pada 12 Desember. Turnamen ini melibatkan 16 petarung di kelas ringan dan welter. Petarung dari berbagai negara ikut memperebutkan slot lewat laga penentuan.
Panggung itu jauh lebih besar dari sekadar duel gengsi. BYON mengklaim telah menggelar 14 malam pertarungan dan memecahkan rekor pay-per-view Asia sebanyak tiga kali.
Bagi Kkcal, Desember menjadi ujian sesungguhnya. Perjalanannya berawal dari misi membela nama sahabat. Kini ia membawa nama Indonesia di turnamen internasional.
Tulis Komentar