Warga Kompleks Grand Batuah Mahatama di Jalan Lingkar Dalam Selatan, Kelurahan Tanjung Pagar, Banjarmasin Selatan, menggelar tolak bala pada Kamis, 8 Oktober 2026 malam. Kegiatan itu berlangsung sehari setelah isu hantu api merebak di lingkungan mereka.
Warga berjalan mengelilingi kompleks sambil melantunkan doa dan zikir. Mereka memohon perlindungan agar permukiman terhindar dari musibah, terutama kebakaran.
Pemicunya adalah laporan penampakan benda menyala pada Rabu, 7 Oktober 2026, sekitar pukul 21.00 WITA. Haris, salah seorang penghuni kompleks, menuturkan ada warga yang mengaku melihat api jatuh dari langit. Menurut cerita itu, nyala tersebut pecah lalu lenyap di lahan kosong dekat rumah.
Kabar itu cepat menyebar dari mulut ke mulut. Sebagian warga mengaitkannya dengan sosok gaib, sebagian lagi dengan kebakaran yang belakangan disebut kerap melanda permukiman di Banjarmasin. Dari situlah cerita soal hantu api berkembang, meski belum ada penjelasan resmi tentang wujud benda tersebut.
Tolak bala, cara lama urang Banjar menghadapi api
Respons warga Tanjung Pagar bukan hal baru. Di Kalimantan Selatan, istilah hantu api sudah lama dikenal, terutama di kalangan suku Banjar. Mitos ini merujuk pada makhluk gaib yang diyakini terlibat setiap kali kebakaran terjadi.
Budayawan Banjar, Tajuddin, dalam keterangannya beberapa tahun silam memaknai sosok itu secara berbeda. Menurutnya, hantu api bukan penyebab kebakaran dan tidak memperbesar kobaran. Ia menafsirkannya sebagai peringatan agar masyarakat waspada terhadap musibah api.
Peneliti Zulfa Jamalie dalam kajiannya di jurnal el Harakah tahun 2016 mencatat tradisi Maarak Kitab Bukhari sebagai salah satu bentuk tolak bala masyarakat Banjar. Tradisi itu lahir dari lingkungan yang rawan kebakaran. Ritualnya digelar malam hari saat kemarau, biasanya setelah warga merasa mendapat tanda peringatan.
Kecemasan di kawasan yang pernah dikepung api
Kekhawatiran warga juga punya latar yang nyata. Pada Kamis, 23 Juli 2026, kebakaran lahan terjadi dua kali di Banjarmasin Selatan. Salah satunya muncul pada malam hari di kawasan Lingkar Dalam Selatan, tempat kompleks tersebut berada.
Sekretaris BPBD Kota Banjarmasin, Budi Fitriadi, pada Minggu, 26 Juli 2026 menyebut kebakaran lahan di kota itu tidak dipicu titik panas. Menurutnya, api berasal dari kelalaian warga saat membakar sampah dan membuang puntung rokok. Banjarmasin Selatan termasuk satu dari tiga kecamatan yang dipantau intensif BPBD.
BMKG juga memprakirakan curah hujan di Kalimantan Selatan baru mulai meningkat pada Oktober 2026. Banjarmasin termasuk wilayah selatan yang disebut paling akhir mengalami kenaikan hujan.
Dengan latar itu, doa bersama dapat dibaca sebagai cara warga meredam cemas sekaligus saling menguatkan. Namun, isu hantu api tetap berstatus kepercayaan warga. Hingga Jumat, 9 Oktober 2026, belum diketahui pasti benda apa yang terlihat jatuh pada Rabu malam itu.
Temuan BPBD soal pembakaran sampah dan puntung rokok pun tetap relevan bagi warga. Ikhtiar lewat doa bisa berjalan beriringan dengan kewaspadaan di sekitar rumah.
Tulis Komentar