Suku bunga The Fed memang ditahan di 3,75-4,00 persen, tetapi Bank Indonesia (BI) sudah memperkirakan bank sentral AS itu bakal kembali menaikkan bunga sejak Rabu, 21 Oktober 2026. Pada 20-28 Oktober 2026, rupiah melemah dari Rp17.985 menjadi Rp18.184 per dolar AS sebelum keputusan itu diumumkan. Kontrak berjangka kini memberi peluang besar bagi kenaikan pada rapat Rabu, 9 Desember 2026.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengumumkan keputusan tersebut pada Rabu, 28 Oktober 2026 pukul 14.00 waktu Washington (EDT). Di Indonesia, pengumuman jatuh pada Kamis dini hari, 29 Oktober 2026 WIB. Keputusan diambil lewat voting 10-2.
Dalam siaran pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20-21 Oktober 2026, BI menyebut peluang kenaikan kembali Fed Funds Rate besar. “Kebijakan moneter global ketat diprakirakan berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama,” tulis BI. Meski begitu, BI menahan BI-Rate di 5,75 persen dan suku bunga Lending Facility di 6,50 persen. BI hanya menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00 persen.
Voting 10-2, Cook dan Hammack Minta Naik
Dua anggota komite menolak keputusan menahan bunga. Mereka adalah Gubernur The Fed Lisa D. Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth M. Hammack. Keduanya memilih kenaikan 25 basis poin pada rapat ini. Ketua The Fed Kevin Warsh tidak termasuk yang menolak.
Bagi Hammack, ini bukan pertama kalinya ia berbeda pendapat, karena hal serupa terjadi pada keputusan Juli. Cook sendiri sedang berhadapan dengan Presiden AS Donald Trump, yang berupaya mencopotnya dari kursi gubernur bank sentral.
FOMC kini menilai ekonomi AS tumbuh dengan laju kuat. Pada rapat 15-16 September 2026, komite masih memakai kata “solid”. Belanja domestik dinilai tangguh, investasi kuat, dan angka pengangguran nyaris tak berubah. Namun, inflasi disebut masih tinggi, dan komite menyatakan butuh tambahan informasi untuk menentukan sikap kebijakan.
Kisaran 3,75-4,00 persen berlaku sejak rapat September, ketika The Fed menaikkan bunga 25 basis poin. Saat ini laju harga di AS masih melampaui sasaran 2 persen dengan selisih sekitar satu poin persentase. Sasaran itu sudah luput dicapai selama sekitar lima setengah tahun.
Pasar Bidik Kenaikan 9 Desember
Data kontrak berjangka fed funds, yakni kontrak yang dipakai pelaku pasar untuk bertaruh soal arah bunga acuan, menunjukkan peluang sekitar 85 persen kenaikan 25 basis poin pada Rabu, 9 Desember 2026. Peluang itu hampir sama dengan sehari sebelum keputusan diumumkan.
Kontrak yang sama menyiratkan suku bunga The Fed naik dari sekitar 3,9 persen menjadi hampir 4,7 persen pada September 2027. Itu setara sekitar tiga kali kenaikan lagi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun pun kembali di atas 5 persen.
Warsh menolak anggapan bahwa pemilu paruh waktu AS pada Selasa, 3 November 2026 ikut memengaruhi keputusan. “Politik tidak berperan dalam keputusan ini,” katanya. Ia mengaku tidak mendengar satu pun pembicaraan politik selama dua hari rapat.
Menurut Warsh, kebijakan moneter The Fed mulai sedikit bekerja, tetapi belum ada kesimpulan pasti. Ia juga enggan menyebut kondisi keuangan saat ini ketat.
Rupiah Melemah Sejak RDG BI
BI mencatat rupiah berada di Rp17.985 per dolar AS pada Selasa, 20 Oktober 2026. Posisi itu melemah 0,61 persen dibanding akhir September 2026. Rupiah lalu ditutup di Rp18.156 pada Selasa, 27 Oktober 2026 dan Rp18.184 pada Rabu, 28 Oktober 2026, turun 28 poin atau 0,15 persen. Kurs JISDOR BI pada 28 Oktober tercatat Rp18.183, dari Rp18.139 pada penutupan sebelumnya.
Berikut pergerakan rupiah menurut data Bank Indonesia dan penutupan pasar.
| Tanggal | Kurs (Rp per dolar AS) | Keterangan |
|---|---|---|
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 17.985 | Data Bank Indonesia |
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 18.156 | Penutupan pasar |
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 18.184 | Penutupan pasar |
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 18.183 | JISDOR Bank Indonesia |
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah di tengah kenaikan indeks dolar AS,” kata Lukman Leong, analis Doo Financial Futures. Ia menambahkan, harga minyak yang tinggi dan aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik ikut membebani.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada Kamis, 29 Oktober 2026, dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.180-18.230. Untuk pekan depan, ia memperkirakan rentang Rp17.900-18.250 per dolar AS.
Di pasar saham, IHSG ditutup naik 0,31 persen ke 5.282,3 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Indeks sempat turun hingga 5.167 di tengah perdagangan.
Langkah BI dan Jadwal hingga Desember
Untuk meredam tekanan pada rupiah, BI dalam RDG 20-21 Oktober 2026 menyiapkan intervensi valas lewat transaksi NDF di luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di dalam negeri. BI juga memperbesar potongan premi DNDF lindung nilai, dari 25 persen menjadi 40 persen untuk tenor 6 bulan dan dari 30 persen menjadi 45 persen untuk tenor 12 bulan.
Menurut BI, insentif itu sudah menarik modal asing 9,9 miliar dolar AS sejak Juni 2026, per Selasa, 20 Oktober 2026. Cadangan devisa akhir September 2026 tercatat 146,3 miliar dolar AS, setara sekitar 5,3 bulan impor.
Di sisi lain, BI melonggarkan likuiditas bank secara bertahap. Berikut jadwal kebijakan BI dan agenda AS yang sudah diumumkan hingga Desember.
- Minggu, 1 November 2026, Giro Wajib Minimum (GWM) bank umum konvensional turun dari 9 persen menjadi 8 persen; GWM bank syariah turun dari 7,5 persen menjadi 6,5 persen.
- Selasa, 3 November 2026, pemilu paruh waktu AS.
- Selasa, 1 Desember 2026, GWM bank konvensional turun menjadi 7 persen dan bank syariah menjadi 5,5 persen; insentif likuiditas makroprudensial (KLM) turun dari 6 persen menjadi 5 persen.
- Rabu, 9 Desember 2026, rapat FOMC berikutnya.
Jadwal Rapat FOMC Berubah Mulai 2027
Dalam rapat yang sama, Warsh mengumumkan perubahan jadwal FOMC. Jumlah rapat tetap delapan kali setahun. Namun, mulai 2027 satu rapat khusus membahas strategi kebijakan moneter, tanpa voting suku bunga dan tanpa pernyataan kebijakan.
Warsh memperkirakan pada 2028 akan ada dua rapat strategi dan enam rapat penetapan kebijakan. Menurut dia, komite perlu menyisihkan waktu untuk memikirkan ulang persoalan besar dengan cakupan waktu yang lebih panjang.
Tulis Komentar