Ekspor gas ke Singapura dipangkas 31 BBTUD mulai Sabtu, 24 Oktober 2026. Keputusan ini datang lima bulan setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjamin tidak ada lagi pemotongan kuota ekspor gas pada 2026. Pasokan hanya dikurangi, bukan dihentikan. Kontrak dengan pembeli di Singapura masih berlaku hingga akhir 2028.
Pemangkasan diumumkan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto pada Jumat malam, 23 Oktober 2026. Ia menyampaikannya di sela Malam Penganugerahan Energi Subroto 2026 di Jakarta. BBTUD adalah satuan miliar British thermal unit per hari.
“Mulai besok kita kurangi gas ke Singapura dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatera 16 BBTUD,” kata Djoko.
Rincian Pemangkasan dari Natuna dan Sumatra
Pasokan dari Natuna berkurang 15 BBTUD. Pasokan dari Sumatra berkurang 16 BBTUD, seluruhnya dari Wilayah Kerja (WK) Jambi Merang yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Djoko menyebut hanya Singapura yang pasokannya dikurangi, sebab jaringan pipa ekspor Indonesia tidak terhubung ke negara lain.
“Ekspor pipa transmisi kita memang hanya tersambung ke Singapura,” ujar Djoko.
Menurut data SKK Migas, kontrak penjualan gas ke Gas Supply Pte Ltd (GSPL) diperpanjang pada 2023 hingga 2028. Volumenya 160 BBTUD pada 2023 dan 180 BBTUD untuk periode 2024–2028.
Berikut rincian pemangkasan dan volume kontrak GSPL berdasarkan data SKK Migas.
| Uraian | Volume (BBTUD) | Keterangan |
|---|---|---|
| Pemangkasan dari Natuna | 15 | Berlaku Sabtu, 24 Oktober 2026 |
| Pemangkasan dari Sumatra | 16 | WK Jambi Merang, dikelola PHE |
| Total pemangkasan | 31 | Hanya untuk Singapura |
| Kontrak GSPL 2023 | 160 | Diperpanjang hingga 2028 |
| Kontrak GSPL 2024–2028 | 180 | Berakhir 2028 |
Mei Lalu Bahlil Menjamin Kuota 2026 Tidak Dipotong
Pada Rabu, 20 Mei 2026, Bahlil berbicara di hadapan pelaku hulu migas dalam IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang. Ia mengakui kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) menghadapi dinamika penyesuaian alokasi gas sepanjang 2025. Ia lalu berjanji hal itu tidak terulang.
“Tapi di 2026 tidak akan ada lagi pemotongan kuota ekspor untuk market ataupun yang sudah dikontrakkan ke luar negeri,” kata Bahlil saat itu.
Dalam acara yang sama, ia menyatakan semua ekspor sudah ia setujui dan tanda tangani. “Biarlah kebutuhan dalam negeri kita putar otak,” ujarnya.
Pada Rabu, 21 Oktober 2026, usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Bahlil membuka kemungkinan tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga. Ia mengaitkannya dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia sedang dalam kondisi harus bertahan atau survival.
“Jadi kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Bahlil.
Pada Kamis, 22 Oktober 2026, Bahlil meresmikan pengaliran gas Lapangan MAHA di Kalimantan Timur. Di sana ia kembali menyinggung kontrak ekspor. “Kami akan mengevaluasi kontrak gas dengan negara-negara yang tidak kooperatif dan tidak saling menghargai,” tegasnya.
Porsi Ekspor 30 Persen Akan Dihitung Ulang
Di Kementerian ESDM, Jumat, 23 Oktober 2026, Bahlil yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi menyebut sekitar 70 persen produksi gas nasional kini dipakai di dalam negeri. Sisanya, 30 persen, diekspor.
Menurut Bahlil, porsi itu akan dihitung ulang agar lebih banyak gas dipakai sebagai bahan baku petrokimia di dalam negeri. “Bahan bakunya adalah gas,” katanya. Pemerintah memproyeksikan produksi gas nasional mencapai 3.000 MMSCFD pada 2028–2029, dengan produksi kondensat 130.000 barel per hari.
“Kita menghargai semua hubungan internasional, tetapi asas saling menghargai harus berlaku dua arah,” ujar Bahlil.
Pemerintah belum merinci besaran porsi ekspor dan konsumsi domestik yang baru setelah evaluasi.
Posisi Gas Indonesia bagi Singapura
Indonesia termasuk pemasok utama gas alam Singapura. Pada September 2025, Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong menyampaikan kepada parlemen bahwa kontrak impor gas dari Indonesia berakhir pada akhir 2028.
Menurut Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA), 40 persen pasokan gas Singapura datang lewat pipa dari Malaysia dan Indonesia. Sisanya didatangkan lewat laut dari berbagai negara. Pada 2020, SKK Migas mencatat tiga kontrak ekspor gas ke Singapura dengan pasokan minimal sekitar 700 MMSCFD, setara hampir 60 persen pasokan gas negara itu.
Kronologi Kebijakan Ekspor Gas
- Rabu, 28 September 2022: Menteri ESDM saat itu, Arifin Tasrif, menyatakan kontrak penjualan gas ke Singapura diperpanjang lima tahun.
- 2023: kontrak dengan GSPL diperpanjang hingga 2028, dengan volume 160 BBTUD pada 2023.
- April 2025: Djoko menyatakan pasokan untuk Singapura dipindah dari Sumatra ke Natuna, dan ekspor sekitar 30 MMSCFD dikurangi mulai Juni 2025.
- Rabu, 20 Mei 2026: Bahlil menjamin tidak ada pemotongan kuota ekspor gas pada 2026.
- Rabu, 21 Oktober 2026: Bahlil mempertimbangkan tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga.
- Jumat, 23 Oktober 2026: SKK Migas mengumumkan pemangkasan 31 BBTUD.
- Sabtu, 24 Oktober 2026: pemangkasan mulai berlaku.
Tulis Komentar