Tanggul Lawe Bulan jebol lagi di Aceh Tenggara, dan jumlah warga terdampak melonjak hampir tujuh kali lipat dibanding banjir dua pekan sebelumnya. Laporan Pusdalops-PB BPBD Aceh Tenggara pukul 12.00 WIB, Senin, 12 Oktober 2026, mencatat 350 kepala keluarga (KK) atau 1.387 jiwa terdampak. Pada banjir 26–27 September 2026, BPBA mencatat 52 KK atau 203 jiwa.
Hujan lebat mulai turun Jumat, 9 Oktober 2026 malam, dan kejadian dilaporkan sekitar pukul 23.32 WIB. Tanggul Sungai Lawe Bulan di Desa Pulonas Baru, Kecamatan Lawe Bulan, jebol sehingga air meluap ke permukiman. Laporan BPBD belum mencatat korban jiwa.
Tanggul yang sudah ditutup jebol kembali
Di Desa Lawe Kihing, Kecamatan Bambel, tanggul penahan tebing Sungai Lawe Bulan/Lawe Kisam sepanjang sekitar 50 meter jebol. Bagian yang sempat ditutup ambrol lagi sekitar pukul 23.00 WIB ketika hujan turun kembali.
“Tanggul itu sudah ditutup, namun jebol lagi karena hujan yang turun dalam waktu lama,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Aceh Tenggara, Dodi Sukmariga Tajmal.
Belum ada kajian resmi tentang penyebab teknis jebolnya tanggul. BPBD menyebut hujan berdurasi panjang dan naiknya debit sungai sebagai pemicu.
Banjir kali ini mengenai empat kecamatan: Ketambe, Lawe Bulan, Babussalam, dan Bambel. Banjir sebelumnya pada 26–27 September 2026 mengenai 13 desa tanpa korban jiwa dan tanpa pengungsi. Saat itu tanggul Sungai Lawe Kisam jebol di Terutung Megara Lawe Pasaran. Gerusan arus Sungai Lawe Bulan juga mengikis jalan Pulonas Baru sekitar 50 meter.
Dampak pada jalan, air bersih, dan lahan
Jalan nasional Kutacane–Medan, dari Bambel Gabungan hingga Terutung Megara Asli, terendam 30–50 sentimeter. Di Desa Kati Maju, Kecamatan Ketambe, longsor menutup jalan nasional Kutacane–Blangkejeren.
Arus banjir menghanyutkan intake SPAM Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara. Gudang logistik BPBD dan SMPIT Al Khansa ikut tergenang. Menurut data BPBD, banjir juga merendam sekitar 15 hektare lahan pertanian di tiga desa.
Penanganan darurat dan desakan solusi permanen
BPBD mengerahkan tiga alat berat, dua milik BPBD dan satu dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I. Alat itu dipakai menutup tanggul, mengeruk, dan menormalisasi sungai. Karung pasir dipasang di Lawe Kihing, sedangkan posko pengungsi berupa tenda didirikan di Bambel Gabungan. Petugas pemadam kebakaran BPBD membersihkan lumpur di ruas Pulonas Baru–Lawe Rutung. Air berangsur surut, dan jumlah pengungsi masih menunggu pendataan.
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh, Yahdi Hasan, meninjau tanggul yang jebol dan mendesak BWS Sumatera I membangun tembok penahan sungai permanen. Ia menyatakan perbaikan sementara tidak cukup dan keselamatan warga harus didahulukan.
Di Desa Terutung Seprai, Kecamatan Bambel, sebagian warga mengungsi di tenda yang bocor. Pada Minggu, 11 Oktober 2026 malam, air hujan masuk lewat atap tenda. Salihin dan keluarganya terpaksa menumpang di teras rumah penduduk. Sebanyak 10 keluarga pengungsi dilaporkan kehilangan barang karena terendam dan terseret arus.
“Tidak ada barang yang terselamatkan, baju serta beras semua terendam dan terseret air,” kata Salihin.
Tulis Komentar