Selasa, 27 Oktober 2026
Pelayanan

Kebakaran Gunung Ciremai, Bonus dan Dana Upah KDM Belum Jelas

Kebakaran Gunung Ciremai belum padam hingga Kamis pagi. Dedi Mulyadi menjanjikan upah Rp250 ribu per hari, tetapi bonus dan sumber dananya belum disebut.

Asap kebakaran hutan membubung di lereng Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan
Ilustrasi kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Sumber foto: jabarekspres.com. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjanjikan upah Rp250 ribu per orang per hari kepada warga yang ikut memadamkan kebakaran Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan. Ia juga menjanjikan bonus bila api cepat padam. Namun, dalam pernyataannya pada Kamis, 22 Oktober 2026, ia tidak menyebut besar bonus, sumber dana, maupun cara warga didata dan dibayar.

Api terdeteksi pada Rabu, 21 Oktober 2026, sekitar pukul 20.44 WIB di Grid 15 M, Resor Pasawahan, SPTN Wilayah I Kuningan, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hingga pukul 07.15 WIB keesokan harinya, Kamis, 22 Oktober 2026, TNGC melaporkan api masih menyala. Patroli udara juga masih menemukan titik api.

Dedi tiba di sekitar lokasi pada siang hari, Kamis, 22 Oktober 2026. Ia mengabarkan kedatangannya lewat video di akun Instagram miliknya. “Kalau dibiarkan akan menimbulkan kerawanan kebakaran yang lebih luas,” katanya.

Upah Rp250 Ribu dan Bonus untuk Warga

Dedi meminta kepala desa, ketua RT dan RW, serta camat segera menggerakkan warga sekitar gunung, terutama di Desa Seda dan Desa Cibuntu.

Ia menyebut upah itu dihitung per hari kerja. “Kami menyiapkan Rp250 ribu per orang untuk sehari kerja pemadaman api. Dan apabila apinya cepat terpadamkan segera, kami memberikan bonus,” kata Dedi.

Dedi juga menyebut jumlah warga yang ia harapkan ikut. “Kalau ada seribu orang warga naik ke sini, dalam satu jam apinya juga selesai,” ucapnya. Menurut dia, jika api menjalar dan gunung terbakar, seluruh warga akan kehilangan penghidupan.

Dalam pernyataan hari itu, Dedi tidak menyebut besar bonus yang disiapkan. Ia juga tidak menjelaskan apakah upah dibayar dari anggaran Pemprov Jawa Barat atau dari sumber lain. Siapa yang mencatat kehadiran warga dan kapan upah dibayarkan juga belum dijelaskan.

Dedi belum menjelaskan perlengkapan pelindung bagi warga yang naik ke medan pegunungan. Ia sendiri menyebut kondisi medan pegunungan sebagai salah satu tantangan pemadaman.

Dua Lokasi dengan Kondisi Berbeda

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jawa Barat mencatat dua lokasi kebakaran di Kuningan pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Lokasi pertama adalah lahan bambu di Desa Pasayangan, Kecamatan Lebakwangi. Dari sekitar 2 hektare lahan, kira-kira 1,5 hektare terbakar. Api di sana ditangani lima personel piket UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP Kuningan, yang memadamkan sekaligus mendinginkannya dalam waktu sekitar 35 menit. Lokasi kedua adalah kawasan hutan Resor Pasawahan di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan. Luas yang terbakar di sana belum selesai didata.

Berikut perbandingan kedua lokasi berdasarkan data Pusdalops PB BPBD Jawa Barat dan TNGC.

Keterangan Desa Pasayangan Desa Cibuntu
Kecamatan Lebakwangi Pasawahan
Jenis lahan Lahan bambu Kawasan hutan Resor Pasawahan SPTN Wilayah I Kuningan
Luas terbakar Sekitar 1,5 ha dari 2 ha Masih didata
Penanganan 5 personel piket UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP, sekitar 35 menit Tim gabungan Brigdalkarhutla TNGC, BPBD, Manggala Agni, MPA, dan warga
Status Dipadamkan dan didinginkan Belum padam per Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 07.15 WIB

Petugas di Lapangan

Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Indra Bayu Permana, memimpin langsung pergerakan timnya ke lokasi. “Tim BPBD bergerak membantu penanganan kebakaran hutan di wilayah TNGC. Sebanyak 18 personel sudah diterjunkan,” ujarnya.

Selain BPBD Kuningan, pemadaman kebakaran Gunung Ciremai melibatkan Brigdalkarhutla TNGC dan Balai Brigdalkarhutla Jabalnusra. Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Masyarakat Peduli Api (MPA), mitra wisata TNGC, Satpol PP, dan warga sekitar hutan juga ikut membantu.

Pusdalops PB BPBD Jawa Barat menyatakan penyebab kebakaran di kedua lokasi belum diketahui. Dedi meminta warga tidak membakar ilalang. “Jangan melakukan pembakaran-pembakaran ilalang untuk kepentingan pertanian dan sejenisnya. Di tengah-tengah udara lagi terik dan hujan masih belum turun secara merata,” katanya.

Imbauan serupa disampaikan TNGC. Warga diminta tidak menyalakan api di kawasan hutan maupun di sekitarnya dan tidak meninggalkan sisa api di lahan. Bila melihat titik api, warga diminta melapor ke petugas yang paling dekat.

Lokasi Berita:

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya