Karhutla Parigi Moutong membakar sekitar 3,5 hektare kebun milik warga di Kecamatan Bolano dan Bolano Lambunu, Sulawesi Tengah, pada Rabu, 30 September 2026. Dua kebakaran terjadi dalam waktu berbeda, dengan kondisi penanganan yang juga tidak sama karena akses menuju salah satu lokasi sulit dijangkau.
Kebakaran pertama terjadi di Desa Petunasugi, Kecamatan Bolano Lambunu, sekitar pukul 12.30 WITA. Api membakar kurang lebih dua hektare lahan perkebunan yang ditanami kakao, cengkeh, kelapa, jengkol, dan sejumlah tanaman lainnya.
Personel TNI dari Yonif TP 918/MM, Polri, dan masyarakat setempat terlibat dalam proses pemadaman. Api dilaporkan berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 17.00 WITA setelah petugas melanjutkan penanganan hingga tahap pendinginan.
Ketika kebakaran di Petunasugi berhasil dikendalikan, kejadian kedua dilaporkan muncul di Dusun 3, Desa Wanamukti Utara, Kecamatan Bolano. Jarak waktu yang berdekatan membuat penanganan karhutla hari itu tidak berhenti pada satu lokasi.
Kebakaran Kedua Berjarak 500 Meter dari Permukiman
Kebakaran di Wanamukti Utara terjadi sekitar pukul 17.00 WITA dan membakar kurang lebih 1,5 hektare kebun warga. Lokasinya dilaporkan berada sekitar 500 meter dari kawasan permukiman.
Hingga laporan diterima Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Parigi Moutong pada pukul 18.10 WITA, api di lokasi kedua belum berhasil dipadamkan. Kondisi medan yang sulit dijangkau menjadi salah satu hambatan penanganan.
Warga bersama aparat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP kecamatan, dan Tim Reaksi Cepat BPBD kemudian berkoordinasi untuk menyiapkan langkah pemadaman. Laporan BPBD menyebut penanganan di Wanamukti Utara membutuhkan tambahan mobil pemadam, peralatan, dan personel.
Status api yang belum padam tersebut merupakan kondisi pada pukul 18.10 WITA, bukan informasi mengenai situasi terkini setelah laporan diterbitkan. Belum ditemukan pembaruan resmi dalam sumber yang diperiksa mengenai waktu api sepenuhnya dikendalikan.
Kebun Produktif Menjadi Bagian dari Area Terdampak
Dampak kebakaran kali ini tidak hanya dihitung dari luas lahan. Pada lokasi pertama, area yang terbakar merupakan kebun dengan tanaman kakao, cengkeh, kelapa, dan jengkol. Namun, BPBD belum mengumumkan jumlah tanaman yang rusak maupun nilai kerugian ekonomi yang dialami pemilik kebun.
Karena belum ada perhitungan resmi, dampak kebakaran terhadap produksi dan pendapatan warga belum dapat dipastikan. Luas sekitar 3,5 hektare merupakan gabungan dari dua lokasi, yakni kurang lebih dua hektare di Petunasugi dan 1,5 hektare di Wanamukti Utara.
Informasi tersebut sekaligus menunjukkan perbedaan karakter penanganan kedua kejadian. Petunasugi dapat ditangani dalam waktu sekitar empat setengah jam, sedangkan pemadaman di Wanamukti Utara menghadapi keterbatasan akses menuju titik api.
Kondisi medan juga pernah menjadi hambatan dalam penanganan karhutla di wilayah Parigi Moutong. Pada kebakaran di Desa Santigi, Kecamatan Ongka Malino, 16 September 2026, tim gabungan harus menggunakan pompa punggung karena lokasi berada di atas gunung dan tidak dapat dicapai mobil pemadam.
Parigi Moutong Catat 22 Kebakaran Selama September
Laporan BPBD Kabupaten Parigi Moutong mencatat sebanyak 33 kejadian bencana selama September 2026. Dari jumlah tersebut, 22 kejadian berupa kebakaran. Data itu memperlihatkan bahwa kebakaran menjadi jenis kejadian yang paling sering dilaporkan di daerah tersebut sepanjang bulan lalu.
Beberapa kebakaran lahan sebelumnya juga terjadi di wilayah Bolano dan Bolano Lambunu. Pada 19 September 2026, kebakaran dilaporkan melanda kebun kelapa di Desa Lambunu Utara. Kebakaran lain kemudian terjadi di Desa Bolano Induk pada 22 September dan Desa Wanamukti Utara pada 26 September 2026.
Rangkaian kejadian tersebut tidak otomatis menunjukkan semua kebakaran memiliki penyebab yang sama. Setiap peristiwa harus diperiksa berdasarkan kondisi lokasi, keterangan saksi, dan hasil penyelidikan petugas.
Untuk dua kebakaran pada 30 September 2026, penyebabnya masih dalam penyelidikan dan belum dapat dipastikan. Karena itu, kebakaran tidak boleh langsung disebut akibat pembukaan lahan, kelalaian warga, cuaca panas, atau faktor tertentu lainnya sebelum ada keterangan resmi.
Akses Pemadaman Menjadi Titik Penting Penanganan
Dua kejadian dalam satu hari memperlihatkan bahwa kecepatan laporan saja belum selalu cukup. Penanganan juga dipengaruhi jarak sumber air, kondisi jalan, ketersediaan kendaraan pemadam, jumlah personel, dan kemampuan peralatan mencapai titik api.
Kebutuhan mobil dan peralatan pemadam di Wanamukti Utara menunjukkan pentingnya pemetaan akses menuju kawasan perkebunan yang rawan terbakar. Jika kendaraan tidak dapat mendekati lokasi, petugas memerlukan peralatan bergerak seperti pompa punggung serta dukungan personel yang cukup untuk mencegah api meluas.
BPBD Parigi Moutong mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kondisi lahan mengering dan tidak melakukan pembakaran yang berpotensi membuat api meluas. Masyarakat juga perlu segera melaporkan kemunculan api agar penanganan dapat dimulai sebelum kebakaran menjangkau area yang lebih luas atau mendekati permukiman.
Tulis Komentar