Senin, 26 Oktober 2026
Peristiwa

OMC Papua Barat Baru Punya 4 Ton Garam, Cukup 4 Kali Terbang

OMC Papua Barat dimulai 14 Oktober 2026 dengan 4 ton garam, cukup empat kali terbang, untuk Kaimana, Fakfak, dan Teluk Bintuni yang titik panasnya terbanyak.

Pesawat penyemai awan di landasan Bandara Rendani Manokwari dengan langit berkabut asap
Ilustrasi pesawat penyemaian awan yang bersiap terbang dari Bandara Rendani, Manokwari. Ilustrasi dibuat dengan AI. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

OMC Papua Barat dimulai pada Rabu, 14 Oktober 2026, dengan bekal 4 ton garam yang baru cukup untuk empat kali terbang. Sasarannya tiga kabupaten prioritas, yakni Kaimana, Fakfak, dan Teluk Bintuni, tempat sebaran titik panas terbanyak.

Pesawat pengangkut garam mendarat di Bandara Rendani, Manokwari, pada pagi hari itu. Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan meninjau pelaksanaan operasi di bandara tersebut. Soal metode di udara, Mandacan berkata, “Kalau di udara ini baru sekali ini.”

Satu penerbangan membawa sekitar 1 ton garam dan terbang kurang lebih dua jam, kata Mandacan. Dengan stok yang tiba, penyemaian bisa dilakukan empat kali terbang.

Koordinator lapangan pelaksanaan operasi, Fais Ramadan, menyebut total garam yang disiapkan 8 ton. Empat ton lainnya masih dalam perjalanan. Jumlah penerbangan per hari menyesuaikan kondisi awan dan rekomendasi BMKG. Operasi dijadwalkan berlangsung sampai Kamis, 15 Oktober 2026, sedangkan perpanjangan menunggu arahan BNPB.

Menurut Fais, tim memprioritaskan awan kumulus potensial, terutama di wilayah bertitik panas. Bila awan sudah jenuh, hujan diperkirakan turun 1 sampai 3 jam setelah penyemaian. Bila belum, hujan baru turun malam hari.

Fais menyebut bahan semai telah diuji dampak lingkungannya dan dampaknya dinilai tidak signifikan karena jumlah garam relatif kecil dibanding volume air awan.

Sebaran titik panas di tiga kabupaten

Data BPBD Papua Barat mencatat 1.294 titik panas per Kamis, 1 Oktober 2026. Terbanyak ada di Fakfak dengan 659 titik.

BMKG Rendani memantau 268 hotspot pada Sabtu, 10 Oktober 2026: 245 berkepercayaan sedang, 19 tinggi, dan 4 rendah. Sebaran terbanyak di Kaimana, Fakfak, dan Teluk Bintuni. Menurut Fire Weather Index Minggu, 11 Oktober 2026, seluruh wilayah Teluk Bintuni dan Fakfak berstatus Sangat Tinggi (merah). Pada Senin, 12 Oktober 2026, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama, menyebut ada 201 titik api di Papua Barat.

Kebakaran di Fakfak sulit dipadamkan karena sebagian lahan berupa alang-alang dan sebagian gambut. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Papua Barat, Danang Tri Soesilo, mengatakan pemadaman darat terkendala personel, peralatan, dan akses lokasi.

Jadwal mundur dari 12 Oktober

OMC semula dijadwalkan mulai Senin, 12 Oktober 2026. Rencana itu tertunda karena pesawat berisi logistik dari Jakarta tidak bisa mendarat akibat kabut asap, dan penerbangan dibatalkan. Menurut Cipta Utama, pesawat dan tim petugas sudah berada di Manokwari saat itu, tinggal menunggu logistik.

Pada Senin, 12 Oktober 2026, Cipta Utama menyebut OMC dipusatkan di Fakfak, Kaimana, dan Bintuni, dengan kecenderungan ke Fakfak dan Bintuni. Menurutnya, Manokwari tidak disasar karena titik apinya tak banyak. Pada Rabu, 14 Oktober 2026, Gubernur menyebut Manokwari dan sekitarnya masih mungkin disasar.

Pembiayaan melibatkan BP LNG Tangguh dan Genting Oil Kasuri, dikoordinasikan dengan SKK Migas. Gubernur menyebut dukungan pembiayaan dari BP, SKK Migas, dan Pemprov Papua Barat. Pada rapat Rabu, 7 Oktober 2026, Wakil Gubernur Mohamad Lakotani menyebut pemerintah daerah memiliki keterbatasan fiskal sehingga membutuhkan dukungan kedua perusahaan itu.

Cipta Utama menegaskan OMC bertujuan mengurangi asap, bukan menghilangkannya, karena sumber asap berasal dari banyak wilayah. Mandacan menyebut sebagian asap terbawa angin dari Papua Selatan dan Papua Tengah. Harapan gubernur untuk operasi ini: “Kami berharap langkah ini dapat menghilangkan kabut asap sehingga seluruh aktivitas masyarakat, khususnya sektor penerbangan, dapat kembali normal.”

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya