Aturan ganjil genap BBM Bali diperpanjang hingga Jumat, 23 Oktober 2026, ketika cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Terminal Sanggaran, Denpasar, hanya cukup untuk empat hingga lima hari. Terminal Manggis, sebaliknya, menyimpan stok untuk lebih dari 11 hari.
Gubernur Bali Wayan Koster mengumumkan perpanjangan itu pada Senin, 19 Oktober 2026 siang. Ia menyampaikannya di Depo BBM Sanggaran seusai rapat koordinasi tertutup dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, direksi Pertamina, serta jajaran TNI dan Polri.
Aturan pengisian BBM subsidi berdasarkan nomor polisi itu semula berakhir 19 Oktober. Kini aturan tersebut berlaku lagi mulai Selasa, 20 Oktober, sampai Jumat, 23 Oktober 2026.
“Kami akan memperpanjang pengaturan ganjil-genap sampai Jumat tanggal 23 Oktober,” kata Koster.
Dua terminal dengan cadangan berbeda
Menurut Bahlil, pasokan BBM Bali bertumpu pada dua terminal penyimpanan, Sanggaran dan Manggis. Daya tampung Sanggaran, tempat rapat digelar, lebih kecil daripada Manggis.
Secara rata-rata, cadangan BBM Bali kini cukup untuk 11 hingga 12 hari. Pemerintah meminta Pertamina menaikkan angka itu menjadi 15 hari. Sebagai pembanding, cadangan Pertalite RON 90 secara nasional berada di kisaran 16 hingga 18 hari, menurut Bahlil.
Berikut perbandingan cadangan BBM yang disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Depo Sanggaran.
| Cakupan | Cadangan (hari) |
|---|---|
| Terminal Sanggaran | 4–5 |
| Terminal Manggis | di atas 11 |
| Rata-rata Bali saat ini | 11–12 |
| Target Bali | 15 |
| Pertalite RON 90 nasional | 16–18 |
| BBM jenis lain nasional | di atas 20 |
Merujuk paparan Menteri ESDM dalam rapat, Koster menyebut persediaan di Bali saat ini mencakup 30.000 kiloliter Pertalite dan 10.000 kiloliter Pertamax. Menurut dia, ketersediaan stok menjadi faktor utama agar distribusi tetap lancar.
Kapal tambahan dan antrean yang melandai
Gangguan bermula ketika kapal pengangkut BBM dari Jawa terlambat sandar. Akibatnya, cadangan BBM Bali berkurang sekitar tiga hingga empat hari, kata Bahlil.
Bahlil menggolongkan masalah itu sebagai hambatan teknis pada pengelolaan logistik internal Pertamina. Armada yang melayani rute Jawa–Bali kini ditambah dari tiga menjadi tujuh kapal.
“Jadi alhamdulillah, puji Tuhan, untuk di sini sudah bisa teratasi,” ujar Bahlil.
Koster juga menilai pelayanan di SPBU mulai berangsur normal. “Sabtu dan Minggu sampai hari ini, secara umum suplai minyak ke SPBU berjalan dengan lancar dan tidak lagi antrean banyak, bahkan sudah tidak ada antrean di beberapa SPBU,” katanya.
Aturan pelat dan evaluasi sebelum tenggat
Selama masa perpanjangan, SPBU melayani kendaraan pembeli BBM subsidi yang digit akhir pelatnya cocok dengan tanggal ganjil atau genap pada hari pengisian. Koster menyebut perpanjangan ini untuk menjaga kelancaran distribusi dan mencegah antrean muncul kembali.
Sebelumnya, Pemprov Bali juga menerapkan kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara dan pembelajaran daring. Koster mengatakan Pemprov akan terus membantu Pertamina dalam distribusi dan pengawasan di lapangan.
Koster menambahkan, Bali sebagai destinasi wisata internasional membuat gangguan BBM cepat menjadi perhatian dunia. “Jadi, apa yang terjadi di Bali ini menjadi sorotan besar,” ujarnya.
Menurut Koster, aturan ini akan dievaluasi sebelum 23 Oktober bila pasokan sudah stabil. “Kalau sudah bagus sebelum itu, kita akan evaluasi kembali,” katanya.
Tulis Komentar