Senin, 26 Oktober 2026
Bisnis

Arti standalone market yang diusulkan MSCI untuk pasar Indonesia

Standalone market adalah kelas MSCI di luar developed, emerging, dan frontier. Simak bedanya dan alasan MSCI mengusulkan Indonesia masuk kelas ini.

Ilustrasi papan perdagangan saham dengan grafik menurun di bursa efek
MSCI mengusulkan pasar saham Indonesia pindah dari kelas emerging ke standalone market. Ilustrasi dibuat dengan AI. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Standalone market adalah kelas pasar saham yang berada di luar tiga kelompok utama MSCI, yakni developed, emerging, dan frontier. Pasar di kelas ini punya indeks sendiri. Indeks itu tidak masuk ke indeks komposit Emerging Markets maupun Frontier Markets milik MSCI.

Kelas inilah yang kini diusulkan MSCI untuk indeks MSCI Indonesia, menggantikan status Emerging Market. Konsultasi atas usulan itu dibuka pada Kamis, 15 Oktober 2026 waktu New York. Hingga kini, status Indonesia masih Emerging Market dan usulan tersebut belum menjadi keputusan final.

Empat kelas dalam klasifikasi MSCI

MSCI, penyedia indeks saham global, membagi pasar ke dalam tiga kelas utama: pasar maju (developed), pasar berkembang (emerging), dan pasar perintis (frontier). Indonesia selama ini berada di kelas emerging dan menjadi bagian dari MSCI Emerging Markets Index.

Adapun standalone market tidak ditempatkan di salah satu jenjang itu. Argentina masuk kelas ini sejak Kamis, 24 Juni 2021. Jamaika dan Panama juga disebut berada di kelompok yang sama.

Bukan kasta terendah menurut BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) menolak anggapan bahwa kelas ini berada di urutan paling bawah. “Klasifikasi MSCI Standalone Market itu bukan klasifikasi terendah,” kata Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.

Iding menegaskan standalone tidak bisa dibaca sebagai anak tangga keempat setelah frontier. “Itu adalah klasifikasi khusus kalau memang market itu perlu mendapatkan perhatian khusus,” ujarnya.

MSCI punya pertimbangan sendiri soal posisi Indonesia. Lembaga itu menilai pemindahan ke kelas frontier tidak mencerminkan kedalaman masalah pasar Indonesia. Karena itu, usulannya langsung ke kelas standalone tanpa melewati frontier.

Alasan MSCI dan syarat pembatalan

MSCI menyebut dua kekhawatiran utama. Pertama, kurangnya transparansi yang terus berlangsung dalam struktur kepemilikan saham. Kedua, dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi. MSCI belum merinci emiten atau pihak yang diduga terlibat.

MSCI sudah mengangkat kemungkinan penurunan status sejak Januari 2026. Pada April 2026, pemerintah menyatakan reformasi telah rampung. Kini MSCI menyatakan akan melanjutkan reklasifikasi, kecuali konsultasi menemukan bukti jelas perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar.

Selama proses berjalan, MSCI mempertahankan pembekuan atas saham Indonesia di indeksnya. Tidak ada kenaikan Foreign Inclusion Factor maupun jumlah saham. MSCI juga tidak menambah konstituen baru dan tidak memindahkan saham ke segmen ukuran yang lebih besar.

Masukan pelaku pasar diterima hingga Jumat, 30 April 2027. Keputusan diumumkan paling lambat Rabu, 30 Juni 2027. Tanggal penerapannya belum diumumkan.

Reaksi pasar dan pemerintah

Pengumuman itu langsung mengguncang bursa. Pada Jumat, 16 Oktober 2026 sekitar pukul 09.01 WIB, IHSG turun 8,01 persen ke level 5.393,92. BEI lalu menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit. Indeks ditutup di 5.185,105, turun 678,675 poin atau 11,57 persen.

Menurut data BEI, nilai jual bersih investor asing pada hari itu mencapai Rp3,34 triliun. Sejak awal 2026, akumulasinya mencapai Rp88,19 triliun. Kapitalisasi pasar menyusut sekitar Rp1.141 triliun menjadi Rp9.157 triliun.

BEI belum menghitung dampak status standalone market terhadap arus dana asing. “Kita belum memproyeksikan hal tersebut ya,” kata Iding. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bursa akan meminta klarifikasi lebih lanjut kepada MSCI mengenai dasar pertimbangan dan penilaiannya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempersoalkan waktu pengumuman. “Kan sebetulnya mereka menjanjikannya di bulan November, tapi ini di Oktober,” ujarnya di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.

Sekitar sepekan sebelumnya, pejabat pemerintah, BEI, OJK, dan Danantara bertemu pimpinan MSCI di Bangkok. Dalam pertemuan itu, isu standalone tidak dibahas. MSCI hanya menanyakan efektivitas dan penegakan reformasi. “Kenapa sudah ketemu di Thailand kemarin nggak bicara masalah ini? Ini kan ada tanda tanya besar,” kata Airlangga.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai fundamental ekonomi masih terjaga dan basis investor terus tumbuh. “Kami meyakini pasar modal domestik tetap prospektif dan menarik,” katanya.

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya