Senin, 26 Oktober 2026
Bisnis

BBCA ambles 6,86% di hari pertama buyback, IHSG hari ini 4.961

IHSG hari ini, 19 Oktober, dibuka turun 4,31% ke 4.961,88 dan BBCA ambles 6,86% saat buyback dimulai. Simak kenapa IHSG turun dan level support analis.

Layar papan perdagangan saham berwarna merah menunjukkan indeks dan saham bank melemah
IHSG dibuka di 4.961,88 pada 19 Oktober 2026. Saham bank besar memimpin pelemahan. Ilustrasi dibuat dengan AI. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

IHSG hari ini, Senin, 19 Oktober 2026, dibuka di level 4.961,88. Pada saat yang sama, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 6,86% ke Rp4.820. Penurunan itu terjadi pada hari pertama periode buyback atau pembelian kembali saham BCA.

Presiden Komisaris BCA Jahja Setiaatmadja membenarkan rencana buyback pada Senin–Rabu, 19–21 Oktober 2026. “Benar,” ujarnya. Selama tiga hari itu, seluruh karyawan BCA dilarang bertransaksi saham BCA. Larangan ini mengacu pada Pasal 43 POJK Nomor 29 Tahun 2023 tentang pembelian kembali saham oleh perusahaan terbuka.

BCA belum mengungkap jumlah saham yang akan dibeli kembali maupun nilai transaksinya. Program ini disetujui RUPS tahunan pada Kamis, 12 Maret 2026 dan berlaku hingga Kamis, 11 Maret 2027. Sebelumnya, BCA juga melakukan buyback pada April dan Juni 2026.

Manajemen BCA menyatakan buyback ini mencerminkan keyakinan terhadap bisnis perusahaan dan mendukung stabilitas pasar modal. Perusahaan juga menyebut langkah ini tidak berdampak material pada kinerja keuangan.

Saham bank besar ikut tertekan

Tekanan tidak hanya menimpa BCA. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 6,06% ke Rp2.480. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 3,83% ke Rp3.260.

Berikut posisi tiga saham bank besar saat pembukaan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026.

Saham Harga pembukaan 19 Okt (Rp) Perubahan (%)
BBCA 4.820 -6,86
BBRI 2.480 -6,06
BMRI 3.260 -3,83

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, investor asing mencatat jual bersih Rp3,40 triliun di pasar reguler. Mereka membeli Rp9,18 triliun dan menjual Rp12,57 triliun. Di seluruh pasar, jual bersih asing mencapai Rp3,35 triliun.

Indeks LQ45, yang berisi 45 saham unggulan, dibuka turun 5,52% ke 480,50. Saat pembukaan, 542 saham melemah, 80 menguat, dan 133 stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat Rp8.835,757 triliun.

IHSG hari ini bergerak di bawah 5.000

Indeks dibuka turun 223,23 poin atau 4,31% dari penutupan Jumat di 5.185,10. Pukul 09.05 WIB, indeks turun 4,84% ke 4.934,16. Pukul 09.08 WIB, posisinya 4.945,11 atau minus 4,67%. Saat itu, 701 saham melemah dan seluruh sektor berada di zona merah.

Penurunan ini melanjutkan kejatuhan pada 16 Oktober. Hari itu indeks dibuka anjlok 8,01% ke 5.393,92, dan perdagangan dihentikan sementara selama 30 menit. Indeks ditutup turun 11,57% ke 5.185,105 dari 5.863,78 pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dalam sepekan, IHSG turun 14,91%.

Nilai transaksi pada Jumat itu mencapai Rp32,011 triliun, dengan volume 68,61 miliar lembar. Sebanyak 775 saham ditutup melemah dan hanya 10 yang menguat. Pada Senin pagi, rupiah berada di kisaran Rp18.015–Rp18.035 per dolar AS.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut level 4.999 sebagai support. Menurut dia, jika level itu tembus, indeks bisa melemah ke area 4.471. “Selama mampu kembali menembus area 5.326–5.332, IHSG berpeluang rebound menuju resistance 5.631,” ujarnya.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menempatkan support di 5.063 dan 4.962, serta resistance di 5.318 dan 5.607. Menurut Herditya, jebolnya support krusial 5.317 membuat IHSG kini bergerak dalam skenario terburuk menurut pola gelombang yang ia pakai.

Konsultasi MSCI dan respons OJK

Tekanan beruntun ini bermula dari pengumuman MSCI pada Kamis, 15 Oktober 2026 waktu New York. Penyedia indeks global itu membuka konsultasi untuk memindahkan Indonesia dari kategori Emerging Market ke Standalone Market. MSCI menerima masukan hingga Jumat, 30 April 2027 dan akan memutuskan paling lambat Rabu, 30 Juni 2027.

MSCI menyebut kekhawatiran investor meningkat karena struktur kepemilikan saham belum jelas dan ada dugaan perdagangan terkoordinasi. Lembaga itu menilai langkah reformasi otoritas Indonesia baru akan berarti bila diterapkan terus-menerus dan hasilnya terbukti nyata dalam jangka panjang.

Dalam siaran pers Jumat, 16 Oktober 2026, OJK menyebut MSCI mengakui sejumlah reformasi. Di antaranya publikasi kepemilikan saham di atas 1%, pengumuman High Shareholding Concentration, dan kenaikan batas minimum free float. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyatakan OJK akan terus memperkuat penegakan hukum di pasar modal.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan OJK menghormati pandangan MSCI. “Kami meyakini pasar modal domestik tetap prospektif dan menarik,” kata Friderica.

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya