Ada tiga keterangan resmi soal pesawat Asian One Air tergelincir di Bandara Bilorai, Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah, pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dan jumlah korban luka di ketiganya berbeda. Kapolres Intan Jaya menyebut dua prajurit TNI terluka. Dalam keterangan lain, ia menyebut hanya satu penumpang lecet. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan semua orang di dalam pesawat selamat tanpa cedera.
Pesawat Caravan PK-LTF itu mendarat pada pagi hari membawa delapan penumpang dan dua awak. Polisi dan Kemenhub sama-sama memastikan tidak ada korban jiwa. Penyebab kejadian masih diselidiki, termasuk dugaan ban kiri lepas berdasarkan pengakuan pilot.
Polres dan Kemenhub beda soal korban dan posisi pesawat
Kapolres Intan Jaya Kompol Sofian Corneles A. Samakori membenarkan kejadian itu. “Benar. Tadi pagi ada pesawat tergelincir. Tidak ada korban jiwa. Tapi ada dua orang dilaporkan terluka,” katanya.
Menurut Sofian, korban luka adalah Serka Matheus, yang terluka di pinggang, dan Koptu Johar, yang kepalanya terluka akibat benturan. Ia menyebut pilot membelokkan pesawat ke kiri hingga masuk ke area rawa di sisi landasan.
Dalam keterangan lain kepada wartawan, Sofian menyebut hanya satu orang luka ringan. “Satu (penumpang) saja yang luka-luka lecet, tapi pada umumnya semua kondisi pilot, kopilot, dan para penumpang yang delapan orang semua dalam keadaan selamat,” ujarnya. Dalam keterangan ini, pesawat disebut menabrak dinding bukit di samping bandara.
Kemenhub memberi versi ketiga. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan delapan penumpang dan dua awak selamat tanpa cedera. Menurut Kemenhub, pesawat berhenti di area rerumputan dan roda utamanya rusak.
Berikut perbandingan keterangan Polres Intan Jaya dan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub.
| Hal | Kapolres (keterangan pertama) | Kapolres (keterangan lain) | Kemenhub |
|---|---|---|---|
| Korban luka | Dua anggota TNI terluka | Satu penumpang luka lecet | Seluruh penumpang dan awak selamat tanpa cedera |
| Posisi akhir pesawat | Area rawa di sisi landasan | Menabrak dinding bukit di samping bandara | Area rerumputan |
| Kondisi roda | Ban terlepas, menurut pengakuan pilot | Ban sebelah kiri lepas | Roda utama rusak |
Waktu mendarat juga sedikit berbeda. Polres menyebut sekitar pukul 08.30 WIT. Kemenhub mencatat pesawat lepas landas dari Timika pukul 07.40 WIT dan mendarat di Sugapa pukul 08.38 WIT.
Dugaan ban kiri lepas dari pengakuan pilot
Dugaan penyebab kejadian itu berasal dari keterangan awal yang dihimpun polisi. Sofian mengatakan, pilot mengaku kaget ketika ban terlepas begitu roda menyentuh landasan. Para penumpang pun mengaku mendengar bunyi dan merasakan hentakan dari bagian bawah pesawat sesaat sebelum mendarat.
“Tergelincir, bannya lepas, ban sebelah kiri itu lepas. Pada saat dia landing, ban sebelah kirinya itu terlepas,” kata Sofian. Menurut polisi, tidak ada tanda peringatan di dalam pesawat sebelum kejadian.
Kemenhub tidak menyebut ban lepas. Menurut Kemenhub, pesawat mendarat dengan normal di landasan pacu 09. Begitu roda menyentuh landasan, pesawat tiba-tiba melebar ke kiri lalu keluar dari jalurnya.
Siapa saja penumpang pesawat PK-LTF
Menurut Kemenhub, pesawat perintis ini melayani rute Timika–Sugapa. Sofian menyebut pilotnya Captain Riza, didampingi kopilot Captain Andi.
Separuh penumpangnya aparat. “Jadi penumpang pesawat ini ada tiga anggota Koramil 1718/Sugapa, satu anggota Polres Intan Jaya, dan empat lainnya masyarakat sipil,” kata Sofian. Polisi, petugas bandara, dan warga mengevakuasi pilot, kopilot, dan seluruh penumpang dari pesawat.
Penyelidikan Polres Intan Jaya dan langkah Kemenhub
Setelah menerima laporan, Polres Intan Jaya mengirim anggotanya ke bandara untuk memeriksa tempat kejadian dan menjaga lokasi. “Sampai saat ini, kami masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab insiden tergelincirnya pesawat tersebut, termasuk adanya informasi ban pesawat yang dikabarkan lepas ketika hendak melakukan pendaratan,” kata Sofian.
Di pihak Kemenhub, Ditjen Perhubungan Udara melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara berkoordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke untuk penanganan di lokasi. Kemenhub juga meminta data teknis pesawat dari manajemen PT Asian One Air.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh penumpang dan awak pesawat serta melakukan penanganan awal sesuai prosedur,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa. Ia menambahkan, “Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan guna mengetahui penyebab kejadian ini.”
Tulis Komentar