Senin, 26 Oktober 2026
Kesehatan

Santri Keracunan Deli Serdang Jadi 40, Biaya Berobat Belum Jelas

Santri keracunan Deli Serdang bertambah jadi 40 orang, semua di RS Haji Medan. Pesantren menuntut Pemkab menanggung biaya, hasil uji sampel belum ada.

Ilustrasi ranjang perawatan dan infus di bangsal rumah sakit untuk santri korban dugaan keracunan nasi bungkus di Deli Serdang
Ilustrasi perawatan korban dugaan keracunan nasi bungkus seusai peringatan Hari Santri di Deli Serdang. Sumber foto: klikmetro.com. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Korban santri keracunan Deli Serdang bertambah menjadi 40 orang pada Sabtu (24/10/2026). Namun, siapa yang menanggung biaya pengobatan mereka belum jelas. Pihak pesantren menuntut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang membayar seluruh biaya karena nasi bungkus yang diduga menjadi penyebab berasal dari Pemkab.

Korban terdiri atas 35 santri dan 5 guru Pondok Pesantren Mazilah Darussalam di Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan. Mereka menyantap nasi bungkus yang dibagikan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab seusai peringatan Hari Santri Nasional tingkat Provinsi Sumatera Utara. Acara itu digelar di Alun-alun Pemkab Deli Serdang, Lubuk Pakam, pada Kamis (22/10/2026).

Kepala Bagian Kesra Pemkab Deli Serdang, Gento Herlambang, membenarkan penambahan korban. Menurut dia, semua korban kini dipusatkan di RS Haji Medan.

Tuntutan Biaya ke Pemkab

Pimpinan Ponpes Mazilah Darussalam, Muhammad Fahrul Yusuf, mengatakan sebagian korban terpaksa berobat lewat jalur pasien umum pada awal penanganan. Ia meminta biaya itu diganti Pemkab.

“Pengobatan yang di awal kita pakai jalur umum, itu harus menjadi tanggung jawab Pemkab. Kalau tidak, saya akan melayangkan protes keras,” kata Fahrul.

Fahrul menyebut, hingga Sabtu, Pemkab baru mengirim perwakilan untuk menjenguk korban. Kepastian soal santunan ataupun bantuan dana belum ia terima. “Jangan hanya sebatas datang melihat saja,” ujarnya.

Keterangan berbeda disampaikan Ustaz Darul dari pesantren yang sama. Ia menyebut panitia dari Pemkab sudah hadir dan bertanggung jawab membantu membayar biaya rumah sakit. Karena itu, ia mengaku tidak mau menyalahkan siapa pun. Namun, Darul juga meminta Pemkab tidak lepas tangan karena makanan itu disediakan dalam kegiatan resmi pemerintah.

Korban Bertambah Delapan dalam Sehari

Pada Jumat (23/10/2026), korban yang dirawat tercatat 32 orang. Esok harinya, delapan santri lain mengalami gejala serupa, yaitu mual, muntah, dan sakit perut. “Hari ini ada 8 anak lagi yang mengalami gejala keracunan,” kata Fahrul.

Berikut perkembangan jumlah korban menurut keterangan pimpinan pesantren dan Bagian Kesra Pemkab Deli Serdang.

Waktu Perkembangan Jumlah korban
Jumat, 23 Oktober 2026 Korban dirawat di klinik dan rumah sakit 32 orang
Sabtu, 24 Oktober 2026, sekitar 06.30 WIB Korban baru dibawa ke Klinik Sufi Sehat 4 orang
Sabtu, 24 Oktober 2026, sekitar 12.00 WIB Korban baru menyusul 4 orang
Sabtu, 24 Oktober 2026 Total, semua dipusatkan di RS Haji Medan 40 orang (35 santri, 5 guru)

Gento mengaku menerima kabar korban baru dari Kementerian Agama. “Tadi pagi tambah 4 orang, saya sudah dapat informasinya dari orang Kemenag,” katanya. Ia menambahkan, “Untuk penambahan 4 orang lagi pada siang ini, kami belum mengetahui secara detail.”

Angka dari pihak lain berbeda. Dalam keterangan terpisah, Fahrul menyebut 38 santri dan santriwati harus dibawa ke RS Haji Medan. Direktur RS Haji Medan, dr. Yulinda Evi Nasution, menyebut sekitar 30 santri sudah dirawat hingga Sabtu siang. Semuanya sedang diobservasi. Pasien yang membaik bisa rawat jalan, sedangkan beberapa santri harus rawat inap.

Hasil Uji Sampel Belum Diumumkan

Pihak pesantren menduga lauk ikan nila yang berlendir menjadi penyebab keracunan. Pesantren menerima 55 bungkus nasi, satu untuk setiap anggota rombongan yang hadir. Menurut Ustaz Darul, panitia membagikan empat jenis menu.

“Jenis makan siangnya ada empat. Yang pertama nasi kotak dengan lauk daging. Kedua nasi bungkus dengan lauk ikan ayam, ketiga nasi bungkus ikan nila yang bagus dan keempat nasi bungkus ikan nila sudah mulai berlendir dan bau,” kata Darul.

Ia menyebut rombongannya mendapat jatah jenis keempat. Fahrul juga menilai nasi itulah pemicunya. “Nasi berlendir inilah yang membuat anak-anak sakit,” ujarnya.

Dugaan itu belum dikonfirmasi pihak berwenang. Hingga Sabtu (24/10/2026) malam, belum ada hasil uji laboratorium sampel makanan maupun keterangan resmi Dinas Kesehatan Deli Serdang dan kepolisian yang dipublikasikan.

Dirujuk ke RS Haji, Bukan RSUD Amri Tambunan

Gejala mulai dirasakan para santri sejak Kamis (22/10/2026) malam hingga Jumat (23/10/2026) dini hari. Humas Klinik Supi Sehat, Sri Astuti, menyebut 27 santri dibawa ke klinik itu sekitar pukul 05.00 WIB.

Anggota DPRD Deli Serdang dari Fraksi Gerindra, Muhammad Dahnil Ginting, kemudian meminta para santri dirujuk ke RS Haji Medan karena peralatannya lebih lengkap. Ia juga menyayangkan para santri tidak langsung dibawa ke RS Amri Tambunan, rumah sakit milik Pemkab Deli Serdang.

Dahnil meminta maaf kepada para korban atas nama Partai Gerindra Deli Serdang. Ia juga meminta Pemkab lebih cermat menyiapkan konsumsi untuk acara besar supaya keracunan serupa tidak terjadi lagi.

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya