Senin, 26 Oktober 2026
Kesehatan

Dry ice Kalteng untuk bandara dulu, empat kabupaten menunggu

Dry ice Kalteng diprioritaskan untuk membuka Bandara Tjilik Riwut, sementara Gunung Mas, Barito Selatan, Murung Raya, dan Kotim menunggu hasil uji coba.

Ilustrasi kabut asap tebal menyelimuti landasan bandara dan hutan gambut di Kalimantan Tengah
Kabut asap karhutla mengganggu jarak pandang di bandara-bandara Kalimantan Tengah. Sumber foto: beritasampit.com. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Uji coba dry ice Kalteng akan dimulai dari Palangka Raya dengan sasaran pertama membuka Bandara Tjilik Riwut. Padahal pada Minggu pagi, 18 Oktober 2026, empat stasiun pemantau di luar ibu kota provinsi juga mencatat udara berkategori berbahaya. Menurut Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, operasi baru akan digeser ke kabupaten lain jika uji coba di Palangka Raya terbukti efektif.

Dashboard ISPU Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pukul 06.38 WIB menampilkan Gunung Mas di angka 537. Stasiun Sanggu di Barito Selatan mencatat 530. Pencemar dominan di kedua stasiun itu PM10.

Murung Raya mencatat 392 dan Kotawaringin Timur 333, dengan PM2.5 sebagai pencemar dominan. Keempat angka itu sudah melampaui ambang kategori berbahaya, yang berlaku mulai indeks 301.

Angka tertinggi muncul di stasiun Jekan Raya, Palangka Raya, yaitu 4.099 dengan parameter PM10. Kelima stasiun Kalteng itu masuk daftar sepuluh ISPU tertinggi nasional pada jam yang sama. Angka ISPU adalah nilai indeks, tidak sama dengan kadar partikel per meter kubik udara, dan hasil satu stasiun tidak menggambarkan kondisi seluruh kabupaten atau kota.

Bandara jadi sasaran pertama

Raja Juli mengumumkan rencana itu saat meninjau penanganan karhutla di Sampit, Kotawaringin Timur, pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Ia singgah di sana dalam perjalanan dari Pangkalan Bun menuju Palangka Raya.

“Alhamdulillah sudah ditemukan supplier-nya di Kalimantan dan insya Allah mulai besok siang barangnya sudah sampai. Operasi dry ice-nya akan dimulai ke arah Palangka Raya untuk membuka dulu (Bandara) Tjilik Riwut sehingga heli water bombing kita bisa bekerja,” kata Raja Juli.

Dengan begitu, pasokan dry ice dijadwalkan tiba pada Minggu siang, 18 Oktober 2026. Menurut Raja Juli, helikopter water bombing baru bisa bekerja setelah Tjilik Riwut terbuka. Operasi udara semacam itu sangat ditentukan oleh keadaan cuaca dan seberapa jauh jarak pandang di sekitar titik operasi.

Biaya uji coba ditanggung Kementerian Kehutanan, dengan TNI dan BNPB sebagai mitra. Besaran anggaran dan banyaknya dry ice yang akan disemai belum disebutkan. Es kering atau karbon dioksida beku itu dipakai untuk menyemai awan guna menekan kabut asap; sasarannya bukan langsung mematikan api.

Syarat sebelum diperluas ke kabupaten

Raja Juli mengakui metode ini masih baru. “Karena ini adalah suatu hal yang baru, kita akan try and error, kita coba,” ujarnya. Ia menyebut hasil di Palangka Raya akan dievaluasi lebih dulu sebelum operasi diperluas.

“Kalau seandainya nanti efektif, kita geser terus ke kabupaten-kabupaten lain,” kata Raja Juli.

Raja Juli juga merujuk uji coba dry ice di Sumatera Selatan. Berdasarkan laporan Gubernur Sumatera Selatan yang ia terima, jarak pandang di sana meningkat dari sekitar 300 meter menjadi 2.800 meter, sedangkan angka PM2.5 dilaporkan turun dari 660 menjadi 200.

Namun, Raja Juli menegaskan perubahan itu belum dapat sepenuhnya dikaitkan dengan dry ice karena BMKG masih akan mengevaluasi kemungkinan peran faktor lain. Ia juga menyampaikan informasi BMKG bahwa hujan di sejumlah wilayah baru diprediksi datang pada November, dan waktunya tidak sama di setiap daerah.

Angka kabupaten dalam dua hari

Pada Jumat pagi, 16 Oktober 2026, sekitar pukul 07.00 WIB, data stasiun pemantauan otomatis KLH menempatkan Gunung Mas di angka 2.562, Barito Selatan 814, dan Kotawaringin Timur 374. Palangka Raya saat itu mencatat 4.190.

Pada Minggu pagi, 18 Oktober 2026, Gunung Mas turun ke 537, Barito Selatan ke 530, dan Kotawaringin Timur ke 333. Ketiganya tetap berkategori berbahaya, sedangkan Palangka Raya masih di angka 4.099.

Saat Raja Juli singgah di Sampit, Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor memaparkan situasi kebakaran di wilayahnya, termasuk jumlah petugas dan alat pemadam yang tersedia serta sulitnya mendapatkan air di lokasi. Sebelumnya, Bandara Haji Asan di Sampit juga mengalami gangguan penerbangan karena jarak pandang menurun.

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya