Jumlah korban dugaan keracunan MBG Cirebon bertambah cepat dalam hitungan jam pada Selasa, 20 Oktober 2026. Sore harinya, seorang petugas keamanan RS Siloam Putera Bahagia menyebut sedikitnya 50 anak ditangani di IGD. Data sementara pukul 21.00 WIB mencatat 106 orang dirawat di delapan rumah sakit di Kota Cirebon.
Korbannya siswa TK hingga SD serta guru dari sekolah-sekolah di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti. Mereka mengeluh mual, muntah, dan diare setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Makanan itu dipasok satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kalijaga. Penyebab pastinya belum diketahui karena hasil uji laboratorium belum keluar.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo memastikan tidak ada pasien dalam kondisi kritis. Ia menyampaikannya dalam konferensi pers bersama Forkopimda di RS Siloam Putera Bahagia, Selasa malam, 20 Oktober 2026.
“Alhamdulillah tidak ada yang kritis, karena penanganan rumah sakit sangat cepat. Sudah ada yang pulang,” kata Edo.
Angka korban terus berubah karena pasien masih berdatangan. Tabel berikut merangkum angka dari petugas rumah sakit, konferensi pers Wali Kota, dan data sementara pukul 21.00 WIB.
| Tahap laporan | Jumlah korban | Rumah sakit |
|---|---|---|
| Selasa sore, petugas keamanan RS Siloam Putera Bahagia | Sedikitnya 50 anak | RS Siloam Putera Bahagia |
| Pukul 20.00 WIB, konferensi pers Wali Kota | Sekitar 100 orang | 4 rumah sakit |
| Data sementara pukul 21.00 WIB | 106 orang | 8 rumah sakit |
Pasien Baru Dibawa ke Rumah Sakit Lain
Hingga pukul 18.31 WIB, korban masih terus tiba di IGD RS Siloam Putera Bahagia di kawasan Perumnas. Tujuh ambulans bersiaga di depan rumah sakit, dan pasien yang baru datang dibawa ke rumah sakit lain. Pihak di lokasi yang tidak disebut namanya mengatakan IGD sudah penuh.
Donny Armando, orang tua siswa SD Kalijaga Permai, menggambarkan padatnya IGD sore itu. “Wah, 50 ke atas kali ya, karena di depan sini aja sudah banyak, di lorong sebelah sana juga ada,” ujarnya.
Beberapa rumah sakit yang merawat korban adalah RS Siloam Putera Bahagia, RS Gunung Jati, RS Cahaya Bunda, RS Ciremai, dan RS Medimas. Pasien terbanyak berada di RS Siloam Putera Bahagia. RS Gunung Jati merawat 14 orang dan RS Medimas 3 orang. Jumlah pasien di rumah sakit lain belum dirinci.
Edo mengatakan Pemkot Cirebon sudah berkoordinasi dengan rumah sakit agar pasien cepat ditangani. Perkembangan kondisi korban juga terus dipantau pemkot bersama dokter dan perawat.
Biaya Ditanggung BGN, SPPG Dihentikan
Keluarga korban dugaan keracunan MBG Cirebon tidak dibebani biaya perawatan. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon, Yulian Septa Pratama, menyatakan biaya itu ditanggung Badan Gizi Nasional (BGN).
“Seluruh anak-anak terdampak sudah mendapatkan perawatan di 4 rumah sakit,” kata Yulian.
KPPG Cirebon juga menghentikan sementara operasional SPPG pemasok mulai Selasa malam, 20 Oktober 2026. Penghentian berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan. Sanksi lanjutan bagi dapur itu belum diputuskan.
Pemkot Cirebon sudah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. “Hasil pemeriksaan itu akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan,” kata Edo.
Gejala Muncul Beberapa Jam setelah Makan
Sekolah yang disebut terdampak dugaan keracunan MBG Cirebon adalah SD Kalijaga Permai, SDN Kalijaga, dan TK Teratai. Seorang petugas keamanan RS Siloam menyebut ada empat sekolah, termasuk Sekolah Harapan Bangsa. Seorang guru SD Kalijaga Permai juga tercatat dalam daftar sementara korban.
Menurut Donny, siswa biasanya menyantap menu MBG saat jam istirahat sekitar pukul 09.00 WIB. Keluhan rata-rata muncul setelah pukul 15.00 WIB.
“Anak saya pulang sekolah jam 12 masih normal, cuma jam 3-an sudah mulai muntah-muntah,” kata Donny.
Donny mengatakan menu hari itu sayur sop dengan telur puyuh. “Menurut pengakuan anak itu, sayurnya sudah bau,” ujarnya.
Agus Bachtiar, orang tua siswa lain, mendapat kabar anaknya muntah sekitar pukul 15.45 WIB. Saat ditanya, anaknya menyebut telur di menu MBG terasa asam. Agus lalu menelepon guru dan mendapat kabar banyak siswa SD mengalami keluhan serupa.
Agus meminta SPPG yang memasok makanan ke sekolah-sekolah itu ikut bertanggung jawab. Ia juga ingin telur puyuh yang dibagikan hari itu ditelusuri. “Anak saya asem. Anak yang lain juga asem,” katanya.
Tulis Komentar