Senin, 26 Oktober 2026
Mancanegara

Pembatasan Starlink Ukraina, Musk tunjuk presiden, Trump bantah

Pembatasan Starlink Ukraina belum jelas asalnya. Musk menunjuk militer AS dan presiden, Trump membantah, pejabat AS menyebut perintah dari Gedung Putih.

Ilustrasi terminal satelit militer di medan perang dengan satelit di langit malam
Pembatasan layanan Starshield, versi militer Starlink, mengganggu misi drone Ukraina sejak 14 Oktober 2026. Ilustrasi dibuat dengan AI. (Foto: Istimewa/Infonesiaku.id)

Belum ada pihak di Washington yang mengaku memerintahkan pembatasan Starlink Ukraina yang berlaku sejak Rabu, 14 Oktober 2026. CEO SpaceX Elon Musk menyebut keputusan itu ada di tangan militer Amerika Serikat dan presiden. Presiden AS Donald Trump membantah terlibat.

Kepada wartawan pada Jumat, 16 Oktober 2026, Trump menyangkal pernah memberi perintah. “Saya tidak tahu apakah ada orang yang melakukannya, karena itu bukan saya. Dan saya kira itu bukan Elon,” kata Trump. Ia menambahkan, pengecekan yang ia lakukan pagi itu tidak menemukan masalah pada layanan.

Pembatasan menyasar Starshield, versi militer Starlink yang dipakai angkatan bersenjata Ukraina untuk komunikasi medan tempur dan pemanduan drone. Sejak Rabu, 14 Oktober 2026 dini hari, terminal Starshield terputus bila dipasang pada benda yang bergerak lebih cepat dari sekitar 160 km/jam.

Tiga versi soal asal perintah

Lewat unggahan di X pada Rabu, 14 Oktober 2026, Musk menegaskan Starshield dimiliki dan dikendalikan pemerintah AS. “Setiap batasan kecepatan atau pemakaian diputuskan militer AS dan pada akhirnya presiden,” tulisnya.

Tiga pejabat yang enggan disebut namanya memberi keterangan lain pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dua orang merupakan pejabat AS, satu lagi pejabat negara Barat. Mereka menunjuk Gedung Putih sebagai asal pesan agar Starshield untuk militer Ukraina diperlambat, dan pesan itu diterima pucuk pimpinan Departemen Pertahanan AS. Ketiganya tidak menyebut nama orang yang memutuskan maupun yang menjalankan perintah.

Seorang pejabat senior AS membantah keterlibatan presiden. “Permintaan semacam itu tidak pernah dibuat oleh presiden,” ujarnya. Gedung Putih tidak menjawab pertanyaan apakah pejabat lain yang mengajukan permintaan itu. SpaceX dan Departemen Pertahanan AS juga tidak menanggapi permintaan komentar.

Pentagon adalah pembeli terbesar Starshield dan sudah mengucurkan miliaran dolar untuk layanan Starlink serta Starshield. Starshield sendiri merupakan turunan Starlink yang dirancang khusus untuk keperluan pertahanan dan instansi negara.

Dampak di medan tempur

Penasihat Presiden Ukraina bidang teknologi militer Serhii Beskrestnov mengatakan lewat Telegram pada Rabu, 14 Oktober 2026 bahwa pasukan Ukraina tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya. “Pasukan pertahanan kami tidak menerima peringatan tentang pembatasan ini dan ini menyebabkan terganggunya beberapa misi,” tulisnya.

Menurut pejabat Ukraina, gangguan itu mempersulit misi serangan terhadap pasukan dan logistik Rusia di wilayah pendudukan, serta memperlambat drone pencegat yang bertugas menjatuhkan drone Shahed. Satu sumber Ukraina menyebut drone bermesin jet Rusia baru bisa dilawan efektif dengan kecepatan operasi minimal 450 km/jam.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menilai pembatasan itu disengaja karena terjadi sekitar pukul 01.00, saat Rusia melancarkan gelombang serangan rudal dan drone. “Orang-orang meninggal karena keputusannya,” kata Zelenskyy dalam wawancara pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Pejabat Ukraina menduga pembatasan itu berkaitan dengan desakan Washington agar Kyiv berhenti menyerang kilang minyak Rusia. Kaitan keduanya belum terbukti.

Layanan belum pulih penuh

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Ukraina mengatakan pada Kamis, 15 Oktober 2026 bahwa terminal kembali berfungsi saat bergerak, tetapi hanya sampai kecepatan 160 km/jam. Dalam KTT Uni Eropa di Brussel pada Jumat, 16 Oktober 2026, Zelenskyy menyebut layanan masih dalam proses pemulihan. Ia menyebut gangguan itu sebagai kejutan yang sangat tidak menyenangkan dan berbahaya.

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas mengakui Eropa belum memiliki pengganti. “Starlink benar-benar diperlukan Ukraina dan sayangnya dalam jangka pendek Eropa tidak bisa menggantikan kemampuan ini,” kata Kallas.

Komentar Pembaca

Komentar dimoderasi redaksi

Tulis Komentar

Komentar dimoderasi redaksi sebelum tampil. Gunakan bahasa yang santun.

Rekomendasi Untuk Anda

Indeks Selengkapnya