Koalisi pimpinan Saudi menyatakan rudal Houthi ke Riyadh berhasil dicegat dan dihancurkan pada 13 Oktober 2026. Pengumuman itu muncul tiga hari setelah satu proyektil menghantam Bandara Internasional King Khalid dan tidak berhasil dicegat. Sejumlah pejabat Saudi yang tidak disebut namanya mengklaim kerajaan kekurangan rudal pencegat.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menulis di akun X bahwa sebuah rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi ke arah Riyadh telah dihancurkan di udara. Pada waktu yang sama, warga ibu kota menerima pesan singkat tentang ancaman dari udara dan diminta berlindung. Beberapa dentuman terdengar di kota itu.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya menembakkan rudal balistik ke Bandara King Khalid dan mengenai sasaran dengan “tepat”. Ia juga mengklaim sebuah drone menyasar pangkalan udara Khamis Mushait. Otoritas Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Dicegat berulang, satu lolos
Koalisi mengaku mencegat rudal menuju bandara Riyadh pada 18 September 2026. Sehari kemudian, 19 September 2026, terjadi serangan pertama ke Riyadh sejak eskalasi Juli. Koalisi menyebut satu rudal balistik dicegat, sementara asap hitam terlihat dari area tangki bahan bakar dekat bandara. Juru bicara koalisi saat itu menyebut Riyadh dihuni lebih dari 8 juta orang.
Pada Kamis, 8 Oktober 2026, koalisi menyatakan mencegat dua rudal menuju Riyadh dan satu menuju Khamis Mushait. Pertahanan Sipil Saudi melaporkan puing rudal yang dicegat merusak sebuah taman kanak-kanak dan kompleks klinik medis di Riyadh.
Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, serangan ke Bandara King Khalid menewaskan setidaknya 13 orang dan melukai 309 orang, yang terparah di Saudi dalam lebih dari satu dekade. Proyektil yang menghantam bandara tidak berhasil dicegat, dan jenis senjatanya belum diketahui. Sehari kemudian, serangan lanjutan menewaskan seorang warga Pakistan dan melukai 11 orang.
Bandara tutup, pencegat disebut menipis
Otoritas penerbangan sipil Saudi menutup bandara dengan alasan memastikan keselamatan dan kesiapan operasional fasilitasnya. Pemberitahuan kepada penerbang (NOTAM) menyebut penutupan berlaku setidaknya hingga 17 Oktober 2026. Pada 10 Oktober, tercatat 291 penerbangan dibatalkan dalam 24 jam di bandara tersebut, menurut data FlightAware.
Pejabat Saudi yang tidak disebut namanya mengklaim stok rudal pencegat kerajaan menipis. Menurut klaim itu, baterai pertahanan dipindahkan antarlokasi untuk menjaga istana dan infrastruktur energi.
Pejabat regional yang tidak disebut namanya mengklaim Saudi meminta Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir mengirim dukungan pertahanan udara. Pejabat itu juga mengklaim stok Amerika Serikat menipis akibat perang dengan Iran.
Andreas Krieg dari MENA Analytica di London menyatakan, “even a layered system combining Patriot, THAAD, fighter aircraft and other sensors cannot create an impermeable dome over a country the size of Saudi Arabia.”
Tulis Komentar